Oleh: Mardi Panjaitan *)
Di tengah kompleksitas dunia pendidikan inklusif, ada satu fakta yang tak bisa disangkal: anak dengan gangguan spektrum autisme (GSA) masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Masalah utamanya bukan semata pada keterbatasan anak, melainkan pendekatan kita yang belum sepenuhnya berpihak pada potensi mereka. Di sinilah pendekatan intervensi multisensorik hadir bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai keharusan.
Anak autistik sering kali memiliki tantangan integrasi sensorik—entah itu hipersensitif terhadap suara, takut disentuh, atau cenderung mencari rangsangan berlebihan (stimming). Ini bukan sekadar perilaku menyimpang, tapi ekspresi dari cara otak mereka memproses dunia. Maka mendidik mereka tidak cukup dengan metode verbal dan visual biasa. Diperlukan strategi yang mampu menjangkau cara alami mereka belajar: lewat sensasi.
Pendekatan multisensorik mengintegrasikan berbagai stimulasi seperti cahaya, suara, gerakan, tekstur, dan keseimbangan dalam satu rangkaian pembelajaran yang terstruktur dan bermakna. Bukti-bukti ilmiah sejak era Jean Ayres hingga kajian-kajian kontemporer membuktikan efektivitas metode ini dalam meningkatkan fokus, mengurangi perilaku maladaptif, dan memperbaiki komunikasi sosial anak autistik.
Saya menyaksikan sendiri di SLB Negeri Pembina Provinsi Sumatera Utara, bagaimana anak-anak dengan GSA mulai merespons lebih baik ketika pembelajaran dilakukan dengan sentuhan bola warna, musik tenang, hingga ruang sensorik sederhana. Mereka tersenyum, fokus lebih lama, bahkan mulai mengucapkan kata—hal yang dulunya mustahil.
Namun, tantangannya tidak sedikit. Minimnya alat, kurangnya pelatihan guru, dan ruang terapi yang terbatas sering menjadi penghalang. Tapi bukankah pendidikan yang inklusif menuntut kita untuk kreatif? Bahkan, dengan pasir warna, karton tekstur, dan musik sederhana, kita bisa menciptakan keajaiban multisensorik.
Untuk itu, saya mengajak para pendidik, pemangku kebijakan, dan orang tua untuk berhenti menganggap pendidikan anak autistik sebagai beban. Ini adalah tanggung jawab moral, dan investasi masa depan.
Sudah waktunya pendekatan multisensorik diintegrasikan dalam kurikulum inklusi nasional. Terapis, guru, dan orang tua harus duduk satu meja, merancang intervensi yang bukan hanya efektif di atas kertas, tetapi juga relevan di ruang kelas dan rumah kita.
Karena setiap anak berhak tumbuh dengan bahagia dan bermakna, termasuk mereka yang memproses dunia dengan cara yang berbeda.
Mari kita ubah paradigma: dari sekadar mengajar, menjadi memahami. Dari memberi instruksi, menjadi memberi kesempatan. Dan dari melihat keterbatasan, menuju menumbuhkan potensi.
Multisensorik bukan sekadar metode—ini adalah jembatan menuju dunia yang lebih ramah bagi anak-anak autistik di Indonesia.
*) Penulis adalah Kepala SLB Negeri Pembina dan Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Khusus Universitas Negeri Padang











