Jakarta, Armadaberita.com – Diskusi Inklusi yang diselenggarakan oleh Pendidikan Insan Bestari pada Bulan Aksi Pendidikan Untuk Semua mengangkat pertanyaan kritis, “Apakah bangsa kita sudah inklusif?”. Diskusi ini diadakan di Bunda Berkah Café & Resto, Jakarta pada Rabu (24/4/2024).
Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan mencakup 17 tujuan global tahun 2030, di mana pendidikan berkualitas untuk semua anak adalah salah satunya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak tantangan dalam mewujudkan pendidikan inklusif di Indonesia.
Menurut Jamjam Muzaki SM, Direktur Litbang Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan, sekitar 84% dari 6.002.500 penyandang disabilitas usia sekolah belum mendapatkan hak pendidikan mereka. Meski Pemerintah telah menerbitkan Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, implementasinya masih jauh dari harapan.
Raka Ibrahim, penulis dan kurator independen, mengungkapkan bahwa pemerintah belum sepenuhnya menerapkan budaya inklusif. Contohnya, pemasangan solar cell di pulau dekat Sumbawa tidak disertai dengan panduan dan pelatihan pemeliharaan, sehingga masyarakat setempat menghadapi kesulitan saat perlu mengganti suku cadang.
Dr. Susi Fitri, Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menekankan pentingnya melihat pendidikan dari aspek kultural, bukan hanya teknis. “Perlu lebih banyak antropolog untuk memastikan pendidikan menjadi gerbang dalam menyemai benih-benih budaya inklusi,” ujarnya.
Dalam diskusi ini, berbagai masalah seperti ketersediaan guru pembimbing khusus, sistem penilaian yang belum mendukung, serta keterbatasan sumber belajar dan sarana prasarana menjadi sorotan. Mahasiswa pasca sarjana Bimbingan Konseling UNJ, Mujito, menekankan perlunya aturan rinci terkait Pendidikan Inklusi untuk melindungi satuan pendidikan dan pendidik.
Acara ini diakhiri dengan pernyataan dari Raka Ibrahim yang menyatakan cintanya pada negara ini bertambah saat menyadari keberagaman budaya. “Mencintai negara adalah dengan menghargai dan menghormati perbedaan di antara kita,” katanya.
Diskusi inklusi ini menjadi bagian dari serangkaian dialog yang bertujuan untuk memperkuat komitmen dalam mewujudkan pendidikan inklusif sebagai strategi pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas untuk semua. Diskusi selanjutnya akan melanjutkan obrolan seputar budaya inklusif dan literasi kebangsaan. (Dewa)











