Penutupan TikTok Shop, Nasib Seller dan Affiliate dalam Bahaya

Andreadi Simanjuntak, Mahasiswa Prodi Antropologi Sosial, Universitas Sumatera Utara
Share

Oleh Andreadi Simanjuntak *) 

Penutupan TikTok Shop hanya lima hari setelah pengumumannya telah mengguncang banyak pihak. Banyak yang merasa dirugikan dan merasa bahwa keputusan pemerintah terlalu memberatkan. TikTok, sebagai salah satu platform media sosial yang memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, mengancam profesi seller dan para affiliate setelah penutupannya.

Dalam pandangan banyak orang, penutupan TikTok Shop memiliki dampak buruk, terutama pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Istilah “monopoli perdagangan” menjadi alasan kuat penutupan TikTok Shop dianggap sebagai langkah yang tepat untuk menangani masalah kebangkrutan pedagang langsung yang tidak memiliki opsi lain selain menggunakan e-commerce.

Penutupan TikTok Shop pada 4 Oktober 2023 memicu berbagai pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk para seller dan affiliator. Mereka merasa terjepit dan dirugikan. Meskipun pemerintah berpendapat bahwa mereka dapat beralih ke e-commerce dan platform lain, banyak yang merasa bahwa pemindahan ini tidak akan mudah.

Memulai kembali dari awal di tempat baru bukanlah tugas yang sederhana, dan pemindahan ini pasti akan memiliki tantangan tersendiri karena target pasar mereka berada di TikTok Shop. Sekitar 6 hingga 7 juta UMKM lokal terpaksa menghentikan kegiatan mereka karena penutupan ini yang datang begitu tiba-tiba.

Para seller mungkin akan mencoba berjualan di e-commerce lain, tetapi apakah mereka dapat bertahan dengan cepat? Terlebih lagi, upaya pemerintah untuk menciptakan sosial commerce untuk bersaing dengan toko online lain belum berjalan lancar. Sementara itu, kenyamanan yang diberikan TikTok kepada konsumen, serta promosi oleh affiliator dengan konten yang unik, membuat proses perdagangan di sana terasa lebih menarik dan mudah.

Dukungan ini didukung oleh fakta bahwa TikTok memiliki 99,79 juta pengguna di Indonesia pada Juli 2023, menempatkannya sebagai yang kedua terbesar setelah Amerika Serikat. Rata-rata, pengguna TikTok menghabiskan 23,1 jam per bulan di platform ini, menciptakan pangsa pasar konsumen yang luas dan sulit dijumpai di platform e-commerce lain. Jadi, bagaimana nasib mereka setelah penutupan TikTok Shop? Terutama para affiliator kecil dengan jumlah pengikut yang terbatas, bisakah mereka dengan cepat menemukan target pasar baru di platform lain?

Kepentingan semua pihak harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ini. Keputusan pemerintah dianggap terlalu berat dan tidak memperhatikan semua pihak yang terlibat. Para seller dan affiliator hanya berharap ada solusi yang adil bagi semua, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. (#)

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Prodi Antropologi Sosial, Universitas Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *