Gres, Anak yang Kembali Terlihat

Sekolah Rakyat Memuliakan The Invisible People

Gres, bersandar di salah satu tiang di koridor Sekolah Rakyat Menengah Pertama 1 Deli Serdang, usai menikmati pembagian nutrisi di aula Asrama. (Foto: Dok.ABC)
Share

Oleh: Arvin Syahputra Nasution

Enam bulan lamanya, Gres Enjelina Butarbutar menjadi penonton. Setiap pagi, dari depan rumah sederhana keluarganya di Dusun V Tapian Nauli, Desa Sidoarjo II Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, ia menyaksikan anak-anak seusianya berangkat sekolah. Mereka melintas dengan seragam yang rapi, membawa buku pelajaran dan cerita-cerita baru yang akan mereka dapatkan hari itu.

Sementara Gres tetap berdiri di tempat yang sama. Tak ikut berjalan bersama mereka. Tak ikut memasuki ruang kelas. Tak lagi menjadi bagian dari dunia yang pernah begitu dekat dengan hidupnya.

Kadang ia mencoba tersenyum ketika melihat mereka lewat. Namun setelah jalan kembali sepi, ia masuk ke dalam rumah dan memendam kesedihannya sendiri.

Di dalam hati, hanya ada satu pertanyaan yang terus berulang. “Kapan saya bisa sekolah lagi?”

Pertanyaan itu terus menemani Gres, selama berbulan-bulan.

Gres Butarbutar meraih tas ransel hitamnya yang tergantung di pojok ranjang tidur asrama putri SRMP 1 Deli Serdang. Ia bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Ibu, Kemiskinan, dan Sebuah Keputusan Berat

Nama Gres diberikan oleh ibunya, Herna Sihombing. Sang ibu sebenarnya ingin menamai putri pertamanya Grace, yang berarti anugerah. Namun nama yang kemudian tercatat adalah Gres.

Meski demikian, makna yang disematkan sang ibu tak pernah berubah. Sang ibu percaya anak pertamanya adalah anugerah. Dalam bahasa Inggris, anugerah berarti Grace. Meski akhirnya tertulis “Gres”. Sebuah doa yang lahir dari seorang ibu yang menginginkan kehidupan lebih baik bagi anaknya.

Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai doa yang dipanjatkan. Gres tumbuh dalam keluarga sederhana yang setiap harinya harus berjuang untuk bertahan.

Ayahnya, Ronal Butarbutar, hanya sempat bersekolah hingga kelas dua sekolah dasar. Keterbatasan pendidikan membuat pilihannya mencari nafkah sangat sedikit. Ia bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Mengangkat gabah di kilang padi. Membersihkan kebun. Membabat semak, dan memanen hasil ladang orang lain. Kadang menjadi sopir penjemput gabah hingga ke Toba dan Samosir.

Tidak ada pekerjaan tetap. Tidak ada penghasilan yang pasti. Yang ada hanya keyakinan bahwa keluarganya harus tetap makan hari itu. “Bapak kerja apa saja. Yang penting halal dan kami bisa makan,” kata Gres saat ditemui di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 1 Deli Serdang, Selasa (23/6/2026).

Namun kemiskinan bukan satu-satunya ujian yang harus mereka hadapi. Ibunya mengalami gangguan kesehatan mental sejak lama. Saat obat tersedia dan diminum secara rutin, kondisi Herna membaik. Ia bisa berbincang dengan anak-anaknya, menyiapkan makanan, dan menjalani hari seperti ibu pada umumnya.

Tetapi ketika keadaan ekonomi memburuk dan obat tidak lagi terbeli, penyakit itu kembali datang. Saat itulah seluruh keluarga harus siaga. Pisau disembunyikan. Parang diamankan. Obeng dipindahkan. Korek api dijauhkan.

Mereka khawatir benda-benda itu bisa membahayakan sang ibu maupun dirinya sendiri.

Namun bagi Gres, ibunya tidak pernah didefinisikan oleh penyakit yang dideritanya. Di matanya, Herna tetap ibu yang selalu menanyakan apakah ia sudah makan.

Ibu yang selalu mendengarkan ceritanya. Ibu yang selalu percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kesulitan yang mereka alami. “Walaupun Mama sakit, kamu jangan putus sekolah. Kamu harus sekolah setinggi-tingginya.”

Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga tertanam kuat dalam ingatan Gres. Kalimat yang kemudian menjadi sumber kekuatannya. Sekaligus sumber kesedihan terbesar dalam hidupnya.

Saat duduk di kelas tiga SMP, keadaan keluarga semakin berat. Kondisi ibunya semakin sering kambuh. Penghasilan ayahnya semakin tidak menentu. Di tengah situasi itu, Gres merasa keluarganya membutuhkan dirinya di rumah.

Ia harus membantu menjaga ibunya. Membantu meringankan beban ayahnya. Ia juga tidak ingin adiknya ikut kehilangan kesempatan untuk bersekolah.

Akhirnya, sebuah keputusan berat harus diambil. Gres berhenti sekolah.

Bukan karena malas belajar. Bukan karena tidak memiliki cita-cita. Dan bukan karena menyerah. Ia berhenti karena merasa keadaan memaksanya memilih. “Saya berpikir, bagaimana saya sekolah kalau Mama sakit dan Bapak susah cari uang?” tangisnya.

Keputusan itu membuat sebagian mimpinya seperti runtuh seketika.

Gres Butarbutar duduk di lantai untuk memasang kaos kaki dan sepatu di teras kamar asrama putri SRMP 1 Deli Serdang. Ia bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Ketika Mimpi Mulai Menjauh

Hari-hari setelahnya menjadi masa yang paling sunyi. Setiap pagi ia melihat teman-temannya pergi ke sekolah. Setiap pagi pula ia merasakan harapan yang perlahan hilang dari hidupnya.

Yang paling menyakitkan bukanlah berhenti sekolah. Yang paling menyakitkan adalah merasa bahwa masa depannya semakin jauh.

Bahwa dirinya perlahan tidak lagi terlihat. Tidak lagi diperhitungkan. Tidak lagi memiliki tempat dalam mimpi-mimpi yang dulu begitu dekat. Ia menjadi salah satu anak yang nyaris hilang dari perhatian.

Salah satu dari mereka yang sering tak terdengar suaranya di tengah hiruk-pikuk kehidupan. The Invisible People.

Kesempatan Kedua Bernama Sekolah Rakyat

Harapan datang dari arah yang tidak pernah diduganya. Suatu hari, seorang pendamping Program Keluarga Harapan datang membawa informasi tentang Sekolah Rakyat. Program itu ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang berisiko putus sekolah.

Bagi banyak orang, informasi itu mungkin hanya kabar biasa. Namun bagi Gres, kabar itu seperti hujan yang turun setelah kemarau panjang. Seperti pintu yang kembali terbuka setelah lama tertutup.

Tanpa berpikir panjang, ia ingin mendaftar. Ia ingin kembali sekolah. Ingin kembali belajar, dan ingin kembali memiliki masa depan.

Pagi keberangkatannya menuju SRMP 1 Deli Serdang menjadi salah satu hari paling penting dalam hidupnya.

Ronal mengantar putrinya menggunakan sepeda motor tua yang selama bertahun-tahun menjadi alat mencari nafkah keluarga.

Motor itu pernah membawanya mencari pekerjaan ke berbagai tempat. Pernah membawanya mengangkut gabah. Pernah membawanya menjemput rezeki yang tak selalu pasti. Hari itu, motor yang sama membawa harapan yang jauh lebih berharga.

Di Sekolah Rakyat, Gres mendapatkan kesempatan kedua. Pendidikan yang kembali terbuka. Tempat tinggal yang aman. Makanan yang terjamin. Seragam sekolah. Buku pelajaran. Guru-guru yang mendampingi. Dan lingkungan yang membuatnya kembali percaya pada dirinya sendiri.

Namun, ada satu konsekuensi yang harus ia terima. Karena sempat putus sekolah, ia harus mengulang dari kelas satu. Artinya, beberapa tahun pendidikan yang pernah dijalani harus dimulai kembali dari awal.

Gres tidak menganggapnya sebagai kerugian. “Saya tidak masalah mengulang. Yang penting saya bisa sekolah lagi.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi anak yang pernah kehilangan kesempatan belajar, kalimat itu memiliki arti yang sangat besar.

“Saya Ingin Menyembuhkan Mama”

Gres Butar- butar berdiri di depan teman-temannya saat memimpin ibadah di aula asrama SRMP 1 Deli Serdang. Ibadah bagian dari proses pembentukan karakter di Sekolah Rakyat.

Hari-hari pertama tinggal di asrama ternyata tidak mudah. Setiap malam Gres menangis diam-diam. Ia merindukan rumah. Merindukan ayahnya. Dan terutama merindukan ibunya.

Belum genap seminggu berada di Sekolah Rakyat, telepon dari ayahnya datang.

Ibunya kembali harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Prof. Ildrem.

Kabar itu membuat dadanya sesak. Ia ingin pulang. Ia ingin menemani ibunya. Ia bahkan sempat berpikir untuk meninggalkan sekolah. Namun kemudian ia teringat satu kalimat yang selama ini selalu diucapkan sang ibu. “Walaupun Mama sakit, kamu harus tetap sekolah.”

Malam itu, Gres menangis dalam doa. Ia meminta ibunya diberi kesembuhan. Ia meminta ayahnya diberi kekuatan. Dan ia meminta Tuhan menjaga keluarganya sampai suatu hari nanti ia mampu membantu mereka.

Di Sekolah Rakyat, Gres tidak hanya menemukan ruang kelas. Ia menemukan kembali dirinya. Ia memiliki teman-teman baru. Ia memiliki guru yang mendukungnya. Memiliki kesempatan untuk bermimpi lagi.

Perlahan, kepercayaan dirinya tumbuh. Masa depan yang sempat hilang mulai terlihat kembali. Kini ia memiliki cita-cita yang sederhana sekaligus mengharukan. Ia ingin menjadi dokter.

Bukan untuk menjadi terkenal. Bukan untuk menjadi kaya. Melainkan karena satu alasan yang selalu membuat matanya berkaca-kaca. “Saya ingin menyembuhkan Mama.”

Kalimat itu mengandung seluruh perjalanan hidupnya. Tentang kemiskinan yang ia alami. Tentang pengorbanan yang pernah ia lakukan. Tentang seorang ibu yang tetap mencintainya di tengah pergulatan melawan penyakit. Dan tentang harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Anak yang Tak Terlihat Menemukan Masa Depannya

Anak-anak SRMP 1 Deli Serdang antre saat keluar dari aula, sembari membawa sampah mereka untuk dibuang di tong sampah di depan pintu.

Kisah Gres sesungguhnya adalah kisah ribuan anak Indonesia yang nyaris kehilangan masa depan karena lahir dalam keterbatasan. Anak-anak yang bukan kalah karena kurang cerdas. Bukan kalah karena kurang bekerja keras. Melainkan karena keadaan yang sering kali tidak mereka pilih. Mereka adalah anak-anak yang keberadaannya kerap luput dari perhatian.

Namun melalui Sekolah Rakyat, mereka kembali ditemukan. Kembali diajak bermimpi. Kembali diyakinkan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi vonis seumur hidup. Bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang layak. Setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama. Dan bahwa dari anak-anak yang selama ini nyaris tak terlihat, generasi hebat Indonesia dapat lahir.

Pagi itu, ketika Gres berjalan menuju kelas dengan buku di tangan dan cita-cita di dalam dada, mungkin tidak banyak orang mengetahui berapa banyak air mata yang telah ia lewati untuk sampai ke titik tersebut.

Tidak ada yang melihat malam-malam penuh kecemasan yang dijalani keluarganya. Tidak ada yang melihat seorang ayah yang bekerja apa saja demi membeli beras dan obat. Tidak ada yang melihat seorang ibu yang, di tengah penyakitnya, tetap berjuang menjaga mimpi anaknya.

Tetapi satu hal kini berbeda. Gres tidak lagi berdiri di depan rumah hanya untuk melihat anak-anak lain pergi ke sekolah.

Kini ia berjalan bersama mereka. Membawa harapan yang sama. Menatap masa depan yang sama. Dan membuktikan bahwa ketika negara hadir untuk mereka yang paling rentan, anak-anak yang pernah dianggap tak terlihat pun dapat kembali menemukan cahaya hidupnya.

Karena pada akhirnya, makna terdalam Sekolah Rakyat bukan sekadar membangun ruang belajar. Melainkan mengembalikan hak anak-anak seperti Gres untuk menggapai mimpi dan cita-cita, serta membuatnya percaya bahwa hidup mereka berharga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *