Sofyan Tan Kritik Kesenjangan Target APK dan Anggaran KIP Kuliah, Desak Tambahan Rp5 Triliun

Share

Armadaberita.com, JAKARTA — Upaya pemerintah meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi pada 2026 dinilai belum didukung kebijakan anggaran yang memadai. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, menegaskan bahwa target pemerintah sulit tercapai jika alokasi beasiswa KIP Kuliah tidak ditambah secara signifikan.

Pemerintah menargetkan APK perguruan tinggi naik dari 32,89 pada 2025 menjadi 34,92 pada 2026. Namun, menurut Sofyan Tan, ambisi tersebut tidak sejalan dengan volume penerima KIP Kuliah yang stagnan dari tahun ke tahun.

“Keinginan meningkatkan APK sangat besar, tetapi dukungan beasiswa tidak bertambah. Dari sisi volume, tidak ada perbedaan antara tahun 2025 dan 2026,” ujarnya dalam rapat kerja Komisi X DPR dengan Mendiktisaintek di Gedung DPR RI, Selasa (3/2).

Target Naik, Anggaran Stagnan

Dalam pemaparan sebelumnya, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan bahwa Pagu 2026 untuk KIP Kuliah berada di angka Rp15,3 triliun dengan volume 1.047.221 mahasiswa. Jumlah ini hanya naik tipis dari alokasi 2025 yaitu Rp14,9 triliun dan volume 1.040.192 mahasiswa.

Menurut Sofyan Tan, kondisi tersebut berpotensi menghambat capaian APK nasional, terlebih di tengah situasi ekonomi masyarakat yang masih rapuh. Ia menyinggung tingginya angka pengangguran serta dampak bencana banjir bandang di sejumlah wilayah yang membuat banyak keluarga kehilangan pendapatan.

“Partisipasi kuliah sangat bergantung pada kemampuan orang tua. Kalau pendapatan masyarakat belum pulih dan beasiswa tidak ditambah, bagaimana target bisa tercapai?” ucapnya.

Usul Tambahan Rp5 Triliun

Untuk memperkuat akses pendidikan tinggi bagi keluarga kurang mampu, Sofyan Tan mengusulkan penambahan minimal Rp5 triliun untuk pos KIP Kuliah. Ia meyakini Presiden Prabowo Subianto memiliki perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia.

“Tambahan Rp5 triliun bisa membuat banyak orang tua tersenyum karena anaknya punya peluang lebih besar menjadi sarjana,” katanya.

Ia juga menilai usulan ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan daya saing generasi muda.

Apresiasi dan Catatan untuk Kemendiktisaintek

Di balik kritik tersebut, Sofyan Tan tetap mengapresiasi sejumlah capaian Kemendiktisaintek sepanjang 2025. Ia menilai kementerian bergerak cepat membantu mahasiswa terdampak bencana, serta mencatat percepatan peningkatan jabatan fungsional dosen dan kenaikan jumlah guru besar sebagai langkah positif.

“Realisasi anggaran sebesar 94,83 persen adalah capaian yang baik,” ucapnya.

Meski demikian, ia menyoroti rendahnya serapan anggaran di Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi yang hanya mencapai 63,72 persen. Padahal, pada 2026, direktorat tersebut justru mendapatkan kenaikan anggaran signifikan dari Rp326 miliar menjadi Rp1,082 triliun.

“Kami mempertanyakan apa hambatannya. Termasuk perkembangan megaproyek seperti pembangunan SMA Garuda yang belum tuntas,” katanya.

Harapan Pemerataan Dukungan

Sofyan Tan juga meminta pemerintah mempertimbangkan penyediaan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Swasta (BOPTS) untuk mendukung pemerataan akses pendidikan tinggi di berbagai daerah.

Menanggapi hal itu, Mendiktisaintek menyatakan akan menyampaikan usulan tersebut kepada Presiden dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terkait peluang penambahan anggaran. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *