Statistik Indonesia: Juli 2026 Deflasi 0,14 Persen, Dipicu Turunnya Harga Komoditas Pangan

Share

Jakarta, ArmadaBerita.com – Statistik Indonesia melaporkan pada Juli 2026 terjadi deflasi sebesar 0,14 persen (month-to-month). Sementara itu, secara tahunan (year-on-year) masih terjadi inflasi sebesar 2,88 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,65 persen.

Kepala Statistik Indonesia, Dr. Ateng Hartono, S.E., M.Si., menjelaskan Senin 3/8/2026, bahwa deflasi bulanan terutama dipicu oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama komoditas bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan jeruk. Peningkatan produksi hortikultura di sejumlah daerah sentra, seperti Brebes, Kendal, dan Malang, turut mendorong penurunan harga.

Di sisi lain, kelompok transportasi dan pendidikan menjadi penyumbang inflasi. Kenaikan biaya pendidikan terjadi seiring dimulainya tahun ajaran baru, sedangkan inflasi transportasi dipengaruhi oleh harga bensin secara rata-rata bulanan meski harga BBM nonsubsidi sempat turun pada awal Juli.

Secara wilayah, 11 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 27 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kalimantan Barat sebesar 0,38 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,37 persen.

Statistik Indonesia juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2026 naik 0,15 persen menjadi 127,84. Namun, subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP terdalam akibat merosotnya harga cabai, bawang merah, dan tomat. Sebaliknya, nilai tukar perikanan meningkat didorong naiknya harga rajungan, ikan cakalang, tongkol, dan rumput laut.

Untuk komoditas beras, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,94 persen dibanding bulan sebelumnya dan 5,11 persen dibanding Juli 2025. Kenaikan juga terjadi pada harga beras di tingkat grosir maupun eceran.

Di sektor perdagangan luar negeri, sepanjang Januari–Juni 2026 nilai ekspor Indonesia mencapai US$140,81 miliar, meningkat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Ekspor nonmigas menjadi penyumbang utama dengan nilai US$134,58 miliar, didorong oleh ekspor nikel, produk sawit, dan bahan bakar mineral.

Sementara itu, impor periode Januari–Juni 2026 mencapai US$137,24 miliar atau naik 18,69 persen secara tahunan. Peningkatan terbesar berasal dari impor bahan baku dan barang penolong, terutama bahan bakar mineral serta mesin dan peralatan listrik. (Bakhtiar)

Penulis: Bakhtiar Editor: Bakhtiar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *