Senin pagi yang cerah, 3 Maret 2025, suasana di Kantor Gubernur Sumatera Utara terasa berbeda. Para Aparatur Sipil Negara (ASN) berkumpul dengan penuh antusias, menantikan kehadiran pemimpin baru mereka, Muhammad Bobby Afif Nasution, yang untuk pertama kalinya memasuki kantor sebagai Gubernur Sumut sejak dilantik pada 20 Februari 2025.
Dalam sambutan perdananya, Bobby tak hanya menyampaikan visi kepemimpinannya, tetapi juga memberikan analogi yang menarik—sebuah filosofi dari dunia hewan yang seolah menyiratkan tantangan dan harapan bagi Sumatera Utara ke depan.
“Yang mampu bertahan bukanlah dinosaurus, tapi hewan kecil yang hidup pada masa itu. Kuncinya adalah adaptasi dengan perkembangan zaman dan lingkungan. Oleh karena itu, saya minta semua harus seperti hewan kecil itu—kita sama-sama adaptif, mengikuti perkembangan teknologi dan kepemimpinan,” kata Bobby, didampingi Wakil Gubernur Sumut, Surya.
Analogi ini bukan sekadar perumpamaan tanpa makna. Bobby ingin menekankan bahwa dalam dunia yang terus berubah, kemampuan untuk beradaptasi jauh lebih berharga dibandingkan sekadar kekuatan atau ukuran besar. Dinosaurus, meskipun perkasa, akhirnya punah karena gagal menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Sebaliknya, makhluk-makhluk kecil yang lebih lincah dan fleksibel berhasil bertahan hingga kini.
Bagi Bobby, ASN Pemprov Sumut harus mencontoh filosofi ini. Mereka dituntut untuk tidak kaku, tidak sekadar mengikuti kebiasaan lama, tetapi harus elasti, tahan banting dan siap menghadapi tantangan baru dengan pemikiran yang segar dan inovatif. Era digital, perkembangan teknologi, serta perubahan dalam tata kelola pemerintahan adalah sesuatu yang tak bisa dihindari. Maka, hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri yang akan tetap relevan dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Birokrasi yang Melayani, Bukan Dilayani
Namun, adaptasi saja tidak cukup. Dalam pidato perdananya, Bobby juga menegaskan kembali hakikat utama pemerintahan, yakni melayani masyarakat.
“Kita ini semua adalah pelayan, dan tugasnya melayani. Kalau masyarakat butuh minum, kita harus menyiapkannya. Kalau mereka butuh makan, kita harus memastikan pasokannya. Butuh keamanan dan kenyamanan, kita bertugas menjaminnya,” ujarnya.
Pernyataan ini adalah pengingat bagi seluruh jajaran pemerintah bahwa jabatan bukanlah alat untuk berkuasa, melainkan amanah untuk mengabdi. Di tengah berbagai tantangan seperti inflasi, kenaikan harga pangan menjelang Ramadan, serta masalah sosial lainnya, pemerintah harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar pengamat.
Bobby ingin menghapus paradigma lama bahwa birokrasi berjalan lamban dan berbelit. Baginya, pemerintahan harus lebih responsif, cepat, dan efisien. Jangan ada lagi laporan yang hanya menumpuk di meja tanpa tindakan nyata. Jangan ada lagi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Perang Melawan Narkoba: Visi Besar Menuju Indonesia Emas 2045
Selain reformasi birokrasi, Bobby juga menyoroti persoalan narkoba yang masih menjadi ancaman besar bagi Sumatera Utara. Baginya, jika provinsi ini ingin berkontribusi dalam visi besar Indonesia Emas 2045, maka masalah narkoba harus diberantas habis-habisan.
“Saya minta support dan dukungan penuh untuk memberantas narkoba di Sumut. Ini benar-benar harus kita hilangkan. Pemprov Sumut akan mendukung penuh berbagai gerakan dan gebrakan, serta melakukan tindakan pencegahan yang nyata,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar formalitas. Sumatera Utara selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat peredaran narkoba yang tinggi. Jika tidak ditangani dengan serius, generasi muda akan menjadi korban, dan cita-cita membangun Sumut yang lebih maju bisa kandas di tengah jalan.
Bobby berkomitmen untuk bekerja sama dengan Forkopimda, kepolisian, dan seluruh elemen masyarakat dalam memberantas narkoba. Ia tidak ingin Sumut dikenal sebagai daerah dengan tingkat kejahatan narkotika yang tinggi, melainkan sebagai provinsi yang bersih dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Harapan dan Tantangan di Depan
Sejak awal, kepemimpinan Bobby Nasution sudah menarik perhatian banyak pihak. Sebagai sosok muda yang energik, ia membawa harapan baru bagi Sumut. Namun, di balik harapan itu, juga tersimpan berbagai tantangan besar—mulai dari perekonomian, infrastruktur, birokrasi, hingga pemberantasan korupsi.
Dalam acara serah terima jabatan, Agus Fatoni, yang sebelumnya menjabat sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Sumut, mengungkapkan keyakinannya bahwa Bobby dan Surya mampu membawa Sumut ke arah yang lebih baik.
“Menjadi pemimpin di Sumut tidak mudah. Kita perlu kerja keras di semua sektor. Tapi saya yakin, dengan kepemimpinan Pak Bobby dan Pak Surya, Sumut bisa melesat dan membanggakan bagi kita semua,” ujarnya.
Di akhir acara, dilakukan serah terima jabatan Ketua TP PKK Sumut dari Tyas Fatoni kepada Kahiyang Ayu. Turut hadir dalam acara tersebut Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, Pangdam I/BB Rio Firdianto, Kajati Sumut Idianto, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) lainnya. Wali Kota Medan Rico Waas juga turut hadir.
Bobby Nasution telah mengawali langkahnya dengan pesan yang kuat—adaptat, pelayanan, dan komitmen untuk perubahan. Kini, tantangan sesungguhnya dimulai. Apakah filosofi hewan kecil yang adaptif ini benar-benar akan menjadi prinsip utama dalam pemerintahannya? Waktu yang akan menjawab.











