ACEH TAMIANG, ARMADABERITA — Tidak ada yang lebih menakutkan bagi seorang petani selain melihat ladang yang menjadi sumber hidupnya berubah menjadi hamparan lumpur. Hal itulah yang dialami Abdul Rozzaq Mubaroq (38).
Ketika banjir bandang menerjang Aceh Tamiang pada November 2025, dalam hitungan jam, kebun yang selama ini ia rawat berubah menjadi puing.
Tanaman hilang.
Peralatan pertanian hanyut.
Dan lahan seluas 1,8 hektare yang menjadi tumpuan keluarganya terkubur lumpur.
“Saya bingung waktu itu. Saya berpikir bagaimana memberi makan anak dan istri,” ujar Rozzaq.
Di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, hari-hari setelah banjir menjadi masa yang berat baginya.
Setiap malam, ia hanya bisa memandang wajah keluarganya.
Ada rasa takut.
Ada rasa kehilangan.
Namun ada satu hal yang membuatnya kembali berdiri: ia tidak ingin menyerah.
Keesokan harinya, Rozzaq kembali ke ladang.
Bukan membawa pupuk.
Bukan membawa bibit.
Tetapi membawa tekad untuk membersihkan sisa bencana.
***
Saat petani lain mungkin memilih menunggu keadaan membaik, Rozzaq justru mulai bekerja dari titik paling sulit.
Ia membersihkan lumpur yang menutup tanah.
Ia mengumpulkan sisa-sisa tanaman.
Ia mencari tahu bagaimana cara mengembalikan lahan yang rusak agar bisa kembali ditanami.
Lumpur setebal 30 sentimeter membuat pekerjaannya semakin berat.
Panas matahari, rasa lapar, dan lelah menjadi teman sehari-hari.
Namun ia tetap datang.
“Saya tidak mau hanya duduk. Kehidupan harus terus berjalan,” katanya.
Rozzaq bahkan mempelajari kembali cara mengolah lahan pascabanjir melalui jurnal pertanian dan berbagai informasi yang ia dapatkan.
Ia percaya, tanah yang rusak masih bisa memberi kehidupan.
***
Perlahan, harapan mulai muncul.
Setelah lumpur mengering, ia menyewa traktor untuk meratakan lahan.
Tanah kemudian dibiarkan beberapa waktu agar kembali siap ditanami.
Titik balik itu datang ketika dukungan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP Rantau Field hadir membantu para petani terdampak banjir.
Rozzaq bersama Kelompok Tani Tunas Muda mendapat bantuan restorasi lahan, sarana produksi pertanian, serta ribuan bibit tanaman.
Sebanyak 10 ribu bibit hortikultura diberikan untuk membantu petani memulai kembali.
Dari sana, Rozzaq kembali menanam.
Kini, dari lahan 1,8 hektare miliknya, 21 rante sudah kembali hijau.
Cabai rawit tumbuh.
Cabai merah mulai berkembang.
Sayuran sawi bahkan sudah bisa dipanen.
“Alhamdulillah, saya bisa kembali memenuhi kebutuhan hidup dari pertanian,” ucapnya.
***
Bagi Rozzaq, panen pertama setelah banjir bukan hanya soal hasil.
Itu adalah bukti bahwa perjuangan panjangnya tidak sia-sia.
Lahan yang dulu membuatnya hampir kehilangan harapan kini kembali memberi kehidupan.
Manager Community Involvement Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal mengatakan, pemulihan pertanian menjadi bagian penting setelah bencana karena banyak masyarakat bergantung pada sektor tersebut.
“Pertamina hadir untuk mendukung pemulihan para petani agar mereka bisa kembali memiliki sumber penghasilan,” ujarnya.
Kini, setiap kali melihat tanaman cabai tumbuh di lahannya, Rozzaq tidak hanya melihat hasil panen.
Ia melihat perjalanan panjang.
Dari banjir.
Dari lumpur.
Dari rasa takut.
Menuju sebuah pesan sederhana:
Bahwa selama masih ada kemauan untuk menanam kembali, harapan juga bisa tumbuh kembali.











