EKBIS  

Sistem Keuangan Sumut di Akhir Tahun 2021 Membaik

Share

Medan ArmadaBerita.Com

Ketahanan sistem keuangan di Sumatera Utara (Sumut) membaik. Membaiknya sistem kuangan Sumut di akhir tahun 2019 ini tercermin dari tingkat profitabilitas (ROA) yang meningkat dan rasio BOPO (rasio efesiensi kerja) yang relatif menurun bahkan lebih rendah dibandingkan rasio sebelum pandemi.

Hal itu diutarakan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Utara (BI KPw Sumut), Soekowardojo dalam kegiatan Bincang Bareng Media (BBM) yang dilakukan secara online maupun offline dari salah satu caffe di Jalan Teuku Daud, Kota Medan, Selasa (14/12/2021) sore.

Pada indikator lainnya, intermediasi perbankan (LDR) tercatat juga meningkat didorong respon penyaluran kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK. Disisi lain, sebut Kepala BI Sumut, kredit tertahan (Undisbursed Loan) menurun, didukung oleh penurunan pada kelompok Bank Swasta Nasional dan Bank Asing & Campuran.

“Spread bunga perbankan juga mencatatkan angka yang cukup stabil pada 5,3 persen, sedikit turun dibandingkan pada Triwulan III 2021 sebesar 5,4 persen. Namun tetap sejalan dengan BI7DRRR yang masih di angka 3,5 persen,” katanya.

Selain itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatat perbaikan sari Rp 285 T menjadi Rp 291 T yang artinya mengalami pertumbuhan 8,76 persen sampai 10,70 persen yang didorong oleh pertumbuhan pada seluruh kelompok perbankan serta seluruh jenis simpanan.

Berdasarkan hasil FGD bersama perbankan menyatakan bahwa nasabah cenderung wait and see dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam melakukan ekspansi usaha. “Selain itu, nasabah cenderung menjaga dananya tetap likuid agar dapat segera memanfaatkan momentum ketika pandemi mulai reda,” jelas Soekowardojo.

Disisi lain, penyaluran kredit perbankan mengalami pertumbuhan dari -0,45 persen menjadi sekitar 3,11 persen didorong oleh bertumbuhnya seluruh jenis kredit, baik modal kerja, investasi, maupun konsumsi.

Dari sisi sektoral, penyaluran kredit turut tumbuh pada seluruh sektor utama. Lebih dalam lagi, kredit perkebunan sawit dan karet juga menunjukkan pertumbuhan yang didorong naiknya harga komoditas CPO dan rubber internasional. Di sisi lain, risiko gagal bayar (NPL) tercatat menurun hingga 2,97 persen dari sebelumnya 3,02 persen pada Triwulan III 2021.

Sedangkan untuk penyaluran kredit korporasi juga meningkat (-4,5% -> 2,2%) didorong oleh pertumbuhan seluruh kelompok yang cukup signifikan, menunjukkan sudah mulai membaiknya dunia usaha. Kelompok kredit modal kerja, investasi dan konsumsi mengalami pertumbuhan yang mendukung pertumbuhan kredit korporasi secara agregat.

Dari sisi sektoral, pertumbuhan kredit korporasi terjadi di seluruh sektor utama. Dari sisi risiko, NPL korporasi tercatat stabil pada 3 persen sejak Triwulan III 2021. Namun, pada sektor utama konstruksi dan PBE, tercatat adanya peningkatan NPL sebesar 100 basis poin diduga terjadi akibat naiknya penyaluran kredit.

Bahkan, jelas Kepala BI Sumut, peningkatan daya beli masyarakat mendorong perbaikan kredit rumah tangga dari 2,74 persen menjadi 2,95 persen. “Perbaikan kredit rumah tangga terjadi pada seluruh jenis kredit, terutama penyaluran kredit Multiguna yang tumbuh positif,” papar Soekowardojo.

Tak kalah penting lagi, untuk pertumbuhan kredit UMKM meningkat sebesar 3,27 persen (yoy) dari sebelumnya sebesar 3,06 persen (yoy). Perbaikan kinerja kredit UMKM didorong oleh segmen mikro dan kecil. Risiko kredit UMKM juga tercatat menurun jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

“Secara spasial, realisasi kredit masih terpusat di kota Medan dan daerah pantai timur lainnya sejalan dengan kapasitas ekonomi Sumatera Utara. Sementara secara sektoral, seluruh sektor utama di Sumut kecuali pertanian dan industri pengolahan mengalami pertumbuhan kredit UMKM,” ungkap Soekowardojo.

Untuk Risiko kredit perbankan juga membaik. Hal itu tercermin dari penurunan Loan at Risk/ LaR dari Triwulan III-2021 dari 20,8 persen menjadi di kisaran 19,9 persen, yang terdiri dari akumulasi restrukturisasi kredit kolektabilitas 1, kolektabilitas 2, dan NPL. Penurunan LaR terutama didorong oleh penurunan risiko seluruh jenis kredit kecuali kredit modal kerja.

“Di sisi lain, upaya perbaikan kualitas kredit pada debitur terdampak Covid-19 yang dilakukan oleh Pemerintah melalui restrukturisasi kredit tercatat telah melewati puncaknya dan berangsur melambat menjadi Rp 37,3 Triliun dari triwulan sebelumnya sebesar Rp 38,0 Triliun,” pungkasnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *