EKBIS  

Prekonomian Sumut di Triwulan I-II Mengkhawatirkan, Ini 3 Skenario dan Prediksi BI

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Dampak Covid-19 hingga saat ini masih menghantui seluruh negara. Tidak hanya ke sektor kesehatan namun ke sektor ekonomi. Imbas sepasti juga dialami Indonesia. Perekonomian Indonesia di triwulan I mengalami penurunan.

“Bahkan perekonomian Indonesia di triwulan II malah semakin mengkhawatirkan,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat kepada wartawan di Gedung BI Provsu Lantai 7 Medan, Selasa (7/7/2020) siang.

Saat ini, papar Wiwiek, pertumbuhan ekonomi Sumut di angka 0,9%-1,9%. Meski demikian, BI mengaku bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi Sumut diperkirakan akan kembali meningkat di kisaran 5,0% pada 2021.

“Namun, kita gak bisa tau seperti apa kedepan (triwulan II dan III). Kita hanya bisa melakukan dengan sekenario berdasarkan asumsi. Bahkan di dunia itu prediksinya negatif, jadi ini (di indonesia) prediksi kedepannya sudah sangat baik,” ujarnya.

Dikatakannya, untuk sekenario di triwulan ke II dan III pertumbuhan perekonomian Sumatera Utara Bank Indonesia Provsu hanya mampu memprediksi dengan 3 sekenario.

“Tiga skenario di Sumut yaitu; Berat, Sangat Berat dan Berat Sekali,” akunya.

Hal itu diungkapkan Wiwiek berdasarkan beberapa indikator yang mengalami penurunan, meski indikator mengenai Neraca pembayaran indonesia tetap terjaga. Namun, Defisit transaksi berjalan rendah, transaksi modal dan financial membaik, nilai tukar menguat.

Nilai tukar di bulan Juni menguat dibanding bulan Mei dan masih ada ke arah menguat lagi di angka yang sekarang Rp 14.200.

“Jadi, April sampai Mei semua indikator yang dirilis secara BPS mengalami kontraksi ekonomi yang sangat besar. Baik IKK, IKE, IEK, semua mereka pesimis dengan indikator2 tersebut. Jadi konsumen melihat kondisi ekonomi saat ini di triwulan dua akan menurun, sehingga mereka pesimis,” ungkapnya.

Dari konsumsi Barang Tahan Lama mulai bulan Mei dan saat sekarang ini juga sangat turun dan kurang baik. Untuk kunjungan wisatawan maca negara (Wisman/turis) yang masuk ke Suamatera Utara turun drastis.

“Kunjungan Wisman itu hanya 1 yang berkunjung di Sumut. Itu yang terjadi, artinya semua devisa yang selama ini kita dapat dari Cina dan Wisman lain itu tidak ada. Penumpang pesawat juga turun, sudah 5 bulan,” jelasnya.

Selain itu, Ekspor Sumut juga turun. Apalagi impornya yang juga mengalami penurunan. Sampai bulan Mei masih mengalami perlambatan.

“Sektor korporasi, juga mengalami penurunan, kecuali harga kopi, itu pun harga arabica, kalau robusca juga mengalami penurunan. Bahan baku turun, ini merupakan sinyal awas atau hati-hati mengenai korporasi yang beranagkutan,” ujarnya.

Maka dari itulah, imbuh Wiwiek, Sumut hanya memiliki 3 skenario. Sekanrionya yaitu Berat, Sangat Berat dan Berat Sekali. Sebab, akan terjadi kontraksi di triwulan II di Sumatera Utara.

Meski di triwulan I tumbuh di 4,1%, namun melihat dari hasil survei, RDG (Rapat Dewan Gubernur), pertemuan dengan pelaku usaha, dan sebagainya, diprediksi kedepan akan mengalami penurunan di triwulan II dan III Sumatera Utara.

“Kami memperkirakan agak konservatif. Kami sampaikan kepada pak Gubernur, ini harus ada eksen dari pemerintah daerah. Memang hotel-hotel, Mall sudah buka, tapi saya dengar mereka buka karena tamu-tamu pun tidak banyak, kita masih belum berani makan disana, dan alasan sebagainya, sehingga kondisi itu yang membuat penurunan. Di Inggris, Mentri keuangan itu sampai menghimbau masyarakat agar makan di warung,” imbuhnya.

Peran Pemerintah

Menurut Kepala BI Sumut, kalau tidak ada konsumsi pemerintah daerah, Sumut akan tumbuh menurun. Untuk itulah harus dimulai dari pemerintah. Dorongan ekonomi di Sumut yang pertama itu konsumsi dari pemerintah.

“Makanya untuk mengcoveri perbaikan konsumsi pemerintah sudah mengucurkan dana hingga 900 triliun untuk itu,” sebutnya.

“Ini yang mengindikasikan penurunan itu. Keyakinan konsumen itu hanya 66,56%. Ini sudh merupakan penurunan yang sangat luar biasa terhadap kondisi ekonomi di sumatra utara,” akunya.

Ditambah lagi, kata dia, hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) di Triwulan I semuanya mereh (penurunan).

“Triwulan II dan Triwulan III kita harapkan naik, dan hanya Allah yang tau, namun kita harapkan penaikan drastis,” katanya.

Kepala BI Sumut kembali menegaskan bahwa untuk mendongkrak prekonomian Sumut, haruslah ada koordinasi diberbagai sektor, baik dari pemerintah, dari koorporasi, pemerintah pusat dan dari masyarakat.

“Terus kerjasama kita untuk semua itu harus kita tingkatkan. Peran pemerintah ekonomi Sumut di triwulan II makin kontraksi disekitar negatif 2 %. Triwulan ke III jika sudah ada kenaikan, diperkirakan bisa menjadi lebih baik lagi. Namun itu masih perkiraan dan kita belum tau pasti kedepannya,” pungkasnya. (Rina/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *