EKBIS  

OJK Ingatkan Gen Z: Melek Digital Tak Cukup, Harus Cakap Finansial

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono dalam program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) yang digelar di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Convention Hall, Serang, Selasa (8/9/2026). Ist
Share

Serang, ArmadaBerita.Com – Kemudahan teknologi digital membuat generasi muda semakin dekat dengan berbagai produk dan layanan keuangan. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa kecakapan menggunakan teknologi tidak otomatis membuat seseorang cakap mengelola keuangan.

Pesan tersebut mengemuka dalam program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) bertema “Money Moves: Invest Today, Build Your Future” yang digelar di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Convention Hall, Serang, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan LIKE IT di Provinsi Banten menjadi momentum OJK membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, mulai dari menabung, berinvestasi, memanfaatkan layanan keuangan digital secara aman, hingga mengambil keputusan finansial secara mandiri.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan generasi muda merupakan kelompok yang sangat akrab dengan teknologi digital.

Namun, menurut Dicky, kedekatan dengan teknologi justru harus diimbangi dengan kemampuan memahami risiko. Semakin mudah masyarakat mengakses produk keuangan, semakin besar pula kebutuhan untuk memiliki pengetahuan agar tidak keliru dalam mengambil keputusan.

“Semakin banyak produk keuangan yang ditawarkan kepada masyarakat, diperlukan kemampuan untuk mengambil keputusan yang sadar dan bertanggung jawab,” ujar Dicky.

Ia mengingatkan generasi muda agar mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta tidak menunda untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang sehat, termasuk berinvestasi sesuai kemampuan dan tujuan.

Dicky merangkum pengelolaan keuangan dalam tiga kata kunci, yakni kelola, lindungi, dan tumbuhkan. Menurutnya, uang harus dikelola sebelum justru mengendalikan pilihan hidup seseorang.

“Kelola uang kita sebelum uang mengendalikan pilihan kita. Lindungi apa yang sudah kita miliki dengan selalu ingat legal dan logis, serta tumbuhkan semuanya dengan tujuan yang jelas,” tegasnya.

Literasi keuangan, lanjut Dicky, juga menjadi benteng bagi generasi muda agar tidak mudah terseret Fear of Missing Out (FOMO) maupun Fear of Other People’s Opinions (FOPO), terutama ketika melihat tren investasi dan gaya hidup yang berkembang di media sosial.

Gubernur Banten Andra Soni menilai penguatan literasi keuangan tidak boleh berhenti pada kesiapan generasi muda memasuki dunia kerja. Mereka juga harus dibekali kemampuan mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, sekaligus melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan keuangan.

Menurut Andra, perkembangan teknologi digital harus berjalan beriringan dengan pengetahuan dan kehati-hatian. Sebab, modus kejahatan keuangan digital kini semakin beragam, mulai dari phishing, penyamaran sebagai petugas lembaga keuangan, tautan palsu, akun media sosial palsu, investasi ilegal hingga pinjaman online ilegal.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Annisa M. A. Mahesa mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan ketika mengambil keputusan investasi.

Ia menyebut generasi Z rentan mengambil keputusan finansial secara impulsif karena dorongan FOMO maupun ajakan untuk mengikuti tren. Karena itu, fondasi pengelolaan keuangan harus dibangun sebelum seseorang memutuskan berinvestasi atau menggunakan produk keuangan lainnya.

Annisa menekankan pentingnya memiliki dana darurat, menerapkan manajemen keuangan yang baik, menghindari utang konsumtif, memahami kebutuhan diri, serta menggunakan “uang dingin” untuk investasi. Informasi mengenai sektor jasa keuangan juga harus diperoleh dari sumber yang tervalidasi.

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Muhammad Ishom mengapresiasi pelaksanaan edukasi keuangan bagi mahasiswa. Menurutnya, penguatan literasi semakin penting di tengah luasnya akses generasi muda terhadap produk dan layanan keuangan.

Program LIKE IT sendiri telah dilaksanakan sejak 2021 melalui kolaborasi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK dan Lembaga Penjamin Simpanan. Pelaksanaan di Kota Serang menjadi LIKE IT Series #6 tahun 2026, dengan harapan semakin banyak generasi muda yang bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan keputusan keuangannya demi membangun masa depan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *