Jakarta, ArmadaBerita.Com – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan penurunan setelah mengalami erupsi secara terus-menerus selama sekitar 25 jam. Namun, kondisi tersebut belum menjadi alasan untuk lengah karena status gunung api masih berada pada Level III (Siaga).
Dosen Teknik Geofisika sekaligus Pakar Kebumian Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si., mengatakan pemantauan PVMBG melalui pengamatan visual, data kegempaan, dan RSAM menunjukkan aktivitas saat ini berada pada tingkat erupsi relatif ringan.
Menurut Iktri, pola erupsi yang cenderung Strombolian memang umumnya berupa letusan kecil dan berkala. Meski demikian, abu vulkanik halus tetap dapat terbawa angin dalam jarak jauh, sementara potensi erupsi lanjutan, aliran lava, hingga bahaya tsunami tetap perlu diwaspadai.
“Karena Anak Krakatau berada di tengah laut, perubahan aktivitas vulkanik juga perlu diperhatikan dari sisi potensi longsoran tubuh gunung yang dapat memicu tsunami,” ujar Iktri, Rabu (9/9/2026).
Ia mengingatkan masyarakat untuk mengikuti informasi resmi PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, serta sumber media yang kredibel dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Sementara itu, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan pentingnya penguatan literasi kebencanaan. Menurutnya, UPER membekali mahasiswa dengan pengetahuan mengenai dinamika bumi, termasuk melalui pembelajaran Seismologi, Geodinamika, Pengolahan dan Analisis Sinyal Geofisika, serta Penglibatan Publik untuk Proyek Sains dan Teknologi.
Penguatan keilmuan tersebut menjadi bagian dari upaya UPER mendorong kesiapsiagaan dan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko bencana berbasis sains. (*)











