Jakarta, ArmadaBerita.Com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, kepanikan global, termaksud di Indonesia mengenai Pandemic Covid-19 mulai mereda. Hal itu dibuktikan dengan terjadinya peningkatan inflow SBN. Namun disisi lain, saham masih mencatat outflow di minggu II Mei 2020
“Hal ini terkait perkembangan indikator ekonomi terkini dan kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia,” kata Perry Warjiyo saat memberikan media briefing mengenai perkembangan ekonomi terkini secara live streaming, Kamis (28/5/2020) sore.
Dia menjabarkan, diantara perkembangan indikator ekonomi diantaranya terkendali nya inflasi dan rendah di kisaran 3±1%. Hal itu berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV Mei 2020, inflasi Mei 2020 diperkirakan sebesar 0,09% (mtm), lebih rendah dari tahun sebelumnya. Secara tahunan sebesar 2,21% (yoy).
“Inflasi di bulan Ramadan dan Idul Fitri 2019 sangat rendah, hal ini didorong oleh penurunan permintaan masyarakat akibat pandemiCovid-19, termasuk dari sisi pendapatan masyarakat, rendahnya harga komoditas global yang memengaruhi harga barang impor (imported inflation), stabilitas nilai tukar yang tetap terjaga, dan Ekspektasi inflasi terjaga dengan baik yang menunjukkan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia,” bebernya.
Sementara itu, jelas Perry, defisit transaksi berjalan triwulan I 2020 membaik sehingga ketahanan eksternal terjaga. Defisit transaksi berjalan sebesar 3,9 miliar dolar AS (1,4% dari PDB), jauh lebih rendah dari defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai 8,1 miliar dolar AS (2,8% dari PDB).
“Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, peningkatan surplus neraca perdagangan barang dipengaruhi oleh penurunan impor seiring dengan permintaan domestik yang melambat, penurunan defisit neraca jasa, dipengaruhi oleh penurunan defisit jasa transportasi, penurunan neraca pendapatan primer sejalan dengan penurunan kebutuhan pembayaran bunga dan dividen akibat terjadinya capital outflow,” ungkap Gubernur BI.
Selanjutnya juga dipengaruhi aliran modal asing yang kembali masuk dan mencatat inflow pada SBN sebesar Rp6,15 triliun pada minggu II Mei 2020, meningkat dibandingkan dengan minggu I Mei 2020 yang tercatat inflow sebesar Rp2,97 triliun.
“Hal ini membuktikan dengan meredanya kepanikan global dan langkah-langkah penangangan pandemic Covid-19 di Indonesia, terjadi peningkatan inflow SBN. Namun disisi lain, saham masih mencatat outflow di minggu II Mei 2020 sebesar Rp2,72 trilliun. Hal ini didorong oleh kondisi pasar saham global yang belum membaik.” tegas Perry.
Kemudian untuk Yield SBN yang diperdagangkan di pasar sekunder mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan confindence dan meningkatnya inflow.
“Sebelum pandemi Covid-19, yield SBN sebesar 8% dan pada 15 Mei 2020 turun menjadi 7,76%, kemudian pada 26 Mei 2020 turun menjadi 7,22%. Perbedaan suku bunga yang tinggi sebesar 6,7%, antara yield SBN 10 tahun dan obligasi pemerintah AS 10 tahun, menarik untuk investor,” jelasnya.
Untuk nilai tukar Rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat ke level fundamental. Nilai tukar (27/5) ditutup menguat Rp14.670 per dollar AS atau menguat Rp60 perdolar dan hari ini (28/5) diperdagangkan stabil pada level Rp14.700.
“Kondisi nilai tukar rupiah masih undervalued dan belum menguat ke tingkat fundamentalnya. Hal itu disebabkan oleh faktor premi risiko seiring ketidakpastian di pasar keuangan global,” urainya.

Menurut Perry Warjiyo, koordinasi kebijakan dalam pemulihan ekonomi nasional dalam penanganan Covid-19 terdapat protokol penanganan yang perlu dilakukan, termasuk pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang berdampak pada penurunan aktivitas ekonomi.
Pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan dan dunia usaha terus memperkuat koordinasi dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.
“Terdapat 5 kebijakan Bank Indonesia untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, yaitu menjaga stabiliasi nilai tukar rupiah, menurunkan suku bunga BI 7-days Reverse Repo Rate (BI-7DRR), menyediakan dana likuditas antara lain melalui repo SBN dan penurunan GWM, pelonggaran kebijakan makroprudensial serta menjaga kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun nontunai,” pungkasnya.
Dikatakan Gubernur BI lagi bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi ini dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.
Serta dilakukannya langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, dan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan. (Nst)











