Medan, ArmadaBerita.Com – Dari kejauhan, hamparan warna kuning keemasan langsung mencuri perhatian pengunjung yang melintas di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026, Jalan Gatot Subroto, Medan. Bukan instalasi seni ataupun dekorasi buatan, melainkan ratusan buah nanas segar yang disusun menyerupai sebuah menara di depan Paviliun Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).
Penataan yang unik itu sukses menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung. Banyak orang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen, sebelum akhirnya masuk ke dalam paviliun dan mengenal lebih dekat berbagai potensi unggulan Kabupaten Tapanuli Utara.
Mengusung tema “Harmoni Emas”, PRSU ke-50 memang hadir dengan wajah baru. Pantauan wartawan pada Kamis (16/7/2026), seluruh paviliun dari 33 kabupaten/kota tampil lebih modern, kreatif, dan interaktif. Penataan kawasan yang lebih rapi, area kuliner yang nyaman, hingga berbagai sudut foto kekinian memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang berkunjung ke ajang pameran pembangunan, budaya, hiburan, dan bisnis terbesar di Sumatera Utara tersebut.
Di antara puluhan paviliun, Kabupaten Tapanuli Utara memilih mengangkat komoditas yang telah lama menjadi identitas daerahnya, yakni Nanas Sipahutar.
Sipahutar merupakan sentra produksi nanas terbesar di Kabupaten Tapanuli Utara. Buah ini dikenal memiliki cita rasa yang manis, tekstur lembut, serta kandungan air yang melimpah. Hampir setiap keluarga di wilayah tersebut memiliki kebun nanas dengan luas sedikitnya sekitar satu hektare.
Didukung kondisi agroklimat yang sangat sesuai, Nanas Sipahutar tumbuh dengan kualitas yang khas sehingga menjadi salah satu komoditas pertanian unggulan Sumatera Utara. Bahkan, buah ini tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga telah menembus pasar ekspor, termasuk ke Arab Saudi.
Keberhasilan menembus pasar internasional menjadi bukti bahwa produk pertanian lokal mampu bersaing di pasar global apabila dikelola dengan baik dan didukung promosi yang tepat.
Sebagai bagian dari promosi tersebut, tim Paviliun Taput yang dikoordinasikan oleh Fazar selaku Person in Charge (PIC) menyusun lebih dari seratus buah nanas menjadi dekorasi utama paviliun. Instalasi tersebut berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung selama lebih dari sepuluh hari pelaksanaan PRSU.
Namun, karena menggunakan buah segar, kondisi nanas secara alami mengalami penurunan kualitas setelah dipajang cukup lama. Kesegarannya berkurang, sebagian mulai mengeluarkan aroma tidak sedap, berair, serta mengundang lalat dan tawon di sekitar lokasi.
Untuk menjaga kenyamanan dan kebersihan area pameran, dekorasi nanas tersebut akhirnya dibongkar oleh tim paviliun.
Meski demikian, instalasi sederhana itu telah berhasil menyampaikan pesan penting: bahwa sebuah komoditas lokal tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menjadi media promosi daerah yang efektif. Dari sebuah paviliun di PRSU, Nanas Sipahutar kembali mengingatkan publik bahwa hasil bumi Tapanuli Utara bukan sekadar buah unggulan, melainkan produk berkelas ekspor yang telah membawa nama Sumatera Utara hingga ke pasar internasional. (TD/Red)











