Medan, ArmadaBerita.Com
Sepekan menjelang hari lebaran, harga daging sapi di wilayah Sumatera Utara (Sumut) khususnya Kota Medan justru stabil dikisaran Rp120 hingga Rp130 ribuan per Kg.
Demikian diutarakan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan, Gunawan Benjamin, MM kepada wartawan, Rabu (28/6/2023).
Ekonom asal Sumut ini juga menjelaskan penyebabnya karena untuk memenuhi kebutuhan daging sapi selama Idul Adha, banyak didatangkan dari sapi lokal. “Berbeda dengan kebutuhan daging di hari biasa yang banyak mengandalkan daging sapi dari tempat penggemukan (feedlot),” jelas Gunawan.
Sementara itu, harga emas di bulan juni ini mengalami penurunan, dan harga tiket pesawat stabil dengan kecenderungan turun. Harga tiket dan emas akan menyumbang deflasi pada bulan juni ini. “Secara keseluruhan SUMUT pada bulan juni ini akan merealisasikan inflasi diatas 0.37%. Dengan kemungkinan potensi inflasi maksimal di angka 0.5%,” bilangnya.
Menurutnya, salah satu penyumbang inflasi di bulan Juni ini adalah naiknya harga sejumlah kebutuhan pangan hortikultura seperti cabai dan bawang. Harga cabai merah mengalami kenaikan dalam rentang 43% hingga 45%, dimana harga cabai belakangan ini ditransaksikan dikisaran Rp40 ribu per Kg nya. Sementara cabai rawit mengalami kenaikan 35% hingga 43%. Saat ini ditransaksikan dikisaran Rp24 ribu per Kg nya.
Selanjutnya, harga bawang merah naik sekitar 14.5% di kisaran level Rp 33.000 per Kg saat ini. Harga bawang putih juga mengalami kenaikan sekitar 8.7% hingga 9.6% , di kisaran level Rp37 ribu per Kg.
Disisi lain, harga telur ayam dan daging ayam juga ikut naik sekitar 5%, dan daging ayam dikisaran 8% hingga 10%. “Dan selain sejumlah komoditas pangan pokok yang mengalami kenaikan, ada banyak jenis sayur-sayuran yang juga mengalami kenaikan di bulan juni ini dan harga cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar,” papar Gunawan.
Bahkan, ungkap Gunawan, beberapa indikator ekonomi yang ia kembangkan sendiri, menunjukan bahwa potensi tanaman hortikultura masih akan menjadi penyumbang inflasi di masa yang akan datang.
Menurutnya, faktor cuaca menjadi salah satu pemicu utamanya. Namun sayangnya akan diikuti dengan pengendalian pasokan pada sejumlah komoditas pangan lain, dimana banyak produsen yang berupaya untuk tetap menjaga marjin atau keuntungan, dengan menjaga harga jual di level keekonomiannya. “Hal ini menjadi tantangan pengendalian inflasi, khususnya untuk kelompok bahan pangan kian berat nantinya,” urainya. (ASN)










