Medan, ArmadaBerita.Com
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Soekowardojo menyebut, prospek ekonomi nasional di tahun 2021 menguat. Menurutnya, ekonomi nasional kini mulai pulih. Hal itu disebabkan pemerintah telah menyalurkan vaksin penanganan Covid-19.
“Perkembangan vaksin menjadi kunci berlanjutnya recovery pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi didorong oleh kenaikan permintaan domestik dan eksternal. Ekspor diprediksi meningkat didorong oleh membaiknya aktivitas industri hilir di negara tujuan utama sejalan dengan vaksinisasi di berbagai negara yang berlangsung cepat,” kata Soekowardojo dalam pertemuannya pada wartawan di Gedung BI Sumut LTlt III, Medan, Jum’at (29/1/2021).
Percepatan pembangunan pemerintah dan swasta yang sempat melambat/tertunda di tahun 2020, lanjut Kepala BI Sumut ini lagi, diperkirakan akan mendorong perbaikan invetasi. Berbagai langkah penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah baik dari sisi kesehatan maupun pemulihan ekonomi diprediksi mendorong konsumsi pemerintah.
“Rencana pemerintah melanjutkan program bantuan sosial diprediksi akan menopang konsumsi rumah tangga,” ujarnya.
Bahkan, jelas Soekowardojo, industri karet yang sempat terpuruk sepanjang 2020, berpeluang pulih seiring prospek apresiasi harga karet dunia. Trading Economics memprakirakan rerata harga karet dunia pada 2021 akan lebih tinggi dibanging 2020, ditopang upaya pemulihan ekonomi dunia, meskipun masih dibayangi dengan risiko lockdown akibat kemunculan varian baru virus korona, khususnya di Eropa.
Di sisi lain, sambung Kepala BI Sumut, setelah mencatat apresiasi sepanjang 2020, harga CPO diprakirakan akan kembali normal pada 2021 menuju kisaran 3.000 MYR/Ton, seiring upaya pemulihan ekonomi dan industri sawit Malaysia.
“Sejalan dengan itu, harga biji kopi yang berfluktuasi tinggi sepanjang 2020 diprakirakan akan menurun pada 2021, meskipun secara rerata relatif stabil dibanding rerata harga kopi pada 2020,” imbuhnya.
Sejalan dengan itu, inflasi di Sumatera Utara tahun 2021 juga diperkirakan meningkat. Hal itu didorong mulai pulihnya kegiatan ekonomi masyarakat akibat kondisi pandemi yang membaik. Daya beli masyarakat diprakirakan membaik karena lapangan kerja yang kembali normal dan kapasitas produksi yang berangsur menuju optimal.
“Prakiraan ini sebaiknya perlu menjadi perhatian kita semua, sehingga kebijakan pengendalian inflasi yang ditempuh akan terus refocusing pada kegiatan 4K,” harapnya.
Kenaikan inflasi di Sumut, menurut Kepala BI kantor perwakilan Sumatera Utara, terdiri dari;
-Inflasi IHK (umum), yakni Didorong oleh membaiknya daya beli masyarakat (asumsi pandemi Covid-19 telah diimbangi oleh penanganan kesehatan serta vaksinasi dan pemulihan ekonomi berjalan optimal).
-Inflasi Inti, yakni: Meningkatnya permintaan masyarakat seiring dengan perekonomian yang membaik, lapangan kerja yang kembali normal serta tunjangan-tunjangan yang kembali dibayarkan.
-Inflasi Volatile Food, yakni: Meningkatnya harga komoditas bumbu-bumbuan, khususnya cabai merah, seiring dengan produksi yang belum optimal di tengah permintaan yang tinggi.
-Inflasi Adm. Prices: Penyesuaian tarif listrik ke kondisi normal pasca Covid-19, meningkatnya kebutuhan energi setelah aktivitas produksi berjalan normal. (Red/ABC)











