EKBIS  

Bahas Literasi Keuangan, OJK Adakan Media Gathering Mengenal Perbankan Syariah

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melangsungkan media gathering untuk memberikan literasi keuangan masyarakat di Sumatera Utara dengan topik ‘Mengenal Lebih Dekat Dengan Perbankan Syariah’ pada Jumat, 13 Agustus 2021 secara virtual.

Dengan tiga narasumber diantaranya Farid Faletehan, Deputi Direktur Pengembangan Perbankan Syariah (DPPS OJK) dengan membawakan topik ‘Kebijakan dan Peran OJK dalam Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia (Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia).

Dr. Andri Soemitra, MA. yang menjabat sebagai Ketua Program Doktor Ekonomi Syariah FEBI UIN SU Medan dengan membawakan topik ‘Best Practice dan Keunggulan Penerapan Keuangan Syariah pada Masyarakat Indonesia maupun Global’.

Kemudian ditutup dengan narasumber terakhir, Kemas Erwan Husainy, Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Provinsi Sumatera Utara sebagai narasumber kedua dengan membawakan topik ‘Peluang dan Tantangan Perbankan Syariah’.

Dalam sambutannya, Yusup Ansori Kepala OJK Regional 5 Sumatera Bagian Utara melaporkan paparan media update berupa data-data statistik, salah satunya kinerja Bank Umum Syariah Sumatera Utara. Dikatakannya bahwa total aset per Juni 2021 Bank Umum Syariah sebesar Rp. 18,07 triliun dengan market share sebesar 6,04 persen.

“Pembiayaan syariah menunjukkan pergerakan yang sangat baik ditandai dengan market share yang meningkat signifikan. Hal ini didorong oleh kredit konvensional yang melambat semenjak pandemi disertai dengan pertumbuhan pembiayaan syariah yang tinggi,” jelasnya.

Farid turut memaparkan terkait roadmap pengembangan perbankan syariah Indonesia 2020-2025. Menurutnya roadmap ini masih terbilang baru jadi masih terus dilakukan sosialisasi. Ia juga menjelaskan tiga visi besar mewujudkan perbankan syariah yang resillient, berdaya saing tinggi, dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional serta pembangunan sosial.

“Visi pertama itu adalah penguatan identitas perbankan syariah, lalu sinergi ekosistem ekonomi syariah kemudian penguatan perizinan, pengaturan, dan pengawasan,” tuturnya.

Di akhir paparannya, Farid menekankan pentingnya penguatan literasi keuangan yang harus terus dikedepankan ia juga meminta bantuan para awak media turut dalam mengedukasi masyarakat melalui berita yang disajikan.

Selanjutnya, Andri sebagai narasumber kedua menegaskan bahwa literasi keuangan syariah mempengaruhi inkluasi keuangan syariah. “Literasi keuangan syariah masih perlu ditingkatkan, yaitu sebesar 8,93% masih tertinggal dibandingkan indeks nasional sebesar 38, 03%. Sementara itu Indeks Inklusi Keuangan Syariah yang sebesar 9,1% juga masih tertinggal dengan indeks nasional sebesar 76,19%,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, Indonesia naik di posisi ke-2 tingkat kesehatan industri keuangan syariah. “Dari hal tesebut kita melihat adanya peningkatan indikator pengetahuan juga kesadaran. Adanya kerja keras yang membuahkan hasil dari stakeholder keuangan syariah. Agar Indonesia bisa menjadi pusat halal global, untuk menuju itu gerakan yang dapatg kita lakukan melalui kegiatan literassi keuangan syariah seperti ini,” tambahnya.

Di sesi akhir, Ketua ASBISINDO Provinsi Sumatera Utara menyebutkan ada lima tantangan perbankan syariah, persoalan market share, permodalan, literasi keuangan, Sumber Daya Manusia (SDM), serta produk dan layanan. (Audry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *