Oleh: Josephine Christiana & Vaneza Andriani
Bullying masih menjadi salah satu persoalan psikososial yang sering dialami remaja dan berdampak besar terhadap kesehatan mental, relasi sosial, serta perkembangan diri. Tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, perilaku bullying juga dapat muncul di berbagai komunitas sosial, termasuk komunitas keagamaan. Remaja gereja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri kerap menghadapi tekanan sosial dan kebutuhan akan penerimaan dari kelompok sebaya.
Menyadari kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) menyelenggarakan kegiatan psikoedukasi anti-bullying berbasis nilai Kristiani bagi remaja Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sutopo, Tangerang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai bullying, dampaknya, serta menumbuhkan empati dan komitmen untuk menciptakan lingkungan gereja yang aman dan penuh kasih.
Psikoedukasi dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan remaja gereja sebagai peserta aktif. Kegiatan diawali dengan sesi pembuka dan ice breaking untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman. Selanjutnya, peserta diberikan materi mengenai pengertian bullying, berbagai bentuk bullying, seperti verbal, sosial, fisik, dan siber, serta dampaknya bagi korban maupun pelaku. Materi disampaikan dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja agar mudah dipahami.
Tidak hanya bersifat satu arah, kegiatan ini juga dilengkapi dengan diskusi interaktif dan refleksi bersama. Peserta diajak untuk membagikan pandangan, pengalaman, dan perasaan mereka terkait isu bullying. Melalui diskusi ini, remaja belajar memahami perasaan orang lain dan menyadari bahwa perilaku yang sering dianggap sebagai candaan ternyata dapat melukai secara emosional.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, peserta juga diperkenalkan dengan keterampilan komunikasi asertif. Remaja diajak memahami cara menyampaikan pendapat, perasaan, dan batasan diri secara jujur dan tegas tanpa menyakiti orang lain. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi remaja dalam menghadapi konflik sosial secara lebih sehat.
Keunikan kegiatan ini terletak pada integrasi nilai-nilai Kristiani dalam setiap sesi. Konsep Imago Dei, bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Menjadi landasan utama dalam menanamkan penghargaan terhadap martabat sesama. Nilai kasih agape dan ajaran Yesus untuk mengasihi sesama juga ditekankan sebagai dasar sikap menolak kekerasan dan bullying dalam bentuk apa pun.
Sebagai penutup, peserta mengikuti aktivitas berbagi pesan positif dengan menuliskan kata atau kalimat penyemangat untuk teman-temannya. Aktivitas sederhana ini menciptakan suasana emosional yang hangat dan memperkuat rasa kebersamaan di antara remaja. Banyak peserta menunjukkan antusiasme dan menyadari bahwa tindakan kecil dapat memberikan dampak besar dalam membangun relasi yang sehat.
Melalui kegiatan psikoedukasi ini, remaja gereja diharapkan tidak hanya memahami bullying sebagai masalah perilaku, tetapi juga sebagai persoalan nilai dan empati. Gereja pun diharapkan dapat terus menjadi ruang aman bagi remaja untuk bertumbuh secara psikologis, sosial, dan spiritual. Upaya edukatif seperti ini menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang lebih peduli, saling menghargai, dan berani menolak bullying.
Tim Penulis adalah mahasiswa Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta, Program Studi Psikologi.











