Sepasang Kruk di Samping Kasur
Sepasang kruk aluminium tak pernah jauh dari Arvin Syahputra Nasution.
Saat tidur, kruk itu bersandar di sisi kasur. Ketika menuju kamar mandi, ia memindahkannya ke dekat pintu. Saat makan bersama istri dan dua anaknya di atas karpet, kruk itu kembali diletakkan di samping tubuhnya.
Bahkan ketika duduk di belakang rumahnya yang sempit—berlantai tanah, dengan sebuah motor bebek tua terparkir di sudut halaman dan dua kursi plastik menghadap tembok rumah tetangga—kruk itu tetap berada dalam jangkauannya.
Sejak menjalani operasi rekonstruksi ligamen lutut kiri, benda itu menjadi bagian dari setiap geraknya.
Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut berubah.
Telepon genggam Arvin nyaris tak pernah sepi.
Notifikasi WhatsApp datang silih berganti. Satu per satu berita kiriman wartawan ArmadaBerita dari berbagai daerah di Sumatera masuk ke layar ponselnya.
Arvin membaca.
Mengedit.
Lalu mengirim kembali naskah yang telah disuntingnya ke WhatsApp pribadi. Dari sana, naskah dipindahkan ke laptop melalui WhatsApp Web sebelum diterbitkan di ArmadaBerita.com.
Begitulah hampir setiap hari.
Tidak ada ruang redaksi khusus di rumah itu. Tidak ada meja kerja yang dirancang untuk seorang pemimpin media.
Yang ada hanyalah kasur, telepon genggam, laptop, sambungan Wi-Fi, dan pekerjaan yang terus datang.
“Armadaberita.com sudah kuanggap seperti anak kandungku,” katanya.
“Waktuku banyak kuhabiskan untuknya. Kalau bukan aku yang membesarkannya, siapa lagi? Ia harus kurawat, kukembangkan, dan kubesarkan dengan tanganku sendiri sampai berhasil.”
Di rumah sederhana itu, Arvin sedang memulihkan lututnya.
Tetapi pekerjaannya tidak ikut beristirahat.
Ia masih mengedit berita dari wartawan di berbagai daerah. Masih menentukan mana informasi yang layak diterbitkan. Masih memastikan naskah yang masuk ke meja redaksi dapat dibaca dan dipertanggungjawabkan.
Sepasang kruk membatasi langkahnya.
Berita tidak.
Dan dari sanalah cerita ini bermula.
***
Wartawan yang Tak Pernah Berhenti Bekerja

Sepasang kruk aluminium itu tak pernah jauh dari Arvin Syahputra Nasution.
Saat duduk di kursi plastik di belakang rumahnya yang sempit, kruk itu bersandar di samping kursi. Ketika makan bersama istri dan kedua anaknya di atas karpet, benda itu kembali diletakkan di sisi tubuhnya. Bahkan ketika menuju kamar mandi, Arvin menyandarkannya di dekat pintu agar mudah dijangkau.
Tubuhnya sedang belajar menyesuaikan diri dengan dua batang aluminium itu.
Kebiasaan kerjanya tidak.
Di kamar yang sekaligus menjadi ruang kerjanya, Arvin mengedit berita kiriman wartawan ArmadaBerita dari berbagai daerah di Sumatera. Sebagian besar naskah ia baca dan sunting lebih dahulu melalui ponsel Android. Setelah selesai, naskah dikirim ke WhatsApp pribadinya, dibuka melalui WhatsApp Web di laptop, lalu diterbitkan ke ArmadaBerita.com.
Cara itu terus ia lakukan meski lutut kirinya belum pulih.
Tiga hari setelah operasi, ketika masih dirawat di rumah sakit, Arvin sudah kembali mengedit berita dari kamar rawat inap. Ia masih tiduran dan hanya menggunakan ponsel. Untuk menerbitkan naskah, ia meminta bantuan Novian, wartawannya.
Hari kelima, ia pulang.
Baru setelah berada di rumah ia kembali memegang kendali penuh atas penerbitan berita. Laptop kembali terbuka. Kali ini kasur di kamar dan ruang di belakang rumah menjadi tempat kerjanya.
Pagi sampai malam, tergantung berita yang masuk.
Kruk selalu berada dalam jangkauan.
Tidak ada pekerjaan redaksi yang harus ia lepaskan kepada orang lain karena kondisinya. Semua masih dapat ia tangani sendiri.
Barangkali karena pekerjaan itu sudah terlalu lama menjadi bagian dari hidupnya.
Arvin telah lebih dari dua dekade menjadi wartawan. Ia pernah bekerja di Metro24Jam, kemudian Media24Jam. Pada 2019, ia meraih Juara II Lomba Karya Tulis Jurnalistik Otoritas Jasa Keuangan. Penghargaan itu memberinya sertifikat dan uang tunai Rp10 juta.
Uang tersebut kemudian ia gunakan untuk mendirikan ArmadaBerita.com.
Sudah enam tahun media itu berjalan.
Arvin tidak memulainya dengan perhitungan panjang tentang nama yang terdengar bagus. Ketika hendak mendirikan media daring sendiri, ia justru teringat kepada anak bungsunya, Naufal Armada.
Nama itu ia pakai.
Agar orang yang melihat alamat medianya segera tahu bahwa situs tersebut adalah media pers, ia menambahkan kata “berita”.
ArmadaBerita lahir dari sesuatu yang sangat dekat dengannya: nama anak sendiri dan hasil kerja dari profesi yang telah dijalaninya bertahun-tahun.
“Armadaberita.com sudah kuanggap seperti anak kandungku. Waktuku banyak kuhabiskan untuknya. Kalau bukan aku yang membesarkannya, siapa lagi? Ia harus kurawat, kukembangkan, dan kubesarkan dengan tanganku sendiri sampai berhasil.”
Kalimat itu menjadi lebih mudah dipahami ketika melihat bagaimana ia bekerja setelah operasi.
Ia belum dapat turun ke lapangan.
Tetapi meja redaksinya tetap berjalan.
Berita dari berbagai daerah tetap masuk. Ia tetap membaca, menyunting, dan menerbitkannya. Bedanya, sekarang ia melakukannya dari rumah, dengan kruk yang selalu berada di dekatnya.
Selama menjadi wartawan, Arvin juga beberapa kali memperoleh penghargaan jurnalistik. Selain penghargaan OJK pada 2019, ia meraih Juara III Lomba Karya Tulis Jurnalistik Shell pada 2022. Pada 2025, ia kembali meraih Juara III dalam lomba karya tulis KOJAM melalui tulisan mengenai layanan kesehatan gratis. Pada 2026, ia memperoleh Penghargaan Harapan V dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik APRDI.
Namun penghargaan itu bukan yang membuatnya terus bekerja.
Yang lebih sulit ia tinggalkan adalah kebiasaan mencari tahu.
Itu terlihat bahkan ketika ia menjadi pasien.
Setelah kecelakaan, Arvin tidak hanya menunggu jawaban dokter. Ia membaca artikel tentang cedera ACL, menonton seminar ortopedi di YouTube, mencari penjelasan tentang kerusakan ligamen, dan mempelajari tahapan fisioterapi.
Ia sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ia kenal.
Mencari informasi.
Membandingkan keterangan.
Memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.
Bedanya, kali ini yang sedang ia cari tahu bukan peristiwa yang hendak diberitakannya.
Melainkan tubuhnya sendiri.
Dan pencarian itu bermula dari sebuah sore di Pangkalan Brandan, ketika sebuah benturan membuat seorang wartawan yang terbiasa bergerak tiba-tiba harus berhenti.
***
Sore yang Mengubah Arah

Seminggu setelah Idulfitri, Arvin mengajak keluarganya bertolak ke Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat. Mereka hendak menghadiri pesta pernikahan sepupu Safrina sekaligus berlibur sejenak di rumah orang tua istrinya.
Safrina duduk di belakangnya. Naura, anak sulungnya, ikut dalam perjalanan itu. Sedangkan si bungsu Naufal tinggal di rumah. Arvin mengendarai sepeda motor bebek kesayangannya menyusuri jalan menuju kampung halaman sang istri.
Sore itu, sekitar pukul empat, sebuah sepeda motor datang dari belakang. Pengendaranya, seorang remaja, hendak menyalip.
Dalam hitungan detik, pelat nomor kedua sepeda motor saling bertaut.
Arvin bereaksi spontan.
Ia membanting setang ke kiri untuk menghindari kendaraan lain.
Lutut kirinya menghantam aspal.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Arvin segera menghentikan sepeda motornya.
Ia turun.
Namun belum sempat berbuat banyak, nyeri yang menusuk dari lutut kirinya membuatnya tak mampu bertahan berdiri. Ia berbaring di aspal di pinggir jalan.
Safrina turun dari motor. Ia jongkok di samping suaminya dan memegang lengannya.
Arvin masih telentang.
Naura melihat dari dekat.
Tidak ada darah. Tidak ada luka terbuka. Yang tampak hanya seorang ayah yang tiba-tiba terbaring di pinggir jalan sambil menahan sakit.
Warga mulai berdatangan. Arvin kemudian dibantu menuju sebuah warung makan di pinggir jalan. Warung itu sederhana, dengan meja kayu dan bangku panjang.
Di sana Arvin beristirahat menahan nyeri.
Pemilik warung menyajikan semangkuk sop kaki sapi panas.
Untuk sesaat, suasana seperti kembali biasa. Sebuah keluarga yang sedang dalam perjalanan, berhenti di warung, makan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Tetapi Arvin tidak bisa berdiri dengan normal.
Safrina akhirnya mengambil alih kemudi sepeda motor. Arvin bersama kedua anak mereka dibonceng menuju rumah orang tua Safrina.
Karena tidak terlihat luka terbuka ataupun darah pada lututnya, mereka mengira benturan itu tidak terlalu serius.
Malam itu mereka beristirahat sejenak di rumah orang tua Safrina. Setelah itu, keluarga kecil tersebut memutuskan kembali ke rumah mereka di Jalan Duku Raya, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Mereka membawa pulang rasa sakit yang belum mereka mengerti.
Keesokan harinya, nyeri di lutut kiri Arvin belum juga mereda. Ia masih dapat berdiri, tetapi setiap kali melangkah, rasa sakit kembali datang. Lututnya juga semakin sulit ditekuk.
Tidak ada luka di permukaan.
Tetapi ada sesuatu di dalam yang tidak beres.
Selama sekitar dua pekan berikutnya, Arvin memilih menjalani pengobatan tradisional di Kemkem. Lututnya berkali-kali diurut. Ia masih berharap cedera itu hanya persoalan otot atau urat yang bergeser dan dapat pulih tanpa tindakan medis.
Harapan itu tidak menjadi kenyataan.
Rasa sakit tetap bertahan.
Lutut kirinya tetap sulit ditekuk.
“Kulihat tak adanya luka, tapi kok sakit kali di dalam dan tak bisa kakiku ini ditekuk,” kenangnya.
Pertanyaan itu akhirnya membawa Arvin kepada kebiasaan yang sudah lama melekat dalam dirinya: mencari jawaban.
Selama menjadi wartawan, ia terbiasa menghadapi sesuatu yang belum ia pahami dengan mencari informasi, bertanya, membandingkan keterangan, lalu menyusun potongan-potongan fakta hingga menemukan gambaran yang lebih jelas.
Kali ini, yang sedang ia cari jawabannya bukan sebuah peristiwa di luar dirinya.
Melainkan tubuhnya sendiri.
Arvin mulai membaca artikel-artikel tentang cedera lutut. Ia menonton seminar ortopedi di YouTube dan mencari berbagai penjelasan tentang kerusakan ligamen serta pemulihannya.
Semakin banyak ia membaca, semakin ia menyadari bahwa rasa sakit yang menetap itu mungkin bukan sekadar akibat benturan biasa.
Lutut yang dari luar tampak utuh ternyata bisa menyimpan kerusakan yang tidak terlihat mata.
Arvin akhirnya memutuskan mencari pendapat medis.
Ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada lutut kirinya.
Tetapi untuk mengetahuinya, ia harus pergi lebih jauh daripada sekadar mengandalkan rasa sakit yang dirasakannya sendiri.
***
Mencari Kepastian

Rasa sakit di lutut kiri Arvin tak kunjung pergi.
Dua pekan menjalani pengobatan tradisional tidak membawa perubahan berarti. Lututnya tetap sulit ditekuk. Setiap kali melangkah, nyeri itu kembali mengingatkannya pada benturan di Pangkalan Brandan yang semula ia kira hanya cedera biasa.
Semakin banyak informasi yang ia baca, semakin ia merasa membutuhkan satu hal: kepastian.
Di tengah pencarian itu, ia teringat sebuah kartu layanan kesehatan yang tersimpan di dompetnya.
Beberapa bulan sebelumnya, saat meliput kegiatan di Kodam I/Bukit Barisan, Arvin bersama sejumlah wartawan menerima kartu berobat yang dapat digunakan di Rumah Sakit Putri Hijau Medan.
Saat menerimanya, ia tidak pernah membayangkan kartu itu kelak akan dipakai untuk dirinya sendiri.
Pada 7 Mei 2026, Arvin datang ke Rumah Sakit Putri Hijau bersama Safrina.
Ia menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter ortopedi. Pada hari yang sama, pemeriksaan MRI dilakukan.
Setelah pemeriksaan selesai, petugas menyerahkan selembar kertas berisi hasil MRI. Film atau gambar MRI tidak ditunjukkan kepada Arvin.
Lembar itulah yang kemudian dibaca dokter.
Di hadapan Arvin dan Safrina, dr. Prasojo menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut.
“Ligamennya robek. Ini harus dioperasi. Kalau dibiarkan tidak bisa sembuh.”
Arvin terdiam sesaat.
Jawaban yang selama ini ia cari akhirnya datang.
Tetapi bukan jawaban yang ia harapkan.
“Lah kok bisa begini lututku?”
Kesedihan datang bersamaan dengan keterkejutan. Selama ini ia melihat lututnya dari luar. Tidak ada luka terbuka. Tidak ada darah. Namun ternyata benturan yang tampak sederhana itu telah merusak bagian penting di dalam lututnya.
Beberapa saat kemudian, Arvin mengajukan pertanyaan yang mungkin paling ingin ia dengar jawabannya.
“Apa enggak ada alternatif lain, Dok, selain operasi? Apa enggak bisa hanya minum vitamin supaya ligamennya bagus lagi?”
Pertanyaan itu bukan sekadar upaya menawar sebuah tindakan medis.
Arvin masih berharap ada jalan lain.
Penjelasan berikutnya ia dengarkan dari dr. Rico. Untuk membuat Arvin lebih memahami kondisi ACL, dokter itu bahkan membuka beberapa video di YouTube yang menjelaskan cara kerja ligamen lutut dan seperti apa kerusakannya ketika mengalami robekan.
Arvin menyimak.
Istilah ACL yang sebelumnya hanya ia temukan dalam artikel dan video kini berkaitan langsung dengan tubuhnya sendiri.
Namun memahami diagnosis belum membuatnya siap menjalani operasi.
Arvin masih mencari kepastian.
Ia membawa hasil pemeriksaan tersebut untuk berkonsultasi lagi. Dalam pencariannya, ia mendatangi tiga rumah sakit dan berbicara dengan empat dokter ortopedi.
Ia bertanya lagi.
Mendengar penjelasan lagi.
Mencari kemungkinan lain.
Tetapi jawaban yang diterimanya tetap sama.
ACL lutut kirinya robek.
Operasi menjadi pilihan yang disarankan.
Tidak ada vitamin yang dapat menyambungkan kembali ligamen yang telah robek.
Empat dokter.
Tiga rumah sakit.
Satu kesimpulan.
Pencarian Arvin akhirnya berhenti bukan karena ia menemukan jawaban yang berbeda, melainkan karena semua jawaban yang ia dapatkan ternyata sama.
Ia akan menjalani operasi.
Keputusan itu tidak langsung menghilangkan rasa takut.
Namun setidaknya, untuk pertama kalinya sejak sore di Pangkalan Brandan, Arvin tahu apa yang sedang ia hadapi.
Dan setelah mengetahui apa yang rusak, ia harus menentukan bagaimana memperbaikinya.
***
Belajar Berjalan Lagi

Pada Selasa pagi, 7 Juli 2026, Arvin datang ke Rumah Sakit Haji Medan untuk menjalani rawat inap.
Administrasi diurus. Berkas ditandatangani. Sembari menunggu proses itu selesai, asisten dr. Yudha menghubunginya melalui telepon untuk memastikan jadwal operasi keesokan harinya.
Arvin akhirnya diterima sebagai pasien rawat inap sekaligus pasien operasi.
Dua gelang identitas kemudian dipasang di pergelangan tangannya.
Gelang kuning menandakan pasien rawat inap.
Gelang biru menandakan pasien operasi.
Malam harinya, cairan infus dipasang di tangan kiri. Arvin diwajibkan berpuasa mulai pukul 10 malam.
Besok pagi, lutut kirinya akan dibedah.
***
Pukul delapan pagi, Arvin berbaring di atas ranjang yang membawanya turun dari lantai tiga menuju lantai satu, tempat ruang operasi berada.
Safrina berjalan mendampinginya.
Ia terus mengikuti ranjang itu sampai ke depan pintu ruang operasi.
Sebelum berpisah, Arvin menatap istrinya.
“Do’ain ya, Ma. Operasinya lancar.”
Safrina kemudian menunggu di kursi di luar.
Arvin masuk.
Ia diam.
Di dalam ruang operasi, beberapa tenaga medis sudah bersiap. Mereka mengenakan APD berwarna biru. Dokter dan timnya bekerja sebagai satu kesatuan. Ada pula petugas anestesi yang mempersiapkan pembiusan.
Sebelum tindakan dimulai, Arvin masih sempat berbincang dengan tim medis.
Dokter menjelaskan sekilas kondisi lututnya.
Di sebelah kiri terdapat layar monitor.
Arvin kemudian menjalani anestesi pada kakinya. Tirai dipasang sehingga pandangannya tidak langsung mengarah ke lutut.
Tetapi ia belum tertidur.
Bius sudah bekerja.
Kakinya mulai tidak terasa.
Kesadarannya masih ada.
Dari layar monitor, Arvin sempat melihat apa yang sedang dikerjakan dokter.
Kamera kecil yang menjadi bagian dari alat artroskopi masuk ke dalam lutut. Gambar dari kamera itu muncul di monitor.
Untuk beberapa saat, Arvin menyaksikan bagian dalam lututnya sendiri.
Ia tahu bahwa gambar itu berasal dari tubuhnya.
Seorang wartawan yang selama ini terbiasa melihat dunia melalui pengamatan kini melihat sesuatu yang tidak pernah bisa ia lihat dengan mata telanjang: bagian dalam lututnya sendiri.
Setelah itu rasa kantuk datang.
Kesadarannya perlahan hilang.
Operasi berlangsung sekitar dua jam.
***
Ketika terbangun, hal pertama yang dirasakan Arvin bukan rasa sakit yang hebat.
Ia mengantuk.
Berat sekali.
Kaki kirinya masih kebas. Lututnya sudah dibalut perban elastis berwarna cokelat.
Ia kembali tertidur.
Dari ruang operasi, Arvin kemudian dibawa ke ruang pemulihan. Sekitar lima jam ia berada di sana. Ada lima pasien lain yang juga baru menjalani operasi.
Lebih banyak waktu ia habiskan untuk tidur.
Ketika mulai sadar, kaki kirinya belum dapat digerakkan.
Baru setelah kembali ke kamar rawat inap, ia bisa melihat lebih jelas balutan yang menutupi lututnya.
Tubuhnya belum siap bergerak seperti sebelumnya.
Tetapi pikirannya sudah mulai kembali kepada pekerjaan.
Tiga hari setelah operasi, ketika sudah dipindahkan ke kamar rawat inap, Arvin kembali membuka ponselnya.
Berita dari wartawan ArmadaBerita di berbagai daerah di Sumatera masuk satu per satu.
Ia membacanya sambil tiduran.
Mengedit.
Memeriksa.
Lalu mengirimkan naskah yang sudah disunting kepada Novian, wartawannya, untuk diterbitkan.
Hari itu Arvin belum kembali memegang seluruh proses penerbitan sendiri.
Namun pekerjaannya sudah kembali.
Hari kelima, Arvin diizinkan pulang.
Dari kamar rawat inap ia didudukkan di kursi roda dan dibantu perawat hingga ke lobi rumah sakit. Di depan mobil Grab, Safrina dan putrinya membantu memapahnya masuk.
Mobil kemudian membawa mereka pulang.
Di rumah, Arvin turun dari mobil.
Kali ini ia berjalan sendiri.
Dua tongkat menyangga berat tubuhnya.
Ia masuk ke kamar dan langsung berbaring di kasur.
Rumah itu kembali menjadi ruang pemulihan sekaligus ruang kerja.
Namun sebelum kembali bekerja seperti biasa, Arvin harus belajar melakukan sesuatu yang jauh lebih mendasar.
Berjalan.
***
Sesuai rekomendasi dr. Yudha, Arvin menjalani kontrol pada minggu pertama setelah operasi.
Minggu kedua, ia kembali menemui dokter yang sama.
Minggu ketiga, ia mulai menjalani fisioterapi.
Ruang fisioterapi berada di gedung berbeda.
Di sana ia bertemu dr. Multhazam.
Latihan pertamanya dimulai dengan kompres es selama sekitar 15 menit.
Setelah itu, ia mulai belajar menggerakkan kaki.
Kemudian menekuk lutut.
Gerakan yang dulu begitu sederhana kini menjadi latihan.
Dan ketika pertama kali lutut itu ditekuk, rasa sakitnya sangat kuat.
Arvin tetap menjalani latihan.
Ia juga tetap bisa bercanda.
Dalam salah satu sesi, ia diminta menjepit bola karet sebagai bagian dari latihan.
Arvin justru memperhatikan bola itu dengan cemas.
“Dok, ini kalau pecah gimana?”
Terapis menjawab santai.
“Gak akan pecah itu. Kalau pecah saya ganti dua puluh.”
Arvin tertawa.
“Ya udah, saya pecahkan. Nanti saya bawa satu ke rumah ya, Dok.”
Terapis ikut tertawa.
Di antara rasa sakit dan latihan yang melelahkan, candaan kecil itu membuat ruang fisioterapi terasa lebih ringan.
Tetapi latihan tetap harus berjalan.
Lutut yang semula nyaris tidak bisa digerakkan perlahan mulai memiliki ruang gerak.
Dari hari ke hari, tekukannya semakin baik.
Arvin kemudian mulai berlatih berjalan di rumah.
Masih menggunakan kruk.
Masih perlahan.
Namun ada perubahan yang bisa ia rasakan sendiri.
Kaki yang pada awal pemulihan belum dapat digerakkan kini sudah hampir dapat ditekuk dan digerakkan dengan sempurna.
Tubuhnya sedang belajar kembali.
Dan kali ini, setiap langkah memiliki arti.
***
Jalan Pulang ke Lapangan

Di rumah, Arvin sudah bisa duduk di kursi dengan normal.
Lutut kirinya juga semakin mudah digerakkan. Dari yang semula nyaris tidak dapat ditekuk, kini gerakannya sudah hampir sempurna. Ia mulai berlatih berjalan-jalan di dalam rumah dengan bantuan kruk.
Namun rumah tetaplah rumah.
Bagi Arvin, menjadi wartawan bukan hanya soal duduk di depan layar dan menyunting naskah yang dikirim orang lain.
Ia merindukan lapangan.
“Dah rindu aku ke lapangan lagi, Ma.”
Kalimat itu pernah ia ucapkan kepada Safrina ketika sedang duduk di belakang rumah sambil mengedit berita.
Bukan karena ia tidak bisa bekerja dari rumah.
Ia masih dapat menerima kiriman berita dari wartawan daerah. Ia masih dapat mengeditnya dari kamar, bahkan dari belakang rumah. Pagi sampai malam, tergantung berita yang masuk, pekerjaannya tetap berjalan.
Tetapi ada sesuatu yang hilang.
Di lapangan, Arvin bisa melihat sendiri apa yang sedang terjadi.
Ia bisa mengamati keadaan di lokasi, mendengar suara orang-orang, merasakan suasana, bertemu narasumber dari berbagai latar belakang, lalu menentukan sendiri ke mana sebuah cerita akan dibawa.
Apakah menjadi berita langsung.
Apakah cukup menjadi informasi.
Apakah bisa dikembangkan menjadi tulisan humanis.
Atau justru ditemukan sebuah sudut pandang yang tidak terlihat dari meja redaksi.
Menurut Arvin, itulah nilai lebih seorang wartawan yang datang sendiri ke lokasi.
Kalau hanya mengedit dari rumah, ia terbatas pada narasi yang dikirim wartawan lapangan dan bahan dari berbagai referensi. Di lokasi, ia dapat melihat dengan mata sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, mengajukan pertanyaan, dan menemukan detail yang mungkin tidak masuk dalam laporan awal.
Ia pernah merasakannya ketika membaca berita tentang Geopark Kaldera Toba.
Berita-berita yang ia temukan banyak menggambarkan Danau Toba sebagai tempat yang indah.
Arvin merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar pemandangan.
Ia kemudian pergi ke Parapat dan Samosir.
Melihat sendiri.
Mengamati.
Bertemu orang-orang.
Dari sana ia menemukan sisi lain Danau Toba: bukan hanya keindahan alam, tetapi juga sejarah dan budaya masyarakat lokal yang tidak selalu muncul dalam tulisan tentang kawasan itu.
Pengalaman seperti itulah yang dirindukannya.
Karena itu, ketika nanti dokter mengizinkannya kembali beraktivitas di luar rumah, ia tidak hanya ingin mengendarai motor lagi.
Ia ingin kembali menjadi wartawan lapangan.
Dokter mengatakan pemulihan paling cepat membutuhkan sekitar tiga bulan. Selama masa itu, aktivitas berkendara harus dihindari. Bahkan ketika mendengar bahwa pemulihan dapat berlangsung tiga sampai lima bulan, Arvin sempat lemas.
Membayangkan harus berbulan-bulan berada di rumah bukan perkara mudah baginya.
Ia ingin kembali bergerak.
Kembali bertemu orang.
Kembali membawa catatan.
Kembali pulang dengan cerita.
Dan jika sudah diperbolehkan turun meliput, ia tahu jenis cerita apa yang ingin dicarinya.
Ia ingin mendatangi masyarakat yang membutuhkan perhatian. Warga miskin yang tidak berdaya secara ekonomi. Orang-orang yang menderita penyakit dan kesulitan memperoleh pertolongan. Pelaku UMKM yang membutuhkan dukungan. Juga orang-orang biasa yang menyimpan kisah tentang keteguhan, kebaikan, dan perjuangan.
Tempatnya bisa di mana saja.
Orangnya bisa siapa saja.
Pedagang.
Ibu rumah tangga.
Buruh.
Dokter.
Orang dengan keterbatasan fisik.
Atau siapa pun yang memiliki sesuatu untuk dipelajari dan dibagikan kepada orang lain.
Bagi Arvin, tulisan semacam itu bukan sekadar berita.
Ada manfaat yang ingin ditinggalkannya.
Ada nilai ibadah yang ia rasakan ketika sebuah tulisan dapat membantu seseorang atau memberi pengetahuan kepada pembacanya.
Mungkin karena itu pula, dalam beberapa tahun terakhir ia mulai mengurangi tulisan yang terlalu banyak mengangkat kinerja pejabat atau lembaga. Ia merasa ruang kritik semakin rentan terhadap kriminalisasi dan sengketa hukum.
Ia memilih arah lain.
Menulis tentang manusia.
Tentang mereka yang berjuang dalam keterbatasan.
Tentang orang-orang yang tetap bekerja meski keadaan tidak mudah.
Tentang mereka yang memiliki keteguhan dan dapat memberi pelajaran kepada orang lain.
Bagi Arvin, bertemu orang-orang itu seperti mengikuti kuliah umum tanpa ruang kelas.
Selalu ada sesuatu yang baru untuk dibawa pulang.
Tetapi sebelum kembali mengejar cerita-cerita itu, ia masih harus menyelesaikan satu cerita terlebih dahulu.
Cerita tentang tubuhnya sendiri.
Fisioterapi masih berjalan.
Kruk masih berada dalam jangkauan.
Lutut kirinya masih membutuhkan waktu untuk pulih.
Dan motor yang biasa membawanya menuju lokasi liputan masih harus menunggu.
Namun ada satu tujuan yang sudah jelas di kepalanya.
Ketika ditanya apa yang paling ingin dilakukannya setelah pulih, jawabannya justru sederhana.
“Jumpa sama kawan-kawan pewarta di markas Polrestabes Medan.”
Ia ingin duduk bersama teman-teman wartawan.
Duduk di kantin Polrestabes Medan.
Kembali bergabung dengan mereka.
Lalu, jika ada kabar tentang sebuah peristiwa, berangkat bersama ke lokasi.
Kembali melihat sendiri.
Kembali bertanya.
Kembali mencatat.
Kembali menulis dari lapangan.
Sebab bagi Arvin, ada perbedaan besar antara menulis tentang sebuah tempat dari depan laptop dan menulis setelah berdiri sendiri di sana.
Di lapangan, ia bisa menggunakan seluruh indranya.
Melihat.
Mendengar.
Merasakan.
Bertanya.
Menemukan.
Lalu menentukan sendiri ke mana sebuah cerita harus dibawa.
Itulah kebebasan yang paling ia rindukan.
Bukan sekadar kebebasan untuk mengendarai motor.
Bukan sekadar kebebasan untuk meninggalkan rumah.
Melainkan kebebasan untuk kembali berkarya dari tempat cerita itu bermula.
Untuk sementara, ia masih duduk di rumah.
Masih mengedit berita dari kamar.
Masih bekerja dari belakang rumah.
Sepasang kruk masih berada di dekatnya.
Tetapi kali ini, kruk itu tidak lagi hanya menjadi penanda tentang apa yang belum bisa ia lakukan.
Ia juga menjadi pengingat tentang seberapa jauh ia telah berjalan.
Dari aspal Pangkalan Brandan.
Ke ruang pemeriksaan.
Ke ruang operasi.
Ke ruang fisioterapi.
Lalu perlahan kembali berdiri.
Jalannya memang belum selesai.
Tetapi arahnya sudah jelas.
Ke lapangan.











