Sepasang Kruk dan Jalan Pulang Ke Lapangan

Kruk yang selalu menemani Arvin
Share

Sepasang Kruk di Samping Kasur

Sepasang kruk aluminium tak pernah jauh dari Arvin Syahputra Nasution, 42 tahun.

Saat tidur, kruk itu bersandar di sisi kasur. Ketika menuju kamar mandi, ia memindahkannya ke dekat pintu. Saat makan bersama istri dan dua anaknya di atas karpet, kruk itu kembali diletakkan di samping tubuhnya. Bahkan ketika duduk di halaman belakang rumahnya yang sempit—berlantai tanah, dengan sebuah motor bebek tua terparkir di sudut halaman dan dua kursi plastik menghadap tembok rumah tetangga—kruk itu tetap berada dalam jangkauan.

Sejak menjalani operasi rekonstruksi ligamen lutut kiri, benda itu menjadi bagian dari setiap langkahnya.

Namun, satu hal tidak ikut berubah.

Telepon genggamnya nyaris tak pernah sepi.

Nada notifikasi WhatsApp berulang kali terdengar. Satu demi satu berita kiriman wartawan dari berbagai daerah di Sumatera masuk ke layar ponselnya. Arvin membaca, menyunting, lalu mengirimkan kembali hasil editannya. Di rumah, laptop menyala dan menjadi tempat ia melanjutkan pekerjaan redaksi.

Tak ada ruang kerja khusus.

Tak ada meja kantor.

Yang ada hanyalah kamar, kasur, sambungan Wi-Fi, telepon genggam, laptop, dan tekad untuk memastikan media yang ia dirikan tetap hidup.

“Armadaberita.com sudah kuanggap seperti anak kandungku.”

“Waktuku banyak kuhabiskan untuknya. Kalau bukan aku yang membesarkannya, siapa lagi? Ia harus kurawat, kukembangkan, dan kubesarkan dengan tanganku sendiri sampai berhasil.”

Di rumah sederhana itu, Arvin sedang memulihkan lututnya.

Tetapi pada saat yang sama, ia juga sedang merawat sesuatu yang telah dibangunnya dengan tangannya sendiri.

ArmadaBerita.com.

Media itu bukan hadir secara tiba-tiba.

Pada 2019, Arvin meraih Juara II Lomba Karya Tulis Jurnalistik yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan. Ia memperoleh sertifikat dan hadiah uang tunai Rp10 juta.

Uang penghargaan itu kemudian digunakan untuk mendirikan ArmadaBerita.com.

Kini, enam tahun sudah media tersebut berjalan.

Dan meskipun tubuh Arvin sedang dipaksa berhenti dari aktivitas lapangan, pekerjaannya tidak ikut berhenti.

Selama jari-jarinya masih mampu mengetik, berita tetap harus terbit.

Wartawan yang Tak Pernah Berhenti Bekerja

Arvin mengedit berita di kamarnya. Berita itu kiriman dari para wartawan daerah. Meskipun lututnya cedera dan baru selesai dioperasi, ia sudah kembali bekerja.

Bagi Arvin, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan.

Menulis berita telah menjadi ritme hidup yang sulit dipisahkan darinya.

Lebih dari 15 tahun ia menjalani profesi jurnalistik. Ia pernah bekerja di Metro24Jam, kemudian Media24Jam. Setelah bertahun-tahun bekerja di media orang lain, ia memilih membangun media daringnya sendiri.

ArmadaBerita.com memberinya ruang untuk mengembangkan gagasan jurnalistik dengan caranya sendiri.

Risikonya tentu ada.

Penghasilan tidak selalu menentu. Beban kerja justru bertambah. Ia harus memikirkan berita, mengedit naskah, mengelola penerbitan, sekaligus memastikan medianya tetap berjalan.

Tetapi Arvin merasa pilihan itu sepadan.

Ia tidak ingin berhenti.

Bahkan ketika menjadi pasien, naluri jurnalistiknya tetap bekerja.

Setelah kecelakaan yang membuat lutut kirinya bermasalah, ia tidak hanya mendatangi dokter. Ia juga mencari informasi. Ia membaca artikel-artikel mengenai cedera ACL, menonton seminar ortopedi di YouTube, mengikuti penjelasan mengenai rehabilitasi lutut, dan mempelajari tahapan fisioterapi.

Sebagai wartawan, ia terbiasa mencari jawaban setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang belum dipahami.

Kali ini, objek pencariannya adalah tubuhnya sendiri.

Di rumah, kebiasaan bekerja itu tetap berjalan.

Berita dari para wartawan ArmadaBerita.com masuk melalui WhatsApp. Sebagian besar naskah diedit dari ponsel. Setelah selesai, naskah dikirim ke WhatsApp pribadinya, lalu dibuka melalui WhatsApp Web untuk diteruskan ke meja penerbitan.

Rumah yang sederhana itu berubah menjadi ruang redaksi kecil.

Kamar menjadi meja kerja.

Kasur menjadi tempat laptop diletakkan.

Ponsel menjadi alat untuk membaca dan mengedit.

Kruk menjadi benda yang selalu berada dalam jangkauan.

Berita dari berbagai daerah tetap berdatangan.

Ada laporan kecelakaan, kegiatan pemerintahan, kriminalitas, hingga kisah-kisah masyarakat yang dianggap layak diberitakan.

Arvin tetap mengedit.

Tetap membaca.

Tetap menerbitkan.

Ia tidak sedang mengejar sekadar jumlah berita.

Ia sedang merawat sesuatu yang telah dibangunnya bertahun-tahun.

Kesungguhannya dalam jurnalistik juga pernah membawanya meraih sejumlah penghargaan lain. Pada 2022, ia meraih Juara III Lomba Karya Tulis Jurnalistik Shell. Pada 2025, ia kembali meraih Juara III dalam lomba karya tulis KOJAM melalui tulisan mengenai layanan kesehatan gratis. Pada 2026, ia memperoleh Penghargaan Harapan V dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik APRDI.

Arvin Syahputra Nasution saat menerima bingkiran hadiah Juara III Lomba Karya Tulis Jurnalistik Shell 2022 yang dikirim ke rumahnya.

Namun penghargaan tidak membuat kebiasaannya berubah.

Setelah menerima penghargaan, ia kembali bekerja.

Mengejar berita.

Mengedit naskah.

Memastikan berita terbit.

Barangkali karena itulah, ketika musibah menimpanya, naluri jurnalistik tersebut tidak ikut berhenti.

Ia justru melakukan apa yang paling ia kuasai: mencari informasi.

Semakin banyak yang dibaca, semakin ia memahami bahwa keputusan mengenai tubuhnya tidak boleh diambil hanya berdasarkan dugaan.

Ia membutuhkan kepastian.

Dan kepastian itu bermula dari sebuah perjalanan keluarga.

Sore yang Mengubah Arah

Arvin Syahputra Nasution, jurnalis yang kerap. Juara lomba menulis jurnalistik kini sedang menjalani terapi pemulihan pascaoperasi lutut. 

Seminggu setelah Idulfitri, Arvin mengajak keluarganya bertolak ke Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat.

Mereka hendak menghadiri pesta pernikahan sepupu Safrina sekaligus berlibur sejenak di rumah mertua.

Kali itu yang ikut adalah Arvin, Safrina, dan putra mereka, Naufal Armada.

Putri sulung mereka, Naura, tinggal di rumah.

Arvin mengendarai sepeda motor bebek kesayangannya. Safrina duduk paling belakang, sementara Naufal berada di tengah.

Tidak ada firasat apa pun.

Perjalanan berlangsung seperti perjalanan keluarga pada umumnya. Mereka melaju menuju Pangkalan Brandan tanpa membayangkan bahwa sore itu akan mengubah arah hidup Arvin untuk beberapa bulan ke depan.

Sekitar pukul empat sore, ketika sepeda motor yang dikendarainya melaju di kawasan Pangkalan Brandan, sebuah sepeda motor datang dari arah belakang dengan kecepatan tinggi.

Pengendaranya, seorang remaja, berusaha menyalip.

Dalam hitungan detik, pelat nomor kedua sepeda motor saling bertaut.

Arvin bereaksi spontan.

Ia membanting setang ke kiri untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain.

Namun tubuhnya tak sempat menghindar.

Yang menghantam aspal adalah telapak kaki kirinya.

Arvin mengenakan sepatu hitam.

Tiga kali telapak kaki itu menghantam aspal.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Nyeri segera terasa.

Arvin menghentikan sepeda motornya di tepi jalan. Warga yang melihat kejadian itu berdatangan. Beberapa orang membantunya berdiri dan membawanya ke sebuah warung di pinggir jalan.

Seseorang menyodorkan minuman.

Tak lama kemudian, semangkuk sop kaki sapi disajikan di hadapannya.

Ada pula yang mengurut kakinya, berharap rasa sakit itu hanya akibat benturan biasa.

Namun Arvin tidak sanggup berdiri dengan normal.

Safrina kemudian mengambil alih kemudi sepeda motor.

Arvin dan Naufal dibonceng menuju rumah orang tua Safrina.

Karena pada lututnya tidak tampak luka terbuka ataupun darah, mereka mengira cedera itu tidak serius.

Malam itu, setelah beristirahat sejenak, keluarga kecil tersebut memutuskan kembali ke rumah mereka di Jalan Duku Raya, Kecamatan Percut Sei Tuan.

Mereka tidak tahu bahwa rasa sakit yang dibawa pulang Arvin bukan berasal dari luka yang tampak di permukaan.

Keesokan harinya, nyeri pada lutut kiri tidak juga mereda.

Arvin masih bisa berdiri, tetapi setiap langkah kembali disertai rasa sakit.

Lututnya semakin sulit ditekuk.

Selama dua pekan berikutnya, ia memilih menjalani pengobatan tradisional di Kemkem.

Berkali-kali lututnya diurut.

Ia berharap cedera itu hanya persoalan otot atau urat yang bergeser sehingga dapat pulih tanpa tindakan medis.

Harapan itu tidak menjadi kenyataan.

Rasa nyeri tetap bertahan.

Lutut kirinya tak kunjung bisa ditekuk.

“Kulihat tak adanya luka, tapi kok sakit kali di dalam dan tak bisa kakiku ini ditekuk,” kenangnya.

Sebagai wartawan, Arvin terbiasa mencari jawaban setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang tidak ia pahami.

Kali ini, ia mencari jawaban tentang tubuhnya sendiri.

Ia mulai membaca artikel-artikel mengenai cedera lutut. Menonton seminar ortopedi di YouTube. Mencari penjelasan dari berbagai kanal kesehatan dan media massa.

Semakin banyak informasi yang ia baca, semakin ia menyadari bahwa rasa sakit itu mungkin bukan sekadar akibat benturan biasa.

Karena itu ia memutuskan mencari kepastian medis.

Mencari Kepastian

Selembar kertas hasil MRI cedera lutut Arvin

Rasa sakit di lutut kiri Arvin tak kunjung pergi.

Dua pekan menjalani pengobatan tradisional tak membawa perubahan berarti. Lututnya tetap sulit ditekuk. Setiap melangkah, nyeri itu kembali mengingatkannya pada benturan di Pangkalan Brandan yang semula ia kira hanya cedera biasa.

Semakin banyak informasi yang ia baca, semakin ia merasa membutuhkan jawaban yang pasti.

Di tengah pencarian itu, ia teringat sebuah kartu layanan kesehatan yang tersimpan di dompetnya.

Beberapa bulan sebelumnya, saat meliput kegiatan di Kodam I/Bukit Barisan, ia bersama sejumlah wartawan menerima kartu berobat yang dapat digunakan di Rumah Sakit Putri Hijau Medan.

Saat menerimanya, ia tak pernah membayangkan kartu itu akan digunakan untuk dirinya sendiri.

Pada 7 Mei 2026, Arvin datang ke Rumah Sakit Putri Hijau bersama Safrina.

Setelah berkonsultasi dengan dokter ortopedi, ia menjalani pemeriksaan MRI pada hari yang sama.

Dokter yang pertama kali memberikan penjelasan mengenai kondisi lututnya adalah dr. Rico.

Dari penjelasan dr. Rico, Arvin mulai mengetahui bahwa cedera yang dialaminya berkaitan dengan ligamen ACL.

Beberapa hari kemudian, ia bertemu dr. Prasojo.

Penjelasan yang diterimanya hampir sama.

Ligamen ACL mengalami robekan.

Operasi disarankan.

Laporan MRI kemudian sampai ke tangan dr. Prasojo. Di ruang praktik, dokter itu membantu Arvin memahami cedera yang dialaminya dengan cara yang lebih mudah.

Dr. Prasojo menunjukkan video animasi mengenai operasi ACL.

Animasi itu memperlihatkan bagaimana ligamen bekerja menjaga kestabilan lutut dan mengapa robekan ACL tidak dapat kembali seperti semula hanya dengan obat atau vitamin.

“Ligamennya robek. Ini harus dioperasi. Kalau dibiarkan tidak bisa sembuh.”

Ruangan terasa sunyi.

Arvin terdiam.

Berhari-hari ia mencari jawaban atas rasa sakit yang tak kunjung hilang.

Kini jawaban itu datang.

Namun jawaban tersebut justru menghadirkan kenyataan yang paling tidak ingin ia dengar.

“Lah kok bisa begini lututku?” batinnya.

Beberapa saat kemudian ia mengangkat kepala.

“Apa enggak ada alternatif lain, Dok, selain operasi? Apa enggak bisa hanya minum vitamin supaya ligamennya bagus lagi?”

Jawabannya tetap sama.

Tidak ada obat atau vitamin yang dapat menyambungkan kembali ligamen yang telah robek.

Untuk mengembalikan kestabilan lutut, operasi merupakan tindakan yang disarankan.

Namun Arvin belum ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan satu pendapat.

Ia mencari pendapat kedua.

Kemudian pendapat ketiga.

Setelah dr. Rico dan dr. Prasojo, ia berkonsultasi dengan dr. Jhon di RS Amri Tambunan, Deli Serdang.

Jawabannya tetap serupa.

Kemudian ia berkonsultasi dengan dr. Yudha.

Empat dokter.

Tiga rumah sakit.

Satu kesimpulan.

ACL kirinya robek.

Operasi merupakan jalan yang disarankan.

Tidak ada obat ataupun vitamin yang dapat menyambungkan kembali ligamen tersebut.

Arvin akhirnya berhenti mencari jawaban yang berbeda.

Bukan karena ia menemukan jalan lain.

Justru karena semua jawaban yang diterimanya sama.

Ia akan menjalani operasi.

Dan pada 7 Juli 2026, perjalanan itu membawanya ke RS Haji Medan.

Sepasang Kruk dan Jalan Pulang ke Lapangan

Arvin terbaring di RS Haji Medan menunggu jadwal operasi ACL

7 Juli 2026 — Masuk Rumah Sakit

Pada Selasa, 7 Juli 2026, Arvin datang ke RS Haji Medan.

Ia mengurus administrasi, menandatangani sejumlah berkas, lalu menunggu proses rawat inap selesai.

Di tengah proses itu, asisten dr. Yudha menghubunginya melalui telepon untuk memastikan bahwa operasi akan dilakukan keesokan pagi.

Arvin akhirnya resmi menjadi pasien rawat inap sekaligus pasien operasi yang akan ditangani langsung oleh dr. Yudha, dokter spesialis ortopedi.

Dua gelang identitas dipasang di pergelangan tangannya.

Gelang kuning menandakan pasien rawat inap.

Gelang biru menandakan pasien operasi.

Malam harinya, cairan infus dipasang di tangan kiri.

Arvin diwajibkan berpuasa mulai pukul 22.00.

Keesokan pagi, ia akan masuk ruang operasi.

RS Haji Medan sendiri bukan rumah sakit yang asing dengan kasus ortopedi maupun pasien kecelakaan. Menurut drg. Anda Siregar, MKes, Kepala Bagian Umum RS Haji Medan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 terdapat 654 tindakan operasi ortopedi. Dalam periode yang sama, rumah sakit itu juga menangani 90 pasien kecelakaan lalu lintas.

Angka-angka tersebut memberi konteks tentang aktivitas medis yang berlangsung di rumah sakit itu.

Namun bagi Arvin, pagi berikutnya tetap terasa sangat personal.

8 Juli 2026 — Ruang Operasi

Pagi 8 Juli 2026, sekitar pukul 08.00, Arvin dibawa dari lantai tiga menuju lantai satu.

Ia berbaring di atas ranjang.

Safrina terus mendampinginya hingga ke depan pintu ruang operasi. Setelah itu, ia menunggu di kursi.

Arvin diam.

Sebelum masuk, ia menoleh kepada istrinya.

“Do’ain ya, Ma. Operasinya lancar.”

Itulah kata-kata terakhirnya kepada Safrina sebelum pintu ruang operasi memisahkan mereka.

Di dalam, suasananya berbeda.

Lampu operasi berada tepat di atas tubuhnya. Dokter dan tim bekerja bersama. Mereka mengenakan APD berwarna biru.

Sempat ada percakapan ringan sebelum tindakan dimulai.

Arvin masih sadar ketika anestesi mulai bekerja.

Kaki kirinya perlahan kebas.

Pandangan kemudian dibatasi tirai sehingga ia tidak dapat melihat langsung tindakan pada lututnya.

Namun kamera kecil pada alat artroskopi mengirimkan gambar dari dalam lutut ke layar monitor yang berada di sebelah kanan Arvin.

Ia masih sadar.

Bius sudah bekerja pada kakinya, tetapi rasa kantuk belum sepenuhnya datang.

Ia bahkan sempat melihat lututnya sendiri melalui layar.

Arvin tahu gambar itu bukan sekadar gambar medis.

Itu bagian dari tubuhnya.

Bagian yang selama berminggu-minggu membuatnya kesulitan menggerakkan dan menekuk kaki.

Untuk sesaat, seorang wartawan melihat tubuhnya sendiri seperti sedang menyaksikan sebuah liputan.

Bedanya, kali ini ia bukan orang yang mengamati peristiwa dari luar.

Ia adalah peristiwa itu sendiri.

Tak lama kemudian rasa kantuk mulai datang.

Kesadarannya perlahan menghilang.

Operasi berlangsung sekitar dua jam.

Setelah selesai, Arvin dipindahkan ke ruang pemulihan.

Hari Ketiga — Berita Tetap Harus Terbit

Hal pertama yang ia rasakan ketika mulai sadar bukanlah rasa sakit yang hebat.

Ia mengantuk berat.

Efek anestesi masih terasa.

Kaki kirinya kebas dan belum dapat digerakkan seperti biasa.

Setelah sempat sadar, ia kembali tertidur.

Di ruang pemulihan terdapat sekitar lima pasien lain yang juga baru selesai menjalani operasi.

Sekitar lima jam kemudian, Arvin kembali ke kamar rawat inap.

Barulah di sana ia dapat melihat kondisi lututnya dengan lebih jelas.

Kakinya sudah dibalut perban elastis berwarna cokelat.

Namun pemulihan tubuh tidak membuat naluri kerjanya ikut berhenti.

Tiga hari setelah operasi, Arvin kembali mengedit berita.

Ia belum menggunakan laptop.

Ponsel Android menjadi alat kerjanya.

Hari pertama bekerja setelah operasi itu ia masih tiduran di kamar rawat inap. Berita-berita dari wartawan ArmadaBerita.com tetap masuk melalui WhatsApp.

Naskah dari berbagai daerah di Sumatera ia baca dan edit satu demi satu.

Setelah selesai, ia meminta bantuan Novian, salah seorang wartawannya, untuk menerbitkan berita tersebut.

Arvin belum memegang kendali penerbitan secara penuh.

Namun ia sudah kembali bekerja.

Di rumah sakit, tubuhnya sedang dipulihkan.

Di layar ponsel, redaksinya tetap berjalan.

Hari Kelima — Pulang

Lima hari setelah operasi, Arvin diperbolehkan pulang.

Selama dirawat, ia belum menggunakan kruk seperti sekarang. Ia baru dapat membawa dan menggunakannya kembali sehari sebelum diperbolehkan pulang.

Dari kamar rawat inap menuju lobi RS Haji, Arvin duduk di kursi roda. Perawat membantu mengantarnya hingga ke pintu mobil.

Safrina dan putrinya kemudian membantu Arvin masuk ke mobil Grab.

Setiba di rumah, mobil berhenti tepat di depan pintu.

Kali ini Arvin keluar sendiri.

Dengan sepasang kruk, ia berjalan menuju rumah.

Masuk ke kamar, ia langsung berbaring di kasur.

Kamar itu kembali menjadi ruang kerja.

Namun kali ini ia sudah tidak bekerja dengan ponsel saja.

Laptop kembali dibuka.

Minggu Pertama — Kontrol

Pada minggu pertama setelah operasi, Arvin kembali menemui dr. Yudha untuk kontrol.

Ia belum boleh kembali menjalani kehidupan seperti sebelum kecelakaan.

Dokter mengingatkan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu.

Aktivitas berkendara harus dihindari.

Pemulihan paling cepat diperkirakan sekitar tiga bulan, sementara proses pemulihan keseluruhan dapat berlangsung sekitar tiga hingga lima bulan.

Mendengar rentang waktu itu, Arvin sempat lemas.

Tiga sampai lima bulan berarti berbulan-bulan di rumah.

Berbulan-bulan tanpa motor.

Berbulan-bulan tanpa turun ke lapangan.

Bagi orang lain, itu mungkin hanya masa pemulihan.

Bagi seorang wartawan lapangan, itu terasa seperti kehilangan sebagian kebebasan.

Namun pekerjaannya tetap berjalan.

Arvin mengedit berita di belakang rumahnya saat sore menjelang malam. Meski lututnya baru selesai dioperasi, ia sudah kembali bekerja menyunting berita kiriman wartawan daerah.

Di rumah, Arvin mengedit berita dari kamar dan kadang dari belakang rumah. Ia dapat bekerja sejak pagi hingga malam, tergantung seberapa banyak berita yang masuk dari wartawan daerah.

Kruk selalu berada dalam jangkauan.

Tetapi kini ia sudah dapat duduk di kursi dengan normal.

Tidak ada pekerjaan redaksi yang benar-benar harus ia lepaskan kepada orang lain.

Semua masih dapat ia tangani sendiri.

Yang berubah hanya satu:

Ia belum bisa pergi mencari berita secara langsung.

Minggu Kedua — Masih Menunggu

Kontrol kedua dilakukan pada minggu berikutnya.

Kondisi lutut mulai bergerak menuju tahap yang lebih baik, tetapi perjalanan belum selesai.

Arvin masih berada di rumah.

Belum kembali mengendarai motor.

Belum kembali ke TKP.

Belum kembali duduk di kantin Polrestabes Medan bersama kawan-kawan wartawan.

Belum kembali berjalan dari satu narasumber ke narasumber lain.

Pekerjaan yang biasanya dilakukan sambil bergerak kini harus dikerjakan dari tempat yang sama.

Justru di situlah kerinduannya mulai terasa.

Suatu ketika, saat duduk di belakang rumah sambil mengedit berita, ia berkata kepada Safrina:

“Dah rindu aku ke lapangan lagi, Ma.”

Safrina tahu apa yang dimaksud suaminya.

Yang dirindukan Arvin bukan sekadar mengendarai motor.

Ia merindukan kebebasan bergerak.

Merindukan bertemu orang.

Merindukan melihat sendiri sebuah peristiwa.

Merindukan sensasi ketika tiba di lokasi dan harus menentukan: tulisan ini akan dibawa ke mana?

Straight news?

Human interest?

Headline?

Informasi?

Atau edukasi?

Bagi Arvin, perbedaan antara mengedit dari rumah dan meliput langsung bukan perkara kecil.

Di depan laptop atau ponsel, ia hanya menerima narasi yang dikirim wartawan lapangan.

Di TKP, ia dapat menggunakan mata, telinga, dan seluruh indranya.

Ia dapat melihat kondisi secara langsung, merasakan atmosfer tempat kejadian, mengajukan pertanyaan kepada narasumber, bertemu orang dari berbagai latar belakang, lalu menemukan sudut pandang yang tidak ada dalam bahan awal.

Itulah nilai tambah yang paling ia rindukan.

Ia pernah membaca berita tentang Geopark Kaldera Toba yang hanya menggambarkan Danau Toba sebagai tempat yang indah.

Arvin tidak puas.

Baginya, jika hanya soal keindahan fisik, tentu ada sesuatu yang lebih dalam.

Ia kemudian pergi ke Parapat dan Samosir.

Ia mengamati langsung.

Dari sana ia menemukan sudut pandang berbeda: sejarah dan budaya masyarakat lokal yang membuat Danau Toba jauh lebih kaya daripada sekadar pemandangan indah.

Pengalaman seperti itulah yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh bahan kiriman.

Minggu Ketiga — Belajar Lagi

Arvin menjepit bola karet dengan kedua lututnya. Ini bagian dari terapi pasca operasi untuk pemulihan lututnya.

Pada minggu ketiga, Arvin mulai menjalani fisioterapi.

Konsultasi terapi dilakukan dengan dr. Multhazam di ruang fisioterapi yang berada di gedung berbeda.

Latihan pertama tidak langsung berupa gerakan besar.

Lututnya dikompres dengan es sekitar 15 menit.

Setelah itu, ia mulai belajar menggerakkan kaki dan menekuk lutut.

Latihan sederhana itu ternyata tidak sederhana bagi tubuh yang baru selesai dioperasi.

Rasa sakit muncul ketika lutut mulai dipaksa bergerak.

Sangat sakit.

Namun Arvin masih bisa bercanda.

Dalam salah satu sesi, ia diminta menjepit bola karet.

Arvin justru takut bola itu meledak.

“Dok, ini kalau pecah gimana?”

Terapis menjawab santai.

“Gak akan pecah itu. Kalau pecah saya ganti dua puluh.”

Arvin menyambar:

“Ya udah, saya pecahkan. Nanti saya bawa satu ke rumah ya, Dok.”

Terapis tertawa.

Di tengah rasa sakit, humor menjadi cara sederhana untuk membuat suasana tetap ringan.

Fisioterapi tidak berhenti pada satu atau dua kali latihan.

Fisioterapis Titin Mery dari Jakarta, yang tidak menangani Arvin secara langsung, menjelaskan bahwa rehabilitasi pascaoperasi ACL berlangsung melalui beberapa fase.

Fase pertama berfokus pada pengurangan nyeri dan bengkak, sekaligus mengaktifkan kembali otot serta mulai meningkatkan kemampuan menekuk lutut.

Fase berikutnya berfokus pada kekuatan otot, keseimbangan, dan kontrol gerakan.

Setelah itu, latihan berkembang menuju kelincahan, lompatan, dan kontrol gerak.

Pada atlet, fase lanjutan diarahkan untuk mempersiapkan pasien kembali ke olahraga yang ditekuni.

Karena itu, disiplin latihan menjadi penting.

Otot yang lama tidak digunakan membutuhkan waktu untuk kembali aktif. Latihan biasanya dianjurkan secara rutin, termasuk pagi dan sore, sesuai program fisioterapi.

Jika pasien malas berlatih, proses yang seharusnya berlangsung sekitar tiga sampai enam bulan dapat melambat.

Otot dapat tetap lemah.

Kekakuan juga dapat muncul pada sendi tertentu, termasuk lutut, pangkal paha, kaki, hingga jari-jari.

Bagi Arvin, proses itu berarti satu hal:

Ia harus belajar lagi.

Belajar menekuk lutut.

Belajar berdiri.

Belajar berjalan.

Belajar mempercayai kembali kaki kirinya.

Dari semula kaki itu hampir tidak bisa digerakkan, perlahan gerakannya mulai mendekati sempurna.

Ia bahkan mulai berlatih berjalan-jalan di rumah dengan bantuan kruk.

Kemajuan itu belum membuatnya kembali ke lapangan.

Namun setidaknya, tubuhnya mulai bergerak ke arah sana.

Jalan Pulang ke Lapangan

Arvin berjalan di rumahnya pasca operasi lutut. Dengan bantuan sepasang kruk (tongkat) menopang tubuhnya, ia bisa berpindah tempat.

Sepasang kruk itu masih berada di dekat Arvin.

Kini, keduanya tidak lagi sekadar menjadi alat untuk menyangga tubuhnya ketika berjalan.

Kruk itu juga menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang sedang ia tunggu: waktu ketika ia kembali bisa berjalan tanpa bantuan, kembali mengendarai sepeda motor, dan kembali mendatangi tempat-tempat yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya sebagai wartawan.

Pemulihan berjalan perlahan.

Lutut kirinya yang pada awalnya nyaris tidak dapat digerakkan mulai bisa ditekuk.

Dari gerakan yang sangat terbatas, perlahan sudut tekuknya semakin besar.

Ia mulai berlatih berjalan di rumah dengan bantuan kruk.

Ada kemajuan.

Tetapi belum selesai.

Dokter mengatakan pemulihan paling cepat membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Arvin juga memahami bahwa prosesnya bisa berlangsung tiga sampai lima bulan.

Selama masa itu, aktivitas berkendara dan kegiatan lapangan harus dihindari.

Mendengar waktu pemulihan selama itu, Arvin sempat lemas.

Bukan semata karena rasa sakit.

Ia membayangkan dirinya harus berbulan-bulan berada di rumah, sementara dunia jurnalistik tetap bergerak di luar sana.

Bagi orang lain, tinggal di rumah mungkin hanya berarti beristirahat.

Bagi Arvin, rumah adalah tempat ia tetap bekerja, tetapi sekaligus tempat yang membatasi bagian paling penting dari pekerjaannya: berada di lapangan.

Ia masih dapat menerima berita dari wartawan ArmadaBerita.com.

Ia masih dapat mengedit.

Ia masih dapat menulis.

Ia masih dapat membuka laptop dan mengelola media yang dibangunnya.

Namun ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh layar.

Pengalaman berada di lokasi kejadian.

Bertemu langsung dengan narasumber.

Melihat keadaan dengan mata sendiri.

Mendengar suara orang-orang yang menjadi sumber berita.

Merasakan suasana di tempat kejadian.

Semua itu, bagi Arvin, merupakan bagian dari kerja jurnalistik yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh naskah yang dikirim seorang wartawan melalui WhatsApp.

Ia pernah membaca sebuah berita tentang Geopark Kaldera Toba yang hanya menggambarkan keindahan Danau Toba.

Bagi Arvin, keindahan itu memang ada.

Tetapi ia merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik pemandangan tersebut.

Ia kemudian berangkat ke Parapat dan Samosir.

Melihat langsung.

Mengamati.

Bertemu orang.

Dari sana ia menemukan sudut pandang yang berbeda.

Danau Toba bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga tentang sejarah dan kebudayaan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Pengalaman semacam itulah yang ia rindukan sekarang.

“Kalau di lapangan, kita bisa observasi langsung. Apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan, bahkan apa yang kita dengar, itu bisa menjadi nilai tambah dalam tulisan,” katanya.

Baginya, seorang wartawan yang berada di lapangan memiliki kesempatan untuk melihat sesuatu yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Ia bisa menentukan apakah sebuah peristiwa layak ditulis sebagai straight news, feature, human interest, headline, informasi, atau bahkan bahan edukasi.

Ia bisa bertanya lebih jauh kepada narasumber.

Ia bisa menemukan detail yang tidak ada dalam bahan berita.

Ia bisa bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang.

“Rasanya seperti kuliah umum,” katanya, menggambarkan kesenangannya bertemu banyak orang dari berbagai profesi dan kehidupan.

Itulah sebabnya jenis liputan yang paling ia rindukan bukan sekadar peristiwa besar.

Ia ingin menemui orang-orang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, warga yang menderita penyakit dan membutuhkan perhatian, masyarakat yang belum tersentuh bantuan, pelaku UMKM yang membutuhkan dukungan, maupun orang-orang biasa yang memiliki kisah luar biasa.

Pedagang.

Ibu rumah tangga.

Pekerja kasar.

Dokter.

Orang dengan keterbatasan fisik.

Siapa saja.

Selama ada perjuangan, keteguhan hati, atau sesuatu yang dapat memberikan pelajaran bagi orang lain, Arvin merasa kisah itu layak ditulis.

Ia bahkan memandang pekerjaan tersebut sebagai bagian dari ibadah.

Tulisan, menurutnya, tidak harus selalu menghasilkan keuntungan bagi dirinya.

Jika sebuah liputan dapat membantu seseorang mendapatkan perhatian, membuka mata pembaca, atau memberikan inspirasi, di situlah nilai lain dari pekerjaan jurnalistik terasa.

Mungkin karena itu pula, ia kini tidak lagi terlalu mengejar tulisan yang berpotensi menyeretnya ke dalam sengketa.

Dulu ia banyak menulis tentang kinerja pemerintah dan lembaga.

Kini ia lebih memilih mengangkat kisah manusia.

Bukan berarti ia kehilangan daya kritis.

Ia hanya menemukan jalan lain untuk tetap memberikan manfaat melalui tulisan.

Dan selama lututnya belum memungkinkan untuk kembali ke lapangan, ia akan menjalani pilihan itu dari rumah.

Pagi hari, ia mengedit berita.

Siang, berita masih berdatangan.

Malam, pekerjaannya bisa berlanjut lagi tergantung kiriman para wartawan daerah.

Kruk tetap berada dalam jangkauan.

Laptop tetap terbuka.

ArmadaBerita.com tetap berjalan.

Tetapi ada satu kalimat yang pernah keluar begitu saja dari mulutnya ketika ia sedang duduk di belakang rumah sambil mengedit berita.

“Dah rindu aku ke lapangan lagi, Ma.”

Safrina mendengarnya.

Kalimat itu sederhana.

Namun di baliknya ada kerinduan yang panjang.

Arvin rindu mengendarai sepeda motor.

Rindu mendatangi lokasi.

Rindu bertemu narasumber.

Rindu duduk bersama kawan-kawan pewarta.

Arvin duduk di sofa di ruang tamu rumahnya. Tiga minggu pascaoperasi, lututnya sudah bisa ditekuk, setelah menjalani serangkaian terapis.

Dan yang paling sederhana sekaligus paling kuat: ia rindu kembali ke markas Polrestabes Medan.

“Jumpa sama kawan-kawan pewarta di markas Polrestabes Medan.”

Itulah jawaban spontan Arvin ketika ditanya apa yang paling ingin dilakukannya setelah pulih.

Bukan tempat wisata.

Bukan perjalanan jauh.

Bukan sesuatu yang mewah.

Ia hanya ingin bertemu teman-teman sesama wartawan, duduk bersama mereka, kemudian kembali turun meliput.

Mungkin kembali duduk di kantin Polrestabes Medan.

Mungkin kembali menerima kabar adanya suatu peristiwa.

Mungkin kembali berangkat bersama wartawan lain menuju tempat kejadian perkara.

Mungkin kembali berdiri di tengah kerumunan, mencari narasumber, mencatat, bertanya, mengamati, lalu pulang membawa cerita.

Itulah kehidupan yang selama ini ia jalani.

Dan kini, untuk pertama kalinya, kehidupan itu harus ia tunggu.

Arvin tahu ia belum boleh terburu-buru.

Lututnya membutuhkan waktu.

Otot-ototnya harus kembali kuat.

Gerakannya harus kembali stabil.

Latihan harus terus dilakukan.

Sebab pemulihan bukan hanya soal menunggu luka sembuh.

Ia adalah proses belajar kembali.

Belajar menggerakkan kaki.

Belajar menekuk lutut.

Belajar berdiri.

Belajar berjalan.

Lalu, suatu hari nanti, belajar kembali berlari mengejar peristiwa.

Arvin tahu hari itu belum tiba.

Tetapi arahnya sudah jelas.

Ia ingin kembali naik motor.

Kembali mendatangi lokasi.

Kembali bertemu orang-orang.

Kembali melihat sendiri.

Kembali mendengar sendiri.

Kembali bertanya.

Dan kemudian menulis.

Sebab baginya, berita yang paling hidup bukan hanya berita yang sampai ke layar komputer.

Ada cerita yang harus didatangi.

Ada manusia yang harus ditemui.

Ada tempat yang harus dilihat sendiri.

Ada kenyataan yang baru bisa dipahami ketika seorang wartawan hadir di sana.

Maka sementara waktu, Arvin masih akan duduk di rumah.

Kruk masih berada di sampingnya.

Laptop masih terbuka.

Telepon genggam masih terus menerima kiriman berita.

Dan lutut kirinya masih menjalani proses pemulihan.

Tetapi pikirannya sudah lebih dulu berjalan jauh.

Menuju jalan.

Menuju lokasi.

Menuju narasumber.

Menuju kawan-kawan pewarta.

Menuju lapangan yang sangat ia rindukan.

Sepasang kruk mungkin masih menjadi teman perjalanan Arvin hari ini.

Namun ia tahu, benda itu bukanlah akhir perjalanan.

Ia hanya bagian dari jalan pulang.

Pulang ke lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *