Kredit Bank Umum di Sumut Naik, Kredit UMKM Capai Rp81,09 triliun

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sumatera Utara (OJK Sumut) merilis bahwa sesuai data Maret 2025, sektor perbankan di Sumut terjaga baik. Rasio Kecukupan Modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) bank umum tercatat sebesar 29,73 persen, sedangkan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sebesar 29,93 persen.

Kondisi ini mencerminkan kapasitas permodalan perbankam di Sumut semakin kuat mengantisipasi potensi risiko. Demikian disampaikan Kepala Kantor OJK Sumut, Khoirul Muttaqien dalam rilis resmi yang diterima wartawan, Senin (2/6/2025).

Selain itu, kredit bank umum disebutkan tumbuh 13,79 persen setelah pada bulan sebelumnya mencapai pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir yaitu Februari 2025 sebesar 17,93 persen. “Capaian ini melampaui pertumbuhan kredit nasional (9,16 persen). Penyaluran kredit produktif mencapai Rp209,24 triliun atau 70,06 persen dari total portofolio kredit, dan dengan laju pertumbuhan sebesar 14,23 persen yoy,” terangnya.

Dipaparkan juga bahwa kredit Modal Kerja senilai 46,34 persen dari total kredit. Artinya, tumbuh 17,28 persen yoy di saat pertumbuhan kredit Investasi sebesar 8,71 persen (yoy). “Pertumbuhan kredit produktif didorong oleh sektor Industri Pengolahan yang tumbuh sebesar 22,60 persen yoy, khususnya subsektor pengolahan minyak goreng kelapa sawit yang tumbuh sebesar 52,06 persen yoy,” jelas Khoirul Muttaqien.

Untuk kredit di Sektor Pertanian dan Perkebunan juga tumbuh sebesar 24,81 persen yoy. Pertumbuhan ini didorong oleh pembiayaan perkebunan kelapa sawit yang tumbuh 21,95 persen yoy.

Kepala OJK Sumut menyebut kalau Sektor Listrik, Gas, dan Air menjadi sektor dengan pertumbuhan kredit yang tertinggi pada Maret 2025 dengan pertumbuhan sebesar 144,80 persen yoy. “Lonjakan ini didorong oleh peningkatan investasi pada proyek subsektor Uap / Air Panas di Kab. Deli Serdang, beberapa proyek Ketenagalistrikan di Kab. Asahan dan Kab. Karo, serta Kota Medan yang membutuhkan pembiayaan besar,” ungkapnya.

Di sisi lain, total kredit UMKM mencapai Rp81,09 triliun, tumbuh 2,28 persen yoy. “Sebagian besar bersumber dari segmen Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang tumbuh 4,83 persen yoy,” urai Muttaqien.

Penyaluran kredit konsumtif mencapai Rp89,43 triliun, tumbuh 12,75 persen yoy yang didorong oleh peningkatan kredit rumah tangga lainnya dan multiguna (16,16 persen yoy), kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar (15,76 persen yoy) dan kredit kepemilikan kendaraan bermotor (12,85 persen yoy). “Jadi, kualitas kredit perbankan terjaga rendah dan stabil,” tegasnya.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) net sebesar 0,82 persen di saat NPL gross sebesar 1,72 persen. Loan at Risk (LaR) menurun menjadi 6,19 persen. “Penurunan ini karena berkurangnya jumlah kredit restrukturisasi,” sebut Muttaqien.

Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), kata Muttaqien, terus tumbuh mencapai Rp329,53 triliun (tumbuh sebesar 2,75 persen yoy). Sebaran terbesar pada Tabungan (tumbuh 3,25 persen yoy), dan Deposito (tumbuh 5,65 persen yoy). “Komposisi DPK masih didominasi oleh Tabungan dengan kontribusi sebesar 43,19 persen, lalu Deposito sebesar 40,70 persen, dan Giro sebesar 16,10 persen,” tandasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *