Oleh Fatmawati Arief
Lensa kontak digunakan untuk membantu mata supaya lebih terang bagi orang dengan gangguan penglihatan rabun jauh atau dekat.
Keuntungan dari memakai lensa kontak adalah tidak berembun dan lapang pandangan tidak terganggu. Memakai lensa kontak sangat membantu bagi orang yang dalam pekerjaannya tidak memungkinkan untuk memakai kacamata.
Lensa kontak banyak digunakan sebagai pengganti kacamata dan untuk kebutuhan fesyen. Maraknya penjualan lensa kontak secara online shop dan salon kecantikan, telah memantik masyarakat khususnya remaja untuk membeli di tempat-tempat tersebut tanpa perlu memeriksakan mata ke optik (Optometris).
Mencermati beberapa ulasan di online shop, remaja cenderung membeli lensa kontak secara sembarangan hanya karena didasari harga yang jauh lebih murah dibandingkan di optikal, sehingga mengabaikan kualitas lensa dan resiko pemakaian.
Dampak negatif yang paling sering terjadi akibat dari penggunaan lensa kontak adalah infeksi pada kornea, ulkus kornea, keratitis, konjungtivitis dan mata kering.

Sebagai mahasiswa optometri Ukrida, dalam rangka meningkatkan pemahaman murid mengenai pentingnya pemeriksaan mata sebelum penggunaan lensa kontak kami melakukan sosialisasi dan edukasi di SMA Negeri 1 Gedong Tataan Lampung.
Sosialisasi ini disambut positif oleh Pak Achmad Imanuddin selaku kepala sekolah, dewan guru dan 35 siswa beserta orang tua murid. Imanuddin berharap, sosial isasi dan edukasi seperti ini bisa dilakukan secara berkelanjutan di sekolah yang dipimpinnya.
Sebagai gambaran, selama sosialisasi, para murid antusias dan aktif mendengarkan, bahkan bertanya tentang materi yang saya sampaikan. Menariknya, rata-rata orang tua murid, sebelumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai lensa kontak. Bahkan salah satu orang tua yang anaknya menggunakan lensa kontak mengatakan setelah mengikuti sosialisasi dan edukasi ini, ia berniat akan lebih mengawasi dan sebelum membeli akan memeriksakan mata anaknya terlebih dahulu ke Optometris.
Dari 35 murid, saya temukan 12 orang menggunakan lensa kontak, 8 delapansiswi (66%) mendapatkan lensa kontak secara online, sedangkan empat siswi (34%) membelinya di optik. Hal ini menunjukkan bahwa pembelian lensa kontak secara online menjadi pilihan yang lebih umum di kalangan pelajar perempuan.
Sosialisasi dan edukasi ini dapat meningkatkan pemahaman murid mengenai pentingnya pemeriksaan mata sebelum menggunakan lensa kontak untuk mengetahui parameter ukuran, pemilihan jenis bahan, perawatan guna menjaga kesehatan mata, serta dampak negatif pembelian lensa kontak sembarangan.
Namun, perlu diperhatikan juga, pengetahuan orang tua murid terkait dengan lensa kontak masih terbatas. Sebagai Optometris, hal ini memacu semangat kami untuk mensosialisasi dan mengedukasi masyarakat lebih luas mengenai penggunaan lensa kontak supaya mereka turut berperan dalam keputusan penggunaan lensa kontak yang dilakukan oleh anak-anak mereka. (*)
Penulis adalah mahasiswa RPL 2021 Optometri Ukrida, Jakarta.











