Anak Stunting Kian Sehat Sejak Miliki Orang tua Asuh

Share

Oleh Arvin Syahputra Nasution

Masalah stunting pada anak-anak merupakan salah satu problem serius yang dihadapi bangsa kita saat ini, termasuk di Kota Medan. Stunting terjadi ketika anak mengalami pertumbuhan terhambat dan gagal mencapai tinggi badan yang normal sesuai dengan usianya. Salah satu faktor penyebab utama stunting adalah gizi buruk, yang sering terjadi pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit. Namun, di tengah tantangan tersebut, ada harapan baru bagi anak-anak stunting dengan adanya program orang tua asuh.

Akila, seorang anak berusia 4,5 tahun, mengalami kondisi stunting yang mengkhawatirkan. Setahunan silam, ia terlihat lemas dan tidak riang seperti anak-anak seusianya. Ibunya, Nurmaidah, menyadari bahwa Akila membutuhkan asupan gizi yang baik, tetapi pada saat itu keluarga mereka sedang menghadapi kesulitan ekonomi yang parah.

Ayah Akila, Suhendra, yang bekerja sebagai buruh bangunan, menganggur selama dua bulan. Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Nurmaidah berusaha dengan segala cara untuk mencari uang tambahan, seperti menjahit pakaian.

“Sampai-sampai saya harus keliling promosi jahit pakaian koyak untuk saya jahit ke warga biar bisa dapat uang buat makan,” tutur Nurmaidah ketika ditemui di kediamannya di Kelurahan Tegal Sari II, Kecamatan Medan Area, Selasa (13/6/2023) siang.

Ekonomi Keluarga Memprihatinkan

Namun, penghasilan tambahan yang diperoleh masih belum cukup untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga tersebut. Akibatnya, Akila menderita kekurangan gizi yang mengakibatkan kondisi stunting.

Kondisi itu sudah dialami Akila sejak berusia dua bulan mengkonsumsi ASI. Nurmaidah dan Suhendra tidak putus asa. Mereka mengandalkan makanan seperti ubi sebagai sumber makanan utama keluarga. “Makan kami seadanya, sampai-sampai kami cuma makan ubi. Itulah makanya anak kami kurang gizi,” kata Nurmaidah.

Namun, situasi semakin memburuk ketika harga bahan makanan melonjak karena adanya pandemi Covid-19. Nurmaidah bahkan harus berutang di warung untuk membeli beras, sementara suami dan dirinya sendiri belum mendapatkan pekerjaan. “Apalagi sejak mertua saya meninggal, biasanya kami selalu dibantu,” kenang haru Nurmaidah sembari mengatakan kalau keluarganya sendiri berasal dari kampung di Panyabungan.

Nurmaidah mengungkapkan, keadaan Akila semakin memprihatinkan ketika berat badannya hanya mencapai 3 kilogram saat ditimbang di Posyandu. Dokter di Posyandu menyatakan bahwa Akila mengalami kurang gizi dan stunting. Data mengenai hal tersebut diteruskan ke pihak kelurahan dan kecamatan, di mana pemerintah berupaya untuk mengatasi masalah gizi buruk pada anak-anak dengan melibatkan orang tua asuh. Akila pun memiliki orang tua asuh, yaitu Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Agustiawan.

Nurmaidah mendapat undangan untuk menghadiri acara khusus yang berkaitan dengan anak-anak stunting di Binjai. Di sana, ia bertemu dengan banyak polisi yang menjadi orang tua asuh anak-anak stunting lainnya. Anak-anak tersebut akan mendapatkan perhatian khusus dari orang tua asuh mereka. Nurmaidah melihat Akila bahagia di sana dan mendapat uang jajan dari Ibu Bhayangkari. “Akila senang di situ. Ibu Bhayangkari memberinya uang jajan. Sampai dia mau dan bercita-cita jadi Polwan kelak,” ujar Nurmaidah.

Akila (anak stunting) saat bermain di dalam rumah dengan riangnya. (Arvin)

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Kepala Lingkungan setempat memberitahu Nurmaidah bahwa Wakil Kapolrestabes Medan, AKBP Dr. Yudhi Hery Setiawan, SIK, MSi akan datang ke rumah mereka. Kabar ini membuat Nurmaidah dan Akila sangat bahagia, terlebih lagi Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Muhammad Agustiawan, ST, SIK, yang juga menjadi orang tua asuh Akila, ikut hadir. “Saat datang, mereka membawa banyak sembako seperti beras, telur, minyak, gula, buah dan susu,” timpal Nurmaidah.

Nurmaidah juga mengungkapkan bahwa orang tua asuh Akila berjanji akan terus memantau mereka. “Kami akan terus memperhatikan kalian,” ucap Nurmaidah menirukan ucapan Kompol Agustiawan.

Sejak saat itu, Nurmaidah merasakan terus mendapatkan bantuan sembako, serta suplemen dan makanan bergizi untuk Akila. Meskipun bantuan gizi tersebut tidak terlalu melimpah, mereka sangat bersyukur. “Kami sangat bersyukur. Setiap bulan, kepala lingkungan mengantar sembako untuk kami. Kadang-kadang ada sop siap santap, kadang juga bawa daging untuk Akila,” jelas Nurmaidah.

Lantaran Nurmaidah rajin membawa Akila ke Posyandu, anaknya itu juga mendapatkan perhatian khusus di sana. Akila mendapatkan asupan vitamin, bubur, dan makanan bergizi yang diperlukan. “Dulu, anak-anak saya termasuk yang paling kurus di sekolahnya, tapi sekarang, alhamdulillah, mereka menjadi yang paling tinggi. Akila juga sebentar lagi akan masuk sekolah,” cerita Nurmaidah dengan bahagia sambil memeluk Akila.

Kini, Nurmaidah sudah bisa melihat Akila riang dan sehat. Selain bersyukur, ia juga punya harapan besar ke anaknya bisa bersekolah tinggi. “Semoga cita-cita Akila terkabul, Aamiin,” ucapnya dalam doa.

Tanggapan Kapolsek

Mengenai perkembangan kesehatan Akila yang semakin baik, Kapolsek Percut Sei Tuan selaku orang tua asuh, belum bisa memberikan penjelasan lebih mendetail dikarenakan kesibukannya bertugas. Namun ia mengaku senang mendengar perkembangan Akila yang semakin lebih sehat dan ceria. “Nanti ya kita atur waktu wawancara, mohon maaf, saya sedang sibuk-sibuknya,” balasnya via pesan Whatsapp.

Wakil Kapolrestabes Medan, AKBP Dr. Yudhi Hery Setiawan juga yang coba kami konfirmasi soal peran polisi sebagai orang tua asuh bagi anak-anak stunting, belum bisa berkomentar banyak. Padahal ia sendiri ikut serta turun tangan saat menyambangi rumah Akila dan memberi bantuan. “Ia saya datang. Saya mewakili Polres, bukan orang tua asuh. Mungkin bisa tanya langsung yang ditunjuk sebagai orang tua dari anak stunting,” jelas Yudhi.

Ada Kemajuan Penanganan Stunting

Stunting jelas menjadi problem serius di Kota Medan selama bertahun-tahun. Namun, statistik terkini menunjukkan penurunan yang menggembirakan dalam kasus stunting. Dari 550 anak yang terkena stunting pada tahun 2021, angka tersebut turun menjadi 360 anak pada tahun 2022, dan semakin berkurang menjadi 264 anak pada tahun 2023. Kemajuan yang signifikan ini diumumkan oleh Bobby Nasution, Wali Kota Medan pada 12 Juni 2023.

Wali Kota Bobby Nasution menambahkan, pentingnya langkah-langkah komprehensif untuk mengurangi angka stunting. Ia meminta seluruh lembaga pemerintah dan dinas Terkait agar terlibat dalam pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada penanganan kasus-kasus stunting yang sudah ada, tetapi juga menekankan strategi pencegahan.

Bobby menegaskan komitmen Pemko Medan dalam mengatasi tantangan soal stunting. Dengan upaya kolaboratif dan fokus pada pencegahan, Medan bertujuan untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan dalam mengatasi stunting dan memastikan perkembangan yang sehat bagi anak-anaknya. (*)

Penulis adalah Jurnalis media online Armadaberita.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *