Medan, ArmadaBerita.Com
Jagung menjadi bahan pakan utama makanan ternak khususnya ayam. Baik itu ayam untuk pedaging maupun ayam untuk petelur. Belakangan ini harga telur ayam dan daging ayam memang masih bertahan mahal setelah sempat naik sebelumnya.
Ekonom asal Sumatera Utara, Gunawan Benjamin yang juga merupakan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan merinci, di kota Medan sendiri harga telur ayam berada dikisaran 28.550 per Kg di tingkat pedagang pengecer.
Untuk ukuran telur yang kecil, harganya sudah mendekati 1.700 per butirnya. Kalau ukurannya sedang dan besar, harganya bisa mencapai 1.900 hingga 2000 per butirnya. Sementara daging ayam ras masih dikisaran harga 32.400 per Kg nya. Terbilang cukup mahal untuk harga daging ayam tersebut, meskipun masih dalam rentang harga yang ideal pada dasarnya.
“Yang menjadi persoalan adalah, pakan ternak yang harganya mengalami penurunan, bahkan di sejumlah toko yang saya pantau harganya turun di pekan ini sekitar 100 rupiah per Kg,” papar Gunawan kepada wartawan di Medan, Kamis (15/12/2022).
Pernurunan tersebut, jelas Gunawan, berdampak pada penurunan harga dagaing ayam sekitar 2000 per Kg di kota Medan, namun belum menekan harga telur ayam.
Dan secara keseluruhan harga telur dan daging ayam berada di rentang angka yang tinggi atau mahal. Penurunan harga pakan ternak sendiri juga linier dengan penurunan harga jagung di tingkat petani. “Sejauh ini jagung dari wilayah di Kabupaten Karo di tingkat petani itu mencapai 3.800 per Kg. Sementara harga di tingkat pembeli (perusahaan pakan) itu sekitar 4.300 per Kg sejauh ini,” bilangnya.
Tetapi penurunan harga tersebut, tutur Gunawan, tidak lantas menjadi kabar baik bagi harga telur dan daging ayam. Menuritnya, ada beberapa penyebab harga daging dan telur ayam sulit turun belakangan ini. Pertama demandnya cukup tinggi dari luar wilayah Sumut. Kedua, daging dan telur ayam menjadi subtitusi atas kebutuhan ikan segar yang terganggu akibat penurunan pasokan ikan segar dari nelayan. Ketiga komponen pembentukan biaya input produksi yang masih bertahan mahal.
Disisi yang berbeda, petani justru berhadapan dengan masalah lain yang membuat harga jual jagungnya masih dibawah harapan petani. Dimana curah hujan yang tinggi belakangan ini, telah membuat petani kesulitan untuk menjemur jagungnya, sehingga kadar airnya relatif tinggi yang membuat harga jagung di level petani justru mengalami tekanan.
“Dari hasil observasi di lapangan, petani jagung itu mengharapkan harga jual jagung setidaknya berada di level 4.500 per Kg (petani di kabupaten karo). Kalau sekarang dikisaran 3.800 per kg ini tentunya jauh dari harapan petani. Jadi curah hujan yang tinggi yang turut diikuti dengan cuaca yang memburuk, ditambah dengan demand yang tinggi telah memunculkan paradoks,” ungkapnya.
Menuritnya, pemerintah daerah provinsi sumatera utara menjelang Nataru (Natal dan Tahun Baru) ini aktif melakukan operasi pasar. “Kita berharap telur dan daging ayam menjadi komoditas yang masuk dalam operasi pasar tersebut. Karena harga daging dan telur ayam yang mahal, ditengah penurunan harga jagung, ini jelas yang dirugikan masyarakat. Baik itu konsumen maupun petaninya. Jadi sebisa mungkin kita berupaya agar bebannya bisa dikurangi,” pungkasnya. (ASN)










