EKBIS  

Perkuat Sektor Jasa Keuangan di 2022, OJK Keluarkan 5 Prioritas Kebijakan

Share

ArmadaBerita.Com

Dalam memperkuat sektor jasa keuangan di tahun 2022, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan 5 prioritas kebijakan. Hal itu dilakukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi baru.

“OJK menetapkan lima kebijakan prioritas di 2022 yang ditujukan untuk terus memperkuat stabilitas sektor jasa keuangan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional serta terus meningkatkan edukasi dan perlindungan konsumen,” demikian diutarakan Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK melalui press rilise yang diterima wartawan Senin (24/1/2022).

Kelima prioritas kebijakan OJK di 2022 ini yaitu: Meningkatkan peran sektor jasa keuangan dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional dengan memprioritaskan sektor-sektor yang membutuhkan dukungan untuk percepatan pemulihan melalui insentif bersama untuk mendorong pembiayaan kepada sektor komoditas sesuai prioritas Pemerintah.

“Termasuk pembiayaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL BB) dari hulu sampai hilir. Stimulus lanjutan untuk mendorong kredit kepada perusahaan pengembang dan real-estate,” papar Wimboh.

Kedua adalah Mempersiapkan sektor keuangan dalam menghadapi normalisasi kebijakan di negara maju dan domestik, antara lain melalui: Mendorong konsolidasi sektor jasa keuangan agar mempunyai ketahanan permodalan dan likuiditas.

“Percepatan pembentukan cadangan penghapusan kredit agar tidak terjadi cliff effect pada saat dinormalkan di tahun 2023. Penataan industri reksa dana dan memperkuat tata kelola industri pengelolaan investasi. Percepatan dan penyelesaian reformasi Industri Keuangan Non Bank (IKNB),” terangnya.

Ketiga, Menyusun skema pembiayaan yang berkelanjutan di industri jasa keuangan untuk mendukung pengembangan ekonomi baru dengan prioritas pengembangan ekonomi hijau, antara lain melalui: Pendirian bursa karbon dan penerbitan Taksonomi Hijau Indonesia.

“OJK bersama SRO (Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek) serta pemerintah sedang mengakselerasi kerangka pengaturan bursa karbon di Indonesia,” sebut Wimboh.

“Hadirnya Taksonomi Hijau yang mengkaji 2.733 klasifikasi sektor dan sub-sektor ekonomi, 919 di antaranya telah dikonfirmasi oleh kementerian terkait dan menjadikan Indonesia salah satu negara di dunia yang telah memiliki standar nasional sektor ekonomi hijau seperti Tiongkok, Uni Eropa, dan ASEAN,” imbuhnya.

Keempat yaitu, Memperluas akses keuangan kepada masyarakat, khususnya UMKM untuk mencapai target penyaluran kredit UMKM sebesar 30% pada tahun 2024, antara lain melalui: Model klaster dalam satu ekosistem pembiayaan, pemasaran oleh off-taker, dan pembinaan serta optimalisasi lahan yang belum tergarap.

“Program-program KUR Kluster, kredit/pembiayaan melawan rentenir, digitalisasi BPR, dan Lembaga Keuangan Mikro, Bank Wakaf Mikro serta skema pemasaran melalui program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. Pengembangan pembiayaan UMKM melalui securities crowdfunding,” jelasnya.

Prioritas keliama adalah, Memperkuat kebijakan transformasi digital di sektor jasa keuangan agar sejalan dengan pengembangan ekosistem ekonomi digital dalam meningkatkan akses masyarakat ke produk dan jasa keuangan dengan harga yang lebih murah, kualitas yang lebih baik, dan akses yang cepat, termasuk literasi dan perlindungan kepentingan konsumen termasuk penegakan hukum.

“Memitigasi ekses pinjaman online dengan meningkatkan aturan prudential dengan pemodalan yang lebih tinggi dan penerapan market conduct yang lebih baik. Mendorong kolaborasi keuangan formal dalam produk pembiayaan secara online agar dapat menutup gap permintaan yang cukup besar,” terangnya.

Namun begitu, Wimboh menjelaskan masih ada tantangan sektor jasa keuangan di 2022, antara lain; penanganan Pandemi Covid-19, Tingginya Permintaan Global yang Mendorong Inflas, Percepatan Normalisasi Kebijakan di Negara Maju, Transformasi Digital, serta Perubahan Iklim dan Mitigasi Risikony.

Dengan lima prioritas tersebut, OJK yakin kinerja industri jasa keuangan di tahun 2022 akan lebih baik lagi. “Kami optimistis kinerja industri jasa keuangan pada tahun ini akan semakin membaik didorong stabilitas sektor keuangan yang terjaga, kebijakan pengawasan yang solid serta laju perekonomian yang mulai pulih dari dampak pandemi Covid-19,” pungkasnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *