ARMADABERITA, JAKARTA – Di tengah ancaman deforestasi yang terus mengintai hutan Kalimantan, secercah kabar baik datang dari bentang alam Wehea–Kelay, Kalimantan Timur. Penelitian kolaboratif Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berhasil mengabadikan penampakan berbagai satwa langka dan terancam punah melalui kamera jebak.
Bentang alam Wehea–Kelay yang memiliki luas sekitar 532.143 hektare ini masih bertahan sebagai rumah penting bagi keanekaragaman hayati. Sekitar 19 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan lindung, sementara sisanya terdiri atas konsesi kehutanan, perkebunan, serta area kelola masyarakat. Meski berada di bawah tekanan aktivitas manusia, kawasan ini terbukti menyimpan kekayaan fauna yang luar biasa.
Berdasarkan hasil pemantauan kamera jebak, sejumlah satwa langka berhasil terekam, mulai dari orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio), lutung Kutai (Presbytis canicrus), hingga rangkong gading (Rhinoplax vigil). Tak hanya itu, kamera juga menangkap keberadaan trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), bangau storm (Ciconia stormi), macan dahan (Neofelis diardi), serta kucing merah Kalimantan (Catopuma badia) yang dikenal sangat sulit dijumpai di alam liar.
Temuan penting ini dipaparkan dalam Simposium Biodiversitas Wehea–Kelay yang digelar di Samarinda pada 14 Januari 2026. Hasil tersebut merupakan bagian dari penelitian tematik biodiversitas yang dilakukan sepanjang tahun 2025.
Tak hanya satwa besar, studi ini juga mencatat kekayaan hayati dalam skala lebih luas. Total terdapat sedikitnya 1.618 jenis flora dan fauna yang teridentifikasi di kawasan Wehea–Kelay. Dari jumlah tersebut, sekitar 38 persen merupakan mamalia terestrial, 47 persen burung, 20 persen reptil, dan 70 persen amfibi. Peneliti juga menemukan 88 jenis serangga berupa kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 jenis tumbuhan hutan.
Untuk memperkaya data, penelitian ini memadukan berbagai metode, mulai dari pemasangan kamera jebak hingga penggunaan alat perekam suara bioakustik. Pendekatan ini menghasilkan penambahan data sebanyak 275 jenis flora dan fauna yang sebelumnya belum tercatat.
Periset Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan bahwa peningkatan temuan ini tidak lepas dari metode penelitian yang semakin baik serta komitmen bersama para pemangku kepentingan di Wehea–Kelay dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
Selain menjadi habitat satwa langka, kawasan Wehea–Kelay juga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Wilayah ini diperkirakan mampu menyimpan sekitar 191 juta ton karbon CO₂, sehingga berkontribusi besar dalam menahan laju pemanasan global.
Menariknya, penelitian juga menemukan sedikitnya 11 jenis tumbuhan yang menjadi pakan orang utan dan memiliki potensi sebagai tanaman obat, mulai dari antidiabetes, antikanker, hingga pendukung kesehatan dan nutrisi.
Temuan ini menegaskan bahwa Wehea–Kelay bukan sekadar bentang alam biasa, melainkan kawasan konservasi strategis yang menyimpan harapan besar bagi pelestarian satwa langka Indonesia dan keberlanjutan lingkungan hidup di masa depan.











