ARMADABERITA.COM, SUMUT–Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan terbaru penanganan darurat dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hingga Rabu, 21 Januari. Penanganan dilakukan secara terpadu lintas sektor dengan fokus utama menjaga keselamatan warga sekaligus mempercepat peralihan dari masa tanggap darurat menuju pemulihan awal.
Dalam laporan terkini, BNPB memastikan tidak ada penambahan jumlah korban jiwa, korban hilang, maupun pengungsi. Secara kumulatif, bencana ini telah merenggut 1.200 korban meninggal dunia, dengan 143 orang dinyatakan hilang. Sementara itu, jumlah warga yang masih tercatat mengungsi mencapai 113.903 jiwa.
Upaya pemulihan terus digenjot, terutama pembangunan hunian sementara, pembukaan dan pembersihan akses jalan serta jembatan, hingga penataan kembali kawasan permukiman. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim gabungan yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, serta berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Sejak 29 November 2025 hingga 20 Januari 2026, distribusi bantuan logistik kepada masyarakat terdampak telah mencapai 1.761,1 ton. Penyaluran dilakukan melalui beragam jalur transportasi, mulai dari 56 sorti pesawat charter BNPB, 64 sorti pesawat Hercules, 55 truk jalur darat, hingga 7 kapal laut.
Khusus pada 20 Januari 2026, distribusi logistik di Aceh melalui jalur udara mencapai 10 sorti dengan muatan 9,7 ton, serta jalur darat menggunakan 4 truk dengan total 5,7 ton. Dengan demikian, bantuan yang tersalurkan hari itu di Aceh mencapai 15,4 ton. Di Sumatra Utara, distribusi dilakukan melalui jalur darat menggunakan 11 truk dengan total muatan 33,61 ton, sedangkan di Sumatra Barat bantuan yang disalurkan melalui jalur darat tercatat sebanyak 1,58 ton.
BNPB bersama pemerintah daerah juga mempercepat pembangunan hunian sementara dengan target utama rampung sebelum bulan Ramadan. Dari total 42.900 unit rumah rusak berat, pengajuan pembangunan hunian sementara telah mencapai 29.621 unit. Saat ini, 7.414 unit masih dalam proses pengerjaan dan 1.056 unit telah selesai dibangun serta siap dihuni. Selain itu, pembangunan hunian tetap telah diajukan sebanyak 13.082 unit, dengan 648 unit di antaranya telah memasuki tahap konstruksi.
Untuk membantu warga memenuhi kebutuhan dasar selama masa transisi, skema Dana Tunggu Hunian (DTH) terus dioptimalkan. Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH tercatat sebanyak 14.811 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 9.662 rekening penerima telah siap, dan bantuan telah disalurkan kepada 2.682 kepala keluarga.
Sebagai langkah mitigasi jangka pendek guna menekan potensi bencana susulan, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 20 Januari 2026, OMC di wilayah Aceh telah dilakukan sebanyak 517 sorti dengan total bahan semai natrium klorida dan kalsium oksida mencapai 494.000 kilogram. Di Sumatra Utara, operasi ini dilaksanakan dalam 396 sorti dengan total bahan semai 348.000 kilogram, sementara di Sumatra Barat tercatat 409 sorti dengan total bahan semai 406.325 kilogram. Operasi ini bertujuan mengendalikan intensitas curah hujan di wilayah rawan bencana.
BNPB menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, hingga unsur masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan infrastruktur dasar, memenuhi kebutuhan hunian layak, serta memperkuat mitigasi bencana.
Dengan langkah yang terukur dan berkelanjutan, BNPB menargetkan masyarakat terdampak dapat bangkit secara bertahap menuju kondisi yang lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang.











