Investasi Rp3,5 Triliun, PSEL Medan Raya Dibidik Groundbreaking Desember 2026

Memebahas perkembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Medan Raya di Pendopo Lantai 9 Kantor Gubernur Sumut Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Kamis (10/9/2026). Ist
Share

Medan, ArmadaBerita.Com — Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Medan Raya memasuki fase krusial. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menargetkan proyek yang masuk Program Strategis Nasional (PSN) tersebut mulai dibangun pada Desember 2026 dengan nilai investasi sekitar US$200 juta atau setara Rp3,5 triliun.

Proyek ini tak hanya diarahkan untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang, tetapi juga menjadi proyek energi berbasis pengolahan sampah dengan kapasitas pembangkit sekitar 35–40 megawatt (MW).

Wakil Gubernur Sumut Surya mengatakan pemerintah daerah kini harus menggeser fokus dari tahap perencanaan menuju eksekusi. Menurutnya, proyek PSEL Medan Raya telah dipersiapkan sejak 2023 sehingga tidak ada alasan untuk kembali tertahan pada proses awal.

“Ini sudah dimulai sejak 2023. Berarti PSEL ini sudah start, tinggal eksekusi di lapangan. Tidak ada cerita tidak jalan,” ujar Surya saat menerima kunjungan Director Investment Danantara Fadli Harman di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (10/9/2026).

Dari sisi investasi, PSEL Medan Raya diproyeksikan memiliki daya tarik cukup besar. Direktur Investment Danantara Fadli Harman menyebut kebutuhan investasi proyek mencapai sekitar US$200 juta. Pembangunan diperkirakan membutuhkan waktu dua tahun sehingga targetnya fasilitas tersebut sudah beroperasi pada Desember 2028.

“Target kami Desember 2028 sudah beroperasi. Pembangunannya membutuhkan waktu sekitar dua tahun,” kata Fadli.

Namun, besarnya investasi tersebut berhadapan dengan satu tantangan utama: kepastian bahan baku. PSEL Medan Raya dirancang mengolah sekitar 1.700 ton sampah per hari yang berasal dari Medan dan Deliserdang. Pemerintah daerah dituntut memastikan volume pasokan tersebut tersedia secara konsisten dalam jangka panjang.

Surya menilai kepastian pasokan sampah bahkan menjadi salah satu pekerjaan rumah paling penting sebelum proyek masuk tahap konstruksi. “Ini tidak lagi masalah anggaran dan perencanaan. Tinggal lahan dan penyediaan sampah selama 30 tahun, 1.700 ton per hari antara Pemko Medan dan Deliserdang,” ujarnya.

Dari sisi Medan, kesiapan lahan mulai menunjukkan kemajuan. Wali Kota Medan Rico Waas mengatakan Pemko Medan telah membebaskan sekitar 4,98 hektare lahan di samping TPA Terjun, Kecamatan Medan Marelan, yang akan digunakan untuk mendukung pembangunan PSEL.

Pemko Medan juga mengalokasikan sekitar Rp47 miliar untuk pematangan lahan dan Rp7,9 miliar untuk pembangunan serta perbaikan akses jalan menuju lokasi. Untuk memperkuat rantai pasokan sampah, pemerintah kota menyiapkan tambahan 26 unit truk pengangkut sampah.

“Pemko Medan siap. Pematangan lahan dalam waktu dekat akan ditenderkan dan kami berharap groundbreaking dapat berjalan sesuai waktu yang ditetapkan,” kata Rico.

Sementara itu, Kabupaten Deliserdang menyiapkan sisi hulu pengelolaan sampah. Wakil Bupati Deliserdang Lom-Lom Suwondo mengatakan pemerintah kabupaten akan memperkuat TPS 3R dan pengumpulan sampah di tingkat kecamatan untuk memastikan pasokan menuju PSEL.

Saat ini, sejumlah titik pengelolaan sampah di Deliserdang disebut memiliki kapasitas sekitar 800 ton sampah. “Untuk mendukung program ini, kami mempersiapkan langkah untuk menyuplai sampah. Kami memperkuat TPS 3R dan pengumpulan sampah di kecamatan. Kapasitas kami cukup memadai dan kami siap mendukung,” ujar Lom-Lom.

Dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.700 ton sampah per hari, PSEL Medan Raya diproyeksikan menjadi salah satu proyek pengolahan sampah terbesar dalam program nasional tersebut. Selain menghasilkan listrik, fasilitas ini diperkirakan dapat memasok listrik untuk sekitar 110.000 rumah tangga sekaligus menekan emisi dari sektor persampahan.

Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti sebelumnya menyebut PSEL Medan Raya mendapat perhatian karena kapasitas pengolahannya yang besar. “Medan ini masuk dalam fase dua. Harapannya Medan bisa menjadi yang pertama karena kapasitasnya paling besar, sekitar 1.700 ton per hari,” ujarnya.

Kini, target Desember 2026 menjadi ujian penting bagi proyek bernilai triliunan rupiah tersebut. Jika pembebasan dan pematangan lahan, akses, serta kepastian pasokan sampah dapat diselesaikan sesuai jadwal, PSEL Medan Raya berpeluang masuk fase konstruksi dan mengejar target operasi Desember 2028. (Asn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *