Medan, ArmadaBerita.Com – Mobil milik mantan calon Wali Kota Sibolga, Muhammad Fadhil Thoib Hutagalung alias Fadel, kembali menjadi sasaran pelemparan batu. Kali ini, kaca depan mobil yang terparkir di rumahnya di Jalan Merpati, Medan Sunggal, pecah.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat, 11 September 2026, sekitar pukul 03.25 WIB. Saat kejadian, Fadhil sedang berada di luar kota. Di rumah tersebut terdapat istri, anak, dan anggota keluarganya.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV), aksi itu diduga dilakukan sejumlah orang yang datang menggunakan dua sepeda motor. Mereka disebut mengenakan helm, jaket, dan penutup wajah.
Istri Fadhil, Tifani, baru mengetahui kaca mobil pecah sekitar pukul 06.30 WIB ketika hendak mengantar anaknya ke sekolah. Ia mengaku sempat mendengar suara pada dini hari, tetapi mengira suara tersebut berasal dari sepeda motor yang melintas.
Fadhil mengatakan serangan tersebut bukan yang pertama. Pada 30 Juli 2026, rumahnya juga disebut dilempari batu. Sebelumnya, pada Oktober 2023, ketika ia maju dalam Pilkada Sibolga, mobil yang sama diduga dibakar orang tak dikenal di rumahnya di Medan Helvetia.
“Saya enggak tahu motifnya ini masih politik atau gimana, saya juga kurang tahu. Padahal, saya juga kan sudah kalah,” kata Fadhil.
Fadhil mengaku tidak mengetahui siapa pelaku maupun alasan dirinya kembali menjadi sasaran. Ia berharap polisi dapat mengungkap pelaku dan motif di balik aksi tersebut.
Kasus pelemparan terbaru itu telah dilaporkan ke Polrestabes Medan dengan nomor laporan STTLP/B/3922/IX/2026/SPKT/Polrestabes Medan/Polda Sumut.
Terjadi di tengah ketegangan politik Tapteng
Peristiwa tersebut terjadi ketika dinamika politik di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) tengah memanas.
Sebelumnya, sejumlah partai politik di DPRD Tapteng mengemukakan wacana pemakzulan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu. Gerindra menjadi salah satu partai yang sempat ikut dalam sikap tersebut.
Namun, DPD Gerindra Sumatera Utara menyatakan langkah DPC Gerindra Tapteng dilakukan tanpa koordinasi dengan DPD maupun DPP. Gerindra kemudian menarik diri dari pernyataan bersama tersebut dan menegaskan dukungan terhadap stabilitas pemerintahan Tapteng.
Masinton sendiri sebelumnya meminta agar tarik-menarik kepentingan politik dihentikan dan semua pihak berfokus pada pemulihan serta penanganan dampak bencana di Tapteng.
Meski terjadi berdekatan dengan situasi politik tersebut, belum ada keterangan resmi yang mengaitkan pelemparan rumah Fadhil dengan konflik politik di Tapteng. Polisi masih diharapkan mengungkap pelaku dan motif kejadian.











