Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ingatkan Warga Jangan Telan Mentah Informasi Bencana

Dr. Farah bersama tim melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Luwuk, Sulawesi (2026). Ist
Share

Jakarta, ArmadaBerita.Com – Ramainya informasi mengenai potensi gempa megathrust Selat Sunda yang disebut dapat berdampak hingga Jakarta membuat masyarakat diminta tidak sekadar cemas, tetapi juga kritis dalam menyikapi setiap informasi kebencanaan.

Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Farah Mulyasari, menilai penyampaian informasi mengenai potensi bencana harus disertai konteks yang jelas. Angka magnitudo maupun perkiraan dampak tsunami merupakan bagian dari skenario, bukan kepastian bahwa bencana akan terjadi dalam waktu tertentu.

Hal itu penting menyusul laporan Metro TV pada 12 September 2026 yang mengutip keterangan BMKG dan data BRIN mengenai skenario gempa bermagnitudo 8,9 di Selat Sunda. Dalam skenario tersebut, tsunami disebut berpotensi mencapai pesisir utara Jakarta sekitar 2,5 jam setelah gempa dengan perkiraan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter.

Menurut Farah, penyajian angka tanpa penjelasan yang memadai dapat memicu kecemasan. Sebaliknya, warga yang merasa berada jauh dari sumber bahaya justru berpotensi menganggap ancaman tersebut tidak relevan.

“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ungkap Farah, Senin (14/9/2026).

Ia menekankan, informasi mengenai megathrust perlu dibedakan secara tegas antara kajian potensi bencana dan peringatan atas kejadian yang sedang berlangsung. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana potensi bahaya berkaitan dengan lokasi tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari.

Farah mendorong agar istilah teknis kebencanaan diterjemahkan menjadi panduan yang mudah dilakukan, seperti mengenali jalur evakuasi, menyusun rencana komunikasi keluarga, serta mengikuti informasi resmi sesuai kondisi wilayah.

Kewaspadaan juga diperlukan saat menerima informasi di media sosial. Foto atau video dramatis yang beredar kembali tanpa konteks dan cap waktu dapat menimbulkan persepsi keliru serta memperbesar kekhawatiran.

“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta memeriksa sumber, waktu, dan konteks sebelum membagikan informasi, dengan mengacu pada BMKG serta panduan BNPB dan BPBD.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.

“Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan,” ujar Ichsan. (*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *