Armadaberita.com | MEDAN – Air mata Kanti (62) jatuh bersamaan dengan suara keras backhoe yang merobohkan dinding demi dinding rumah tuanya di Jalan Raharja, Flamboyan Raya, Rabu (27/8/2025). Di sampingnya, sang adik, Ngadisa (60), hanya bisa terdiam, menahan sesak di dada melihat bangunan yang dulu penuh tawa keluarga itu kini rata dengan tanah.
“Ini rumah bapak ibuku dulu… sudah lama kosong. Tapi walau dibongkar, aku senang, bersih jadinya. Aku nangis karena ingat orang tua,” ujar Kanti lirih, matanya masih sembab.
Bagi Kanti dan Ngadisa, rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang kenangan masa kecil, tempat orang tua mereka menua, tempat cerita keluarga mereka ditulis.
Namun, waktu mengubah segalanya. Bangunan kosong tanpa atap itu tak lagi menjadi rumah, melainkan berubah fungsi: jadi tempat gelap, sarang penyalahgunaan narkoba, lokasi pembuangan sampah, hingga tempat singgah gelandangan.
Tak jauh dari situ, bangunan lain yang dulunya rumah kos dengan 24 kamar juga bernasib sama. Lama tak berpenghuni, tempat itu disulap pemakai narkoba sebagai markas. Bahkan tim yang melakukan pembongkaran menemukan bong di beberapa ruangan.
Keluhan warga soal keresahan itu sampai ke telinga Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, saat kegiatan Sapa Warga di Medan Selayang. Tak ingin menunda, pemerintah kota segera bertindak. Tiga alat berat dikerahkan, dan dalam hitungan jam, bangunan-bangunan bermasalah itu lenyap dari pandangan.
“Kami tidak ingin memberi ruang bagi penyalahgunaan narkoba. Ini langkah pencegahan, agar tidak ada lagi tempat yang bisa disalahgunakan,” tegas Rico.
Meski penuh emosi, Kanti dan Ngadisa mendukung penuh pembongkaran ini. Bahkan, keduanya sendiri yang meminta agar rumah itu diruntuhkan. Mereka tahu, ada harga yang harus dibayar untuk kebaikan bersama.
“Senang sekali, rumah masa kecil kami tak lagi jadi sarang narkoba, nggak ada lagi orang buang sampah di situ. Terima kasih banyak, Pak Wali Kota. Pengaduan kami langsung ditanggapi,” ungkap Ngadisa dengan wajah lega.
Kini, rumah yang dulu menyimpan kenangan keluarga telah tiada. Namun dari reruntuhan itu lahir harapan baru: lingkungan yang lebih aman, bersih, dan bebas dari jerat narkoba.
Bagi Kanti, air matanya bukan tanda penyesalan, melainkan tanda keikhlasan—merelakan masa lalu demi menyelamatkan masa depan.











