Menjemput Sukses dari Usaha Kecil: Perjalanan Muhammad Faisal Meraih Mimpi

Faisal bersama dua pekerjanya saat melayani pembeli di lokasi warung Jalan Usman Siddik, Deli Serdang. (Foto: Arvin Nasution)
Share

Oleh: Arvin Syahputra Nasution

Pada usia 32 tahun, Muhammad Faisal telah melewati berbagai fase dalam membangun usaha kuliner bersama istrinya, Alicya Safira, 28 tahun. Berawal dari satu etalase ayam penyet di dekat rumah pada 2020, usaha pasangan ini berkembang menjadi beberapa lini bisnis: ayam penyet, Es Teh Jumbo Zianka, sempol, rental mobil, dan depot es kristal. Usaha yang mereka rintis kini melibatkan puluhan pekerja.

Namun, perjalanan itu tidak selalu menanjak. Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada akhir 2025 mengganggu operasional bisnis mereka. Sejumlah gerai terpaksa tutup, sementara kewajiban membayar angsuran pinjaman tetap berjalan.

Faisal menceritakan perjalanannya saat ditemui di rumah sekaligus pusat produksi usahanya di Jalan Usman Siddik, Dusun XVII, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis, 15 Oktober 2026. Di dapur rumah dan area emperan warung, para pekerja menyiapkan kebutuhan jualan.

“Setiap pagi di dapur rumahku dan emperan warung ini sudah ramai bang. Para pekerja ada yang memasak, dan persiapan lain untuk keperluan jualan,” kata Faisal saat menunjukkan lokasi dapur dan lokasi memasak di rumahnya.

Kesibukan pagi itu menjadi gambaran perubahan usaha yang dahulu bermula dari satu etalase sederhana.

Berawal dari Satu Etalase

Faisal tumbuh dalam keluarga pedagang. Sejak muda, ia membantu ibunya berjualan sebelum bekerja sebagai pengemudi transportasi daring, baik sepeda motor maupun mobil.

“Sejak muda sampai menikah, saya gunakan waktu untuk bekerja dan berjualan,” imbuhnya.

Ia juga mengenang masa membantu usaha keluarga. “Dulunya mamak juga jualan, kemudian dilanjutkan abang. Waktu itu saya masih ikut abang, diupah untuk membantunya,” akunya.

Pada 2020, setelah menikah dengan Alicya, Faisal mulai berjualan ayam penyet dengan nama Sifa. Mereka mengawali usaha dari satu etalase di dekat rumah.

“Awalnya kami berjualan ayam penyet membawa nama Sifa. Alhamdulillah, laris manis,” ujarnya.

Awalnya, mereka menyiapkan sekitar lima kilogram ayam. Penjualan yang cepat habis mendorong mereka menambah produksi menjadi sepuluh kilogram. Ketika permintaan meningkat, mereka mulai membuka cabang di sejumlah lokasi, di antaranya HM Yamin, Halat, dan Tembung.

“Kami yakin dengan membuka cabang, usaha bisa semakin besar. Penjualan di tempat utama yang sudah laku juga bisa membantu menutupi kebutuhan cabang baru,” urainya.

Setiap lokasi awalnya ditangani seorang pekerja. Faisal memilih pekerja dari lingkungan sekitar untuk menekan biaya transportasi. Seiring bertambahnya cabang, ia dan Alicya harus mengatur pasokan bahan baku, tenaga kerja, serta biaya operasional yang semakin besar. Pertumbuhan penjualan membuka peluang ekspansi, tetapi juga menuntut perhitungan modal yang lebih cermat.

Outlet Es Teh Jumbo Zianka dari produk Faisal yang bekrjasama dengan reseller di kawasan Medan Estate, Kota Medan. (Foto: Arvin Nasution)

Media Sosial dan Kemitraan Memperluas Usaha

Sekitar Agustus 2021 atau 2022, Faisal dan Alicya mulai merintis Es Teh Jumbo Zianka. Faisal mempromosikan produknya melalui TikTok dan Facebook. Ketika peminat bertambah, mereka juga memanfaatkan layanan pesan-antar makanan.

“Waktu itu saya main media sosial untuk promosi. Banyak orang yang tahu, lalu banyak peminatnya. Dari situ kami membuka puluhan cabang,” terangnya.

Faisal kemudian mengembangkan kerja sama dengan reseller dan mitra. Ia menyiapkan peralatan dan bahan usaha, sedangkan mitra menyediakan lokasi serta membantu menjalankan penjualan. Dalam kemitraan Es Teh Jumbo Zianka, mitra diwajibkan membeli racikan teh dari Faisal dan mengikuti ketentuan penjualan minuman sejenis di lokasi kerja sama.

Pada masa pertumbuhan sekitar 2022–2023, jaringan Zianka pernah mencapai hampir 97 titik jika gerai sendiri dan kemitraan dihitung bersama. Gerai yang dikelola sendiri saat itu sekitar 72. Kemitraan membantu produk menjangkau wilayah lebih luas tanpa mengharuskan Faisal membuka toko sendiri di setiap lokasi.

Namun, Faisal juga ingin memiliki lebih banyak gerai yang dikelola sendiri agar hasil penjualannya tidak terbagi sesuai kesepakatan kemitraan. Keinginan itu membutuhkan biaya sewa, peralatan, persediaan, dan kebutuhan operasional. Ia pun mulai mempertimbangkan pembiayaan bank sebagai salah satu jalan untuk memperbesar usaha.

Selain ayam penyet dan minuman, Faisal mengembangkan produk sempol dan tahu walet. Penambahan jenis dagangan menjadi salah satu upayanya memperluas sumber pemasukan, terutama ketika penjualan produk tertentu mengalami perlambatan.

Mesin pendingin milik Faisal dipenuhi Sempol hingga terisi daging ayam dalam memenuhi kebutuhan jualan. Saat ini terdapat 6 buah mesin pendingin di rumah produksi milik Faisal. (Foto: Arvin Nasution)

Pembiayaan Membantu, Kewajiban Tetap Berjalan

Faisal memperoleh pembiayaan secara bertahap. Pinjaman awal sebesar Rp25 juta untuk satu tahun kemudian meningkat menjadi Rp50 juta dan Rp70 juta. Jumlah pinjaman yang ia kelola kini mencapai Rp500 juta dengan tenor empat tahun. Angsuran bulanannya sekitar Rp14,5 juta, dengan rumah sebagai agunan.

“Menurut saya, kami sangat terbantu dengan adanya pinjaman ini,” ujarnya.

Tambahan modal membantu memenuhi kebutuhan usaha, termasuk penyewaan tempat berjualan dan pengembangan operasional. Bagi Faisal, pembiayaan memberi kesempatan untuk mengembangkan bisnis melampaui kemampuan ketika usaha masih berpusat di rumah dan mengandalkan kemitraan.

Namun, pinjaman juga membawa kewajiban yang harus diperhitungkan. Modal perlu dikelola agar mampu mendukung kegiatan usaha sekaligus dikembalikan sesuai kesepakatan. Ketika penjualan berjalan baik, angsuran dapat diperhitungkan dari pemasukan. Sebaliknya, saat usaha terganggu, kewajiban itu tetap harus dibayar.

Akses pembiayaan bagi UMKM merupakan bagian penting dalam pengembangan sektor jasa keuangan. Dalam wawancara langsung, Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Utara, Yovvi Sukandar menjelaskan pentingnya kemampuan debitur meyakinkan bank bahwa kondisi usaha dan kapasitas membayarnya memadai ketika mengajukan pembiayaan. Ia juga membahas business matching, yaitu upaya mempertemukan pelaku UMKM dengan lembaga atau sumber pembiayaan yang sesuai. “OJK membantu business matching untuk membukakan akses terhadap pembiayaan,” jelas Yovvi.

Dalam siaran pers pada 15 September 2025 mengenai Peraturan OJK Nomor 19 Tahun 2025, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan, “Dengan diberlakukannya POJK ini, Bank dan LKNB diharapkan dapat menghadirkan pendekatan yang lebih inovatif untuk menyediakan produk keuangan sesuai kebutuhan setiap segmen UMKM.”

Aturan tersebut mendorong akses pembiayaan yang mudah, tepat, cepat, terjangkau, dan inklusif dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. OJK mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan, sedangkan keputusan pemberian pinjaman kepada Faisal merupakan kewenangan bank.

Kisah Faisal memperlihatkan dua sisi pembiayaan: modal dapat membuka peluang pertumbuhan, tetapi penggunaannya harus diimbangi perhitungan arus kas dan kemampuan membayar ketika pemasukan menurun.

Berjejer lapak jualan milik faisal di kawasan Deli Serdang yang sudah dibrending gambar Es Teh Jumbo Zianka. (Foto: Arvin Nasution)

Di Balik Gerai, Ada Puluhan Penghidupan

Kini, berbagai lini usaha Faisal melibatkan sekitar 42 pekerja. Sebanyak 16 orang bekerja di pusat produksi, menangani dapur, pengolahan sempol, pengemasan, dan pekerjaan pendukung lainnya. Distribusi produk dilakukan menggunakan dua becak dan dua sepeda motor untuk pengantaran pada pagi hari serta pengambilan perlengkapan pada sore hari.

Faisal menangani urusan lapangan, distribusi, dan pengembangan usaha, sedangkan Alicya membantu pencatatan keuangan dan operasional. Keduanya terbiasa bertukar pikiran ketika menghadapi persoalan usaha maupun keluarga. Kini, Alicya lebih banyak beristirahat karena kehamilan anak keempatnya yang semakin besar, tetapi tetap menjadi rekan diskusi bagi suaminya.

Bagi Faisal, usaha yang berkembang bukan hanya tentang bertambahnya cabang atau jenis dagangan. Ada pekerja yang membutuhkan penghasilan dari kegiatan usaha tersebut. Karena itu, menjaga operasional tetap berjalan menjadi tanggung jawab yang harus dipikirkan bersama kebutuhan keluarga dan kewajiban keuangan.

 

Banjir Mengubah Prioritas

Banjir pada akhir 2025 memaksa sejumlah gerai tutup dan membuat jaringan usaha Faisal menyusut. Ia mengenang masa itu sebagai salah satu periode tersulit dalam bisnisnya.

“Kami pernah merasakan jatuh saat berbisnis di tahun 2025 yang banjir bandang itu. Kami pusing karena semua cabang banyak yang tutup, utang masih berjalan,” kata Faisal.

Jumlah gerai yang dikelola sendiri, yang sebelumnya sekitar 72, turun menjadi sekitar 32. Ketika gerai tidak beroperasi, pemasukan ikut terganggu, sementara kewajiban pinjaman tetap berjalan. Faisal harus menghitung ulang pengeluaran dan menentukan usaha mana yang masih memungkinkan untuk dipertahankan.

Dukungan pekerja menjadi salah satu hal yang menguatkannya. Ia mengingat ada pekerja dari jaringan reseller yang tetap meminta agar penjualan dibuka kembali meski keadaan belum pulih.

“Semangat saya semakin kuat karena dorongan para pekerja dari reseller yang meminta buka meski di tengah kondisi cuaca buruk dan banjir. Mereka rela gaji atau upahnya diberi separuh, karena mereka juga butuh uang,” tambah Faisal.

Bagi Faisal, pemulihan bukan sekadar menghidupkan kembali gerai, tetapi juga menjaga sumber penghasilan pekerja dan menyelesaikan kewajiban keuangan.

“Cara kami menangani semua masalah kami dengan mencoba membuka satu per satu yang masih bertahan,” tuturnya.

Alih-alih langsung mengejar jumlah gerai seperti sebelum banjir, Faisal memilih memperkuat usaha yang masih berjalan. Ia juga mencari sumber pemasukan lain agar bisnisnya tidak bergantung pada satu jenis produk saja.

Di luar ayam penyet dan minuman, ia mengembangkan usaha sempol dan tahu walet, termasuk membuat resep sempol sendiri. Produk itu dijual sekitar Rp1.000 per tusuk dan membantu menambah pemasukan ketika penjualan Es Teh Jumbo melambat pada cuaca dingin.

Faisal juga menjalankan usaha rental mobil. Seiring berkembangnya bisnis, ia mengumpulkan keuntungan untuk membeli kendaraan secara bertahap. Kini, ia memiliki dua mobil yang pembeliannya masih melalui kredit. Sebagian dana pinjaman bank turut menambah uang untuk pembelian kendaraan tersebut.

Berbekal pengalaman sebagai pengemudi transportasi daring, Faisal memanfaatkan jaringan pertemanan yang terbangun sejak bekerja sebagai pengemudi Grab. Ketika permintaan penyewaan meningkat, terutama menjelang hari besar atau untuk acara tertentu, ia bekerja sama dengan teman-temannya yang memiliki kendaraan.

“Dari teman-teman grab kami buat ini sistem kerjasama untuk menambah pemasukan bang. Seperti hari besar atau acara yang diperlukan, biasanya hanya mau merental, saya cukup menghubungi teman saya yang punya mobil. Semisal 1 mobil rental per hari Rp 300 ribu, saya dapat Rp50 ribu dari 1 mobil,” beber Faisal.

Melalui pola kerja sama tersebut, ia dapat melayani permintaan tambahan tanpa harus memiliki seluruh kendaraan yang disewakan. Rental mobil menjadi salah satu sumber pemasukan di luar bisnis kuliner. Namun, kredit kendaraan juga menambah kewajiban yang perlu diperhitungkan bersama angsuran pinjaman bank dan biaya operasional usaha.

Faisal mengangkat es krital untuk dijual kembali. Ia juga bekerjsama dengan pihak es krital Atlas untuk penjualan sekala lumayan besar dari permintaan warga Deli Serdang dan sekitarnya. (Foto: Arvin)

Untuk depot es kristal, Faisal masih mengandalkan pasokan pemasok. Ia berencana membeli atau membuat mesin sendiri setelah kewajiban pinjaman terselesaikan. Untuk saat ini, ia lebih memilih memperkuat bisnis yang masih berjalan sebelum memikirkan ekspansi berikutnya.

Pengalaman menghadapi banjir mengubah cara pandangnya tentang pertumbuhan. Menambah cabang tetap menjadi peluang, tetapi menjaga usaha tetap beroperasi, memenuhi kewajiban, dan mempertahankan penghasilan pekerja menjadi prioritas.

Dari satu etalase ayam penyet yang dirintis bersama Alicya, Faisal belajar bahwa keberanian membuka usaha harus diimbangi kecermatan mengelola risiko. Kemitraan membantunya memperluas jangkauan, pembiayaan memberinya kesempatan mengembangkan usaha, sedangkan diversifikasi pemasukan menjadi salah satu cara menghadapi perubahan keadaan.

Mimpinya belum berubah, tetapi langkahnya kini lebih terukur: menjaga bisnis tetap berjalan, memenuhi kewajiban, dan mempertahankan penghasilan bagi orang-orang yang tumbuh bersama usahanya. Bagi Faisal, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa jauh bisnis dapat berkembang, melainkan juga tentang bagaimana menjaga apa yang telah dibangun agar tetap bertahan dan memberi manfaat bagi keluarga serta para pekerjanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *