Bukhori, Pedagang Kaligrafi yang Pantang Menyerah

Bukhori, sibuk dengan aktivitasnya memberi lem dengan kuas setiap poster kaligrafi untuk rosea pembingkaian. (Arvin)
Share

Oleh: Arvin Syahputra Nasution

Di satu rumah kecil berdinding semi permanen, di lahan garapan Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, suara potongan kaca, gergaji kayu, dan dentingan paku berpadu dengan lantunan ayat suci dari radio tua. Rumah kecil itu adalah tempat tinggal sekaligus bengkel produksi bagi Bukhori Muslim dan istrinya, Citra Kasih. Di sanalah mereka setiap hari sibuk bekerja membuat kaligrafi.

Bekerja mengukir kaligrafi setiap hari, membuat telapak tangan Bukhori menjadi kapalan dan kasar. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, ia gigih mencari rezeki dari setiap kali sukses mencetak satu dua kaligrafi.

“Kalau lihat kaligrafi selesai dibingkai, rasanya lega,” ujarnya tersenyum. “Capeknya hilang. Dari sinilah kami hidup.”

Pelajaran dari Kemiskinan

Hidup Bukhori tak pernah mudah. Lahir dari keluarga sederhana di Medan Estate, ia sudah mengenal kerja keras sejak kecil. Di usia ketika anak lain masih belajar calistung, Bukhori sudah khatam berjualan di jalanan, dari kampung ke kampung.

“Waktu SD, saya berhenti di kelas lima karena nggak ada biaya. Tapi saya nggak mau diam. Saya bantu orang tua, jualan kecil-kecilan, yang penting halal,” kenangnya.

Dari kecil hingga dewasa, ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain: jadi kuli bangunan, tukang parkir, buruh pabrik, hingga akhirnya memilih berdagang kaligrafi secara asongan. Ia berjalan kaki menenteng dagangan, dari gang ke gang, dari kampung ke kampung.

Bukhori tekun memberikan lem dan membingkai kaligrafi di dalam rumahnya. (Arvin)

Hasil yang Tak Pernah Cukup

Selama bertahun-tahun, Bukhori hanya menjadi pedagang asongan untuk seorang toke yang menjual kaligrafi buatan majikannya dengan sistem bagi hasil. Penghasilannya pas-pasan. Uang hasil menjajakan kaligrafi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan biaya sekolah anak-anaknya.

“Bisa makan aja udah syukur. Tapi mau nabung, rasanya nggak mungkin,” katanya pelan.

Dalam hati kecilnya, Bukhori ingin lepas dari ketergantungan itu. Ia ingin punya kaligrafi buatannya sendiri, punya usaha kecil yang bisa berkembang, dan tidak terus bergantung pada orang lain. Tapi modal menjadi dinding besar yang sulit ia tembus.

Sampai akhirnya, seorang teman sesama pedagang menyarankan agar ia memberanikan diri meminjam modal ke bank.

Harapan Datang dari Bank

Awalnya, Bukhori menolak mentah-mentah. “Saya pikir, mana mungkin orang kayak saya bisa urusan sama bank? Saya cuma tamatan SD,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Namun, temannya meyakinkan, ada banyak pelaku usaha kecil yang bisa mendapat pinjaman resmi, apalagi sejak adanya pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah berpikir panjang, Bukhori memberanikan diri mengajukan pinjaman sebesar Rp20 juta dengan jaminan surat motor dan rumah kecil yang ia tempati.

“Waktu itu takut juga. Takut nggak bisa bayar. Tapi saya baca-baca, kalau bank diawasi OJK, artinya aman. Jadi saya yakin nggak bakal ditipu,” katanya.

Bagi Bukhori, keberadaan OJK terasa seperti jaminan tak kasat mata yang memberi rasa aman. Ia tidak sepenuhnya paham seluk-beluk lembaga itu, tapi tahu bahwa ada pengawas yang memastikan rakyat kecil seperti dirinya tidak diperlakukan semena-mena.

Modal itu pun menjadi awal perubahan besar. Ia mulai membeli bahan baku sendiri: kaca, triplek, poster, lem, dan bingkai. Ia membuat kaligrafi racikan tangannya sendiri, bukan lagi menjajakan milik orang lain.

Citra, sang istri, ikut membantu dari rumah sambil membuat pot bunga untuk tambahan penghasilan. “Kalau ramai pesanan, kami kerja sampai malam. Kalau sepi, tetap disyukuri,” kata Citra lembut.

Bukhori, menunjukan jenis kaligrafi berukuran sendang yang sering dijajakannya. (Arvin)

Langkah Kaki yang Tak Kenal Lelah

Setiap hari – kadang dimulai dari pagi atau sore hari, Bukhori memanggul tas besar berisi kaligrafi ukuran kecil. Kaligrafi besar ia ikat dengan tali dan sandang di bahunya. Ia berjalan dari kampung ke kampung, mengetuk pintu rumah orang, menawarkan hasil karyanya satu per satu.

“Kadang saya titip motor di warung, terus jalan kaki keliling kampung. Kadang pulang malam. Tapi kalau ada satu dua yang laku, rasanya senang banget,” ceritanya sambil tersenyum.

Perjuangan itu tak sia-sia. Pinjaman pertamanya lunas, dan ia kembali dipercaya untuk meminjam Rp50 juta, lalu naik lagi menjadi Rp70 juta. Kini, ia bahkan punya mobil bekas untuk membawa lebih banyak barang dan menjangkau pelanggan di luar kota.

Mengajak Orang Lain untuk Bangkit

Bagi Bukhori, rezeki yang ia dapat bukan untuk dirinya sendiri. Ia kini mengajak teman-teman sesama pedagang agar ikut berjualan kaligrafi bersamanya. “Kalau kita bisa bantu orang lain cari rezeki, itu juga berkah,” ujarnya.

Kisah hidup Bukhori menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bukan satu-satunya kunci keberhasilan. Tekad, kerja keras, dan kemauan belajar bisa membuka jalan menuju kemandirian. Dan tanpa disadarinya, perjuangan Bukhori adalah potret nyata dari hasil kerja panjang OJK dalam mendorong literasi dan inklusi keuangan hingga ke pelosok negeri.

Dari Literasi Keuangan ke Harapan

Kepala OJK Sumut, Khoirul Muttaqien, menjelaskan, lembaganya terus memperluas edukasi dan literasi keuangan hingga ke masyarakat kecil di seluruh kabupaten dan kota, termasuk pelaku UMKM seperti Bukhori. Program seperti Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) membantu masyarakat memahami pentingnya menabung dan mengelola modal usaha dengan bijak.

Bukhori yang kini sudah bisa menabung adalah contoh nyata dari masyarakat yang mulai melek keuangan. Ia berani memanfaatkan akses keuangan yang legal dan aman.

OJK juga terus menggenjot Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang menyasar siswa, mahasiswa, hingga pedagang kecil. Sejak awal 2025 hingga September 2025, OJK telah menyelenggarakan lebih dari 4.700 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari 7 juta peserta di seluruh Indonesia.

Cahaya dari Sebuah Kaligrafi

Sore itu, di bengkel kecilnya, Bukhori menatap satu kaligrafi besar bertuliskan Inna ma’al ‘usri yusra — sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ia mengelus bingkai yang baru selesai ia pasang, lalu berkata pelan, “Kalimat ini yang selalu saya pegang. Kalau kita mau berusaha, pasti ada jalan.”

Kini, ia sudah punya usaha sendiri, mobil sendiri, tabungan sendiri, dan kepercayaan diri yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Semua itu berawal dari keberanian untuk percaya pada diri sendiri, dan pada sistem keuangan yang aman di bawah pengawasan OJK.

Cerita Bukhori adalah cermin dari jutaan kisah rakyat kecil yang kini berani bermimpi. OJK, yang telah hadir selama 14 tahun, bukan hanya mengatur angka dan kebijakan, tapi juga menyalakan harapan: bahwa setiap orang berhak maju, asal diberi kesempatan dan pengetahuan yang cukup.

Karena di balik setiap kaligrafi yang dijajakan Bukhori, tersimpan doa sederhana, semoga makin banyak orang yang berani melangkah seperti dirinya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *