EKBIS  

Sejak Didampingi Bank Indonesia, Tiga Pelaku UMKM Ini Mengaku Bisnis Mereka Semakin Berkembang Pesat

Share

Deli Serdang, ArmadaBerita.Com

Semenjak ikut menjadi binaan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumatera Utara, tiga pelaku UMKM di Kota Medan dan di Deli Serdang mengaku bisnis mereka semakin berkembang pesat.

Hal itu disampaikan, Robert Sianipar, pelaku usaha kain Ulos dan beberapa jenis fasion lainnya ketika memperkenalkan usaha ulos miliknya di acara pelatihan wartawan ekonomi dan bisnis yang dilaksanakan Bank Indonesia Provsu di Hotel The Hill, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (5/11/2020) sore.

Robert Sianipar menuturkan, usaha miliknya sempat terseok-seok. Ia meniti karir di bidang pembuatan kain songket jenis Ulos tersebut sejak tahun 1992. Ditahap awal, kain ulos miliknya sudah lumayan diminati. Di tahun itu ia hanya punya 17 karyawan untuk penenunan. Beberapa tahun selanjutnya mulai berkembang menjadi 100 karyawan.

Namun di tahun 1998 usahanya mulai redup dan karyawan pun menyusut hingga tahun 2000 tinggal hanya 20 karyawan saja. Usahanya mulai melonjak ketik ia bertemu Bu Suti ketika ia berada di Kota Sibolga.

“Saat di Sibolga, saya sedang usaha ikan juga. Disitulah ketemu Bu Suti dari Bank Indonesia Kpw Sibolga. Sejak saat itu saya diajak oleh BI ikut pelatihan,” kata Robert Sianipar.

Dari binaan BI tersebut, lambat laun usahanya mulai meningkat, hingga saat ini sudah ada 100 motif tenunan batak yang dibuat olehnya dengan mempekerjakan 400-an karyawan.

“BI benar-benar membina kami pelaku UMKM. Mereka membina dari Hulu sampai Hilir. Kami diajari membuat benang. Kami dilatih pada saat kami di Kota Sibolga dan saya pindah ke Kota Medan juga kita mendapatkan binaan dari BI,” ungkap Robert Sianipar, yang membuka usaha tenun ulos di Gang Pendidikan, No. 130, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.

Robert mengaku saat ini ia telah memiliki 15 galeri untuk ulos dan fasion pakaian lainnya. “Ulos itu hanya seperlima dari prodak lainnya yang kami buat, selebihnya untuk fasion seperti baju, tas, dan pernak-pernik lainnya,” ungkapnya.

Dalam memasarkan, Robert dan pelaku UMKM klbinaan BI juga kerap diajak dalam pameran ke beberapa tempat, sehingga jenis ulos dan fasion lainnya milik Robert dikenal hingga ke beberapa negara. Tak hanya dipasarkan lewan event atau pameran maupun gerai dan toko miliknya saja, namun kerajinan ulos dan buatan miliknya juga dipasarkan ke be via online seperti Lazada, Shoope, dan lainnya.

Kini ulos dan kerajinan milik Robert sudah berlangganan ke Australia, Singapura, Amerika serta beberapa negara lainnya.

“Nah sekarang kami sudah buka PT. Pembuatan PT itu juga adalah gagasan dari BI. Tujuan ya orang udah agak susah datang ke gerai-gerai lagi. Jadi, BI sangat membantu perkembangan usaha kami. Saya harap BI terus membenina UMKM, karena kami sangat mengharapkan itu,” pungkas Robert Sianipar.

Empek-empek Nabil

Selain Robert Sianipar dengan kain ulos dan fasion lainnya, Widyawati (36) juga merasakan keberhasilan serupa begitu dibina oleh Bank Indonesia Kpw Sumatera Utara (BI Sumut).

Wanita kelahiran 1984 ini awalnya hanya seorang ibu rumah tangga yang tak diperbolehkan keluar rumah oleh sang suami. Namun, karena pingin membantu ekonomi keluarga, di tahun 2015 ia mulai membuat kuliner dari kota kelahirannya di Palembang.

“Ya, karena saya asli orang Palembang, jadi saya bawa ke Medan dengan menyajikan kuliner Empek-empek Palembang,” kata perempuan berhijab lulusan Sarjana Teknik ini.

Tak terfikir olehnya usahanya maju pesat meski tak memiliki toko. Hanya mengandalkan via online hia mulai meralup pundi-pundi untung tahun demi tahun.

“Saya gak buka otlet atau toko. Alasannya suami saya gak memperbolehkan keluar rumah. Disitu saya berfikir untuk punya bisnis, tapi saya gak punya modal, itulah alasannya kenapa saya bangun bisnis ini saya lakukan saya online,” ungkapnya.

Di tahun 2019, ia pun memperoleh jalan menuju ketenaran dan berkembangnya usaha empek-empek miliknya dengan binaan BI. Awalnya, ia dikenalkan mertuanya untuk ngajak gabung ke sebuah Koprasi dan sering jumpa pengusaha-pengusaha. “Disitulah saya kenal dengan Bank Indonesia,” sebut dia.

“Dari awal ini saya jual full online dari 2015. Waktu itu belum banyak yang buka online. Nah tahun 2020 puncaknya Pandemi ini, semua UMKM berubah menjadi online dan diharuskan. Alhamdulillah empek-empek nabil ini 200 persen naik meningkat. Wah ternyata 5 tahun yang belum trend sekarang saya sudah terkenal,” tambah Widyawati dengan riang.

Widy, sapaan wanita penuh senyum itu mengaku memilih berjualan kuliner karena pernah merasakan letihnya berjualan pakaian sewaktu tinggal di Jakarta. Karena jualan baju saat itu tak membuatnya untung lebih dan pakaiannya juga kurang dikenal, Widy dan keluarganya memilih merjual kuliner sejak tinggal di Medan.

“Karena saya baru pindah gak ada yang kenal, rumah pun di pinggiran,” kata Widy yang membuka usaha empek-empek di rumahnya di Perumahan Menteng Indah Blok C2, No.40, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.

Dia pun memulai usahanya dengan mulus, BI hadir ditengah-tengah itu. Sejak dibekali pelatihan dan ikut pembelajaran via online serta cara higienis membuat kue empek-empek, pelanggannya kian bertambah.

Untuk meramaikan pembeli dan melirik pasar, Widy menargetkan kaum ibu yang tidak ada kerjaan di rumah. Syaratnya hanya punya HP Android. Biasanya kaum ibu yang tahu iklan yang dipromokan oleh Widy biasanya dari FB maupun sosial media lainnya.

“Saya gak peduli mereka lulusan apa. Jadi mereka nanti akan saya satukan dalam group, dan saya bayar orang untuk konten. Maka itu saya targetkan emak-emak. Saat ini karena sudah banyak pelanggan, saya buat sistem kemitraan. Kita buka agen dan reseller. Jadi mereka ada yang buka di Aceh, Subulussalam, Sibolga dan lainnya sampai ke Papua,” tuturnya.

BI pun terus memantau Wdy dan para pelaku UMKM binaannya agar berkembang. “BI Punya Program namanya WUBI. Nah, dari 200 orang UMKM yang mendaftar 2019 kita terpilih menjadi 30 UMKM. Disitu kita ada pelatihan namanya BUKEM, melalui pelatihan itulah kita digembleng. Dan kami itu dibina oleh pelatih-pelatih yang berkompeten. Karena pelatihnya itu juga alumni UBI juga yang pelaku UMKM,” sebutnya.

Lima hari pelatihan BUKEM Widy mengaku sangat luar biasa untuk bisnisnya. Setelah itu, ia dan 30 UMUM yang terpilih, selanjutnya terus didampingi selama 6 bulan.

“Lalu setiap 2 minggu sekali ada pendampingan kayak pelatihan. Semenjak dibinak BI bisnis ini saya berfikir bisa dikembangkan, dengan cara bermitra dapat memanfaatkan dari bisnis ini. Kita juga dirangkul untuk pelatihan. Kala ada pameran kita di ikutkan, baik di dalam kota, luar kota, sampai ke luar negeri,” bilng Widy.

Petani Cabai Bisa Panen 21 Ton per Hektar

Disektor pertanian, BI juga hadir. Hal itu dirasakan Yareli sebagai petani Cabai diJalan Dusun Jogja Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang.

Yareli bersama para petani disana yang membuat kelompok Tani bernama, Tani Julu awalnya terbilang petani kuno. Kelompok petani disana bertani hanya mengandalkan pengetahuan yang didapat tanpa adanya bimbingan dan pembelajaran dari orang yang berkompeten. Sejak berdiri kelompok yang awalnya bergerak di bidang pangan itu di tahun 1992 dengan 30 orang, mereka secara bersama membuat DAM atau bendungan dengan alat dan strategi yang belum mumpuni. Hingga mendingan yang diharapkan pun roboh di beberapa tahun setelahnya sekira tahun 1998.

Namun mereka tak patang menyerah. Di tahun 2014 Juli Tani sudah beranggotakan 105 orang. Nah, disaat itu mereka khusus menanam multikultural yaitu cabai. Tapi karena belum tau tehniknya, hasil panen cabai mereka dianggap belum cukup meng caver semuanya.

“Tahun 2017 tempatnya 31 Mei, kami kenal dengan bank Indonesia, kemudian dijadikan klaster cabai merah. Alahmaduliah di tahun ini sudah mulai meningkat, karena dibina. Dari awalnya 10 ton Per hektar. Dan sekarang panen kita sudah 21 ton per hektar. Dengan 250 pekerja,” ungkapnya senang.

Dan yang pasti juga membantu banyak orang. Sebab, banyak menyerap para pekerja. Bukan hanya di kawasan itu, namun sampai dari desa lain yang terserap menjadi pekerja.

Tak hanya dapat bimbingan serata berbagai pelatihan, BI juga memberikan berbagai fasilitas yang diperlukan oleh para petani, namun semua nya itu sudah terbukti dengan kegiatan petani yang dinilai punya prospek kedepannya.

“Selanjutnya kami pun dapat bantuan dan inisasi dari BI. Sekarang kita sudah punya Leaning Center, Mini Leb, Terminal Agro Bisnis (STA) dan lainnya,” sebutnya.

Karena kesuksesannya, Juni Tani kini sebagai tempat study banding bagi oetani-petani lain hingga ke luar daerah, seperti dari Kabupaten Langkat, Kalimantan Barat, Pakpak Barat, Sulawesi dan berbagai wilayah belajar ke Juli Tani.

“Juli Tani juga sudah memiliki olahan dari cabai; yakni, saos, abon, dan lainnya. Sekarang kita juga menjual benih Jusiber,” bilangnya.

Ketua Kelompok Tani, Yareli mengaku, para petani juga sempat galau di masa Pandemi Covid-19. Hal itu karena banyak pengiriman cabai yang mereka panen stop oleh adanya peraturan baru hingga Lock Down.

Di massa sulit itu, untungnya BI terus mendampingi. Pembelajaran dan pelatihan juga dilakukan meski dilakukan secara virtual.

“Kita dikenalkan juga dengan Klw BI lainnya, seperti Gorontalo, Sibolga, dan lainnya. Nah, sejak mulai normal ini, alhamdulillah kita mulai baik. Dan sampai saat ini terus didampingi dan tetap diikutkan dalan setiap acara pembinaan. Awalnya kami sesuka hati menanam, kini sudah mengerti. BI tau kebutuhan kami. Terimakasih buat BI,” pungkasnya. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *