EKBIS  

Hadiri KKSU, Peternak Sapi Sukses di Selandia Baru Inspirasi Petani Indonesia

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Untuk mendorong pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) khususnya di Sumatera Utara, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Utara (BI Sumut) menggandeng nasasumber di bidangnya yang menginspirasi para pelaku usaha termaksud Petani.

Dari pagelaran Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) yang digelar selama tiga hari yakni; 16-19 September 2021, BI Sumut terus menggandeng inspirator bagi masyarakat khususnya kaum milinial pelaku UMKM.

BI Sumut menyelenggarakan Event ini sekaligus dalam rangka Road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2021, juga turut menyemarakkan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI), Gerakan Nasional Bangga Berwisata di Indonesia (BWI), dan Beli Kreatif Danau Toba (BKDT) 2021.

Di hari kedua ini BI Sumut mengundang narasumber yakni; Reza Abdul Jabbar. Ia merupakan petani rerumputan serta peternak sapi yang sukses di Negara Selandia Baru. Saat ini ia telah memiliki lebih 4000 sapi di lahan Selandia Baru.

Pria asal Pontianak ini berhasil meniti karirnya usai merantau ke Negeri Kiwi tersebut. Ia merantau sejak masih lajang dan menggeluti beberapa jenis pekerjaan.

“Saya merantau ke Selandia Baru dari usia remaja dan sekarang telah memiliki 5 anak. Dulunya pekerjaan memandikan jenazah, sampai jadi imam di Mesjid saya kerjakan,” kata Reza Abdul Jabbar saat menjadi pembicara di KKSU yang dilaksanakan secara virtual dan diikuti lebih 400 orang peserta termaksud pelaku UMKM se Sumatera Utara, Sabtu (18/9/2021) siang.

Sebagai pembicara, Reza Abdul Jabbar atau yang juga disapa Ustadz Reza, mengisi acara KKSU dengan tema “Bisnis Agro Kuliner Ala Milenial”.

Kepada para pelaku UMKM termaksud Peternak, maupun Petani, Ustadz Reza mengatakan, berbicara tentang pertanian, perikanan, perkebunan juga dikatakan seorang petani. Menurutnya, seorang petani itu adalah orang yang tangguh, bahkan bisa dikatakan dunia petani adalah dunia petarung bebas. Maka untuk menjadi petarung bebas harus punya jiwa semangat untuk menang dan jangan malu dikatakan sebagai petani.

Selain itu untuk menjadi sukses kunci utamanya, sebut Ustada Reza adalah restu orang tua. “Jadi kalau rumus saya, Ridho Allah ada di ridhonya orangtua kita. Jadi pandangan kita, pastikan kita sama orangtua bagus. Saya bisa bilang, nggak ada profesi yang lebih baik dari petani, kenapa begitu dasar saya adalah hadis Nabi SAW yang saya pegang,” ungkapnya.

Hal itu dilakukannya dan membuat sukses akan usaha nya menjadi seorang petani maupun peternak dikarenakan ridho kedua orangtua.

“Dunia Petani asalah dunia tarung bebas. Ukurlah diri kita dengan kemampuan kita. Sebelum kita mulai, dapatkan restu dari orangtua, keluarga. Jangan malu untuk anak muda membidangi pertanian, meski lulusan sekolah yang tinggi. Orangtua juga jangan minder kepada anaknya yang akan berkecimpung sebagai petani. Petani itu keren,” kata pria berjanggut tebal yang telah mengenyam pendidikan sampai S3 ini.

Karena menurutnya petani itu banyak yang bisa di fikirkan, dirancang untuk keberhasilan. Memiliki ide-ide cemerlang dimiliki seorang petani. Untuk itu, ia menegaskan agar kaum milenial harus bangga menjadi seorang petani. Dirinya juga berencana, untuk anak muda yang akan melangsungkan akad nikahnya agar memberi mahar binatang ternak.

“Kita juga akan sosialisasikan ke KUA (Kantor Urusan Agama) kalau bisa maharnya sapi atau domba,” ucap Ustadz Reza yang memiliki lahan pertanian seluas 1000 Hektar di Selandia Baru.

Kesuksesannya menjadi petani di Selandia Baru juga didukung dengan pemerintahan di negara itu soal lahan. “Kita akan saksikan sinergi antara pemilik lahan, pemilik ternak, pasti diperhatikan sektor agro bisnis. Seperti di Selandia Baru ini, pemerintah mengizinkan warga pendatang seperti dirinya memiliki sertifikat lahan hak milik.

Maka dari itu, ia juga berharap kepada pemerintah, terkhusus kepada anggota DPR RI, Gis Irawan Pasaribu yang hadir agar bisa merealisasikan seperti yang dianut negara-negara maju.

“Konsepnya bisa dikelola lahan itu dengan mengembangkannya dan bisa memiliki sertifikat hak milik seperti yang terjadi di negara-negara maju termaksud Selandia Baru. Lahan pertanian disini dapat digunakan ratusan tahun. Semua unit lahan pertanian itu dihargai,” ungkapnya.

Dari pemaparan Gus Irawan Pasaribu mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita Indonesia) sudah mencapai 7%, namun dikatakan Reza Abdul Jabbar, di negara-negara lain bahkan masih merosot. New Zealand (Selandia Baru) ini bisa dikatakan mengalami defisit ekonomi yang sangat parah, seperti sektor pariwisata, hiburan restoran, mall, hotel dan sebagainya hampir hilang di masa Pandemi Covid-19 ini.

Untungnya, New Zealand menjadikan sektor pertanian menjadikannya pondasi bangsa. Mereka menjadikan cara berfikir masyarakat tentang petani lebih bangkit.

Berbicara Sumatera Utara, Ustadz Reza mengaku sudah familiar dengan daerahnya. Sebab, ibunya lahir di Kabupaten Langkat, Sumut, dan ayahnya berasal dari Aceh. “Disitu (Sumut) ada dataran tinggi yang mudah melahirkan buah-buahan,” imbuhnya.

Bagi kaum milenial, ia pun menegaskan untuk berani dan optimis serta jangan berfikir kalu petani itu bernilai rendah. “Main satu barang aja, kalau orang main lilin, kita main susu asal itu bener. Harus semangat dan pastikan dapat ridho orangtua,” pungkasnya.

Sebagai pembicara yang dilakukan secara virtual zoom tersebut juga dihadiri inspirator Alfi Irfan selaku Founder and CEO AgriSocio, kemudian Coach Marioto selaku Agriprenuer – IMUTS pelatih Indonesia.

Hadir secara langsung Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara (BI Sumut, Soekowardojo, Anggota DPR RI Komisi XI, Gus Irawan Pasaribu, para pelaku UMKM, Petani, Kepala BI Perwakilan di daerah Sumut, serta wartawan dan tamu undangan lainnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *