MEDAN, ARMADABERITA – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Ameriza M. Moesa, mengatakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya meningkatkan penjualan untuk dapat dikategorikan sebagai usaha yang naik kelas. Menurutnya, UMKM harus mampu menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi produk, memperluas akses pasar, hingga menembus pasar ekspor.
Pernyataan tersebut disampaikan Ameriza saat menjelaskan alasan Bank Indonesia membina BosTeriMedan, salah satu UMKM pengolah ikan teri di Kota Medan. Ia mengatakan pemilihan UMKM binaan didasarkan pada potensi produk sekaligus komitmen pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya.
Menurut Ameriza, komitmen pemilik usaha menjadi indikator utama dalam proses pembinaan. Bank Indonesia melihat adanya upaya meningkatkan nilai tambah dari komoditas unggulan daerah yang sebelumnya hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Ia menjelaskan ikan teri merupakan salah satu komoditas unggulan Kota Medan yang memiliki permintaan cukup tinggi. Melalui proses pengolahan menjadi produk kemasan, nilai ekonomi komoditas tersebut dinilai dapat meningkat sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Bank Indonesia juga menilai BosTeriMedan telah memenuhi sejumlah indikator UMKM naik kelas, antara lain menerapkan hilirisasi, memanfaatkan digitalisasi, dan memiliki peluang ekspor. Produk olahan ikan teri tersebut bahkan telah lolos kurasi sebagai makanan ringan untuk penerbangan Garuda Indonesia serta beberapa kali mengikuti kegiatan business matching perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Ameriza menegaskan, ukuran keberhasilan UMKM tidak hanya dilihat dari peningkatan omzet. Menurutnya, indikator yang lebih penting adalah semakin luasnya akses pasar, keberlanjutan usaha, transformasi pemasaran dari konvensional ke digital, hingga kemampuan menembus pasar internasional.
Ia menambahkan, capaian tertinggi bagi sebuah UMKM adalah ketika mampu melakukan ekspor dan bahkan menjadi agregator bagi pelaku usaha lain yang bergerak di sektor yang sama.
Meski demikian, Ameriza mengingatkan masih banyak tantangan yang dihadapi UMKM nasional. Salah satu persoalan utama adalah menjaga konsistensi kualitas produk ketika permintaan pasar meningkat. Karena itu, pelaku usaha perlu memperkuat sistem pengendalian mutu serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar kualitas produk tetap terjaga seiring bertambahnya produksi.
Selain itu, digitalisasi dinilai menjadi faktor penting dalam memperluas pasar. Platform digital tidak hanya membuka akses pemasaran hingga ke tingkat global, tetapi juga membantu pelaku usaha dalam pencatatan keuangan sehingga lebih mudah memperoleh akses pembiayaan.
Namun, Ameriza menekankan bahwa keberhasilan di pasar digital tetap bergantung pada kualitas produk dan keunggulan yang dimiliki setiap daerah. Produk yang memiliki cerita kuat, mencerminkan budaya lokal, serta memberikan dampak sosial dinilai lebih mudah diterima oleh konsumen di pasar internasional.
Menurutnya, setelah mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia, BosTeriMedan menunjukkan perkembangan melalui perluasan pemasaran digital, peningkatan promosi, hingga ekspansi ke pasar luar negeri. Komitmen untuk terus berinovasi dan memperluas pasar dinilai menjadi modal penting agar UMKM mampu bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ameriza menambahkan, hilirisasi yang dilakukan UMKM tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi suatu komoditas, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian daerah. Peningkatan permintaan bahan baku lokal, bertambahnya serapan tenaga kerja, tumbuhnya aktivitas logistik, serta meningkatnya pendapatan daerah menjadi manfaat yang diharapkan dari berkembangnya UMKM berorientasi ekspor.











