JAKARTA, ARMADABERITA.com – Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) mengadakan kegiatan psikoedukasi anti-perundungan untuk anak-anak usia SMP di RT 01/RW 07 Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu (30/11/2024).
Acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya bullying sebagai bagian dari kampanye 5 Anti (Anti-Intoleransi, Kekerasan Seksual, Perundungan, Narkoba, dan Korupsi).
Kegiatan berlangsung di Gedung Serbaguna RT 01 dari pukul 10.30 hingga 11.30 WIB. Sebanyak tujuh anak usia 12-15 tahun hadir bersama pengurus RT. Acara dimulai dengan pembukaan dan jargon “Stop Bullying: Ciptakan Dunia Tanpa Luka,” diikuti sesi ice-breaking untuk mencairkan suasana.
Pemaparan Materi Anti-Bullying
Dalam sesi psikoedukasi, mahasiswa menjelaskan:
– Pengertian bullying sebagai tindakan agresif yang dilakukan berulang kali terhadap orang yang dianggap lebih lemah.
– Dampak bullying pada korban, pelaku, dan saksi, seperti trauma, kecemasan, dan kesulitan menjalin hubungan baik.
– Cara mengatasi bullying dengan berani bicara, pergi menjauhi, menjadi teman, dan melapor kepada orang dewasa.
Peserta diajak bermain permainan interaktif untuk memperkuat pemahaman, seperti menyambungkan kalimat terkait bullying menggunakan kata “Jika” dan “Maka.” Dua peserta yang aktif mendapatkan apresiasi berupa buku dan alat tulis.
Kegiatan Interaktif dan Refleksi
Sebelum kegiatan berakhir, peserta diminta menulis perasaan dan kesan di sticky notes, yang kemudian ditempel pada poster berjudul “Persahabatan Tanpa Perundungan.”
Beberapa peserta menuliskan pesan seperti, “Aku pasti berani,” dan “No Bullying! Friendship is forever.”
Harapan untuk Lingkungan Positif
Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembagian bingkisan kepada peserta. Psikoedukasi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang saling mendukung dan mencegah bullying di masa depan.
“Kami berharap kegiatan ini mampu memberikan kesadaran lebih kepada masyarakat tentang pentingnya menghentikan perundungan,” ujar salah satu mahasiswa.
Kegiatan ini menjadi langkah kecil namun berarti dalam menciptakan komunitas yang lebih positif dan inklusif. (*)











