Oleh Mardi Panjaitan, Kepala SLB Negeri Pembina
PAGI ITU, HALAMAN SLB-E Negeri Pembina terasa lebih semarak dari biasanya. Rombongan dari Universiti Sains Malaysia (USM) yang dipimpin oleh Dr. Lim Chee Ann datang bersama para dosen dan mahasiswa. Turut hadir juga sahabat pendidikan dari Universitas Terbuka, Yasir Riadi, serta perwakilan Universitas Panca Budi Medan.
Sebagai kepala sekolah, saya merasa bangga sekaligus bahagia bisa menyambut tamu istimewa tersebut. Dalam sambutan, saya sampaikan bahwa sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang inspirasi. Saya berdoa agar selepas dari kunjungan ini, hati para tamu tergugah dan ingin kembali, ikut membangun masa depan anak-anak bertalenta khusus.
Suasana hangat langsung terasa ketika mahasiswa USM berbaur dengan anak-anak SMPLB Tunarungu. Mereka bernyanyi, bermain, hingga senam bersama di Aula Sisingamangaraja XII. Gelak tawa dan keceriaan memenuhi ruangan.
Tak berhenti di sana, mahasiswa USM juga mengadakan pelatihan Canva dan English Academy Kids. Anak-anak diajak membuat desain brosur sederhana, membuktikan bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas.
Sementara itu, saya menemani para dosen Malaysia berkeliling sekolah. Satu per satu ruangan saya perkenalkan—mulai dari tata usaha, ruang bina diri, hingga ruang vokasi seperti sablon, kecantikan, tata boga, tata busana, perpustakaan, bahkan kelas untuk anak tunanetra.
Antusiasme mereka luar biasa. Diskusi mengalir tentang pendidikan khusus dan inklusi, seolah membuka jendela baru bagi kolaborasi lintas negara.
Duet Cantik
Hingga tibalah momen tak terduga. Dr. Lim tiba-tiba berkata dengan suara bergetar, “Saya ingin bertemu anak-anak tunanetra.” Permintaan sederhana itu membuat suasana hening. Beberapa menit kemudian, anak-anak tunanetra hadir bersama orangtua mereka.
Salah seorang siswi, Anggita, diminta bernyanyi. Suaranya yang merdu memenuhi aula, menghadirkan rasa haru. Dr. Lim kemudian mengulurkan beberapa lembar uang kepada setiap anak sambil berkata lirih, “Ini tanda sayang dan cinta… sekadar untuk membeli buku.”
Bukan jumlahnya yang membuat terenyuh, melainkan ketulusan yang terpancar. Saat itu, semua orang sadar: pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga tentang kepedulian dan cinta.
Kejutan lain datang dari Kak Andy, Kepala Budaya USM, yang mengajak saya bernyanyi duet lagu “Aku dan Dirimu”. Spontan seluruh rombongan ikut bersenandung. Aula seketika berubah menjadi panggung persahabatan. Saya sempat merasa jadi artis dadakan—walau suara saya pas-pasan, tetapi nyatanya keceriaan lah yang membuat momen itu begitu indah.
Hari itu, SLB-E Negeri Pembina bukan hanya menjadi tuan rumah sebuah workshop, melainkan juga saksi lahirnya ikatan persahabatan. Anak-anak bertalenta khusus menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penerima kasih, melainkan juga sumber inspirasi dan kebanggaan.
Terima kasih Universiti Sains Malaysia, Universitas Terbuka, dan Universitas Panca Budi Medan. Semoga benih kasih yang ditanam hari ini tumbuh menjadi pohon persahabatan yang akan terus memberi berkat bagi anak-anak disabilitas di Indonesia.











