Berbagi Cerita Sambil Belajar Dengan Anak-anak Panti Asuhan Hati Bangsa

Share

Jakarta, ArmadaBerita.Com

Panti asuhan Hati Bangsa, sebuah panti asuhan yang didirikan oleh seorang berhati mulia bernama Mikas. Bapak Mikas ini mendirikan panti asuhan ini dengan bantuan donatur-donatur yang namanya tidak disebutkan.

Mikas mendirikan panti asuhan ini dengan penuh cinta akan anak-anak disana. Ia mendirikan panti asuhan ini dengan harapan anak-anak yang berada di dalam panti asuhan ini juga memiliki masa depan seperti anak-anak pada umumnya, dan harapan terbesar yang dimilikinya adalah anak-anak yang akan tumbuh dewasa ini dapat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan beliau yaitu mendirikan panti asuhan.

Karena ia sering berkata demikian, “Semua anak berhak mendapatkan kasih sayang, rumah, dan ilmu pengetahuan yang sama seperti anak-anak di luar sana.” Sungguh mulia harapan dia.

Panti asuhan ini dihuni oleh anak-anak yang berumur 8 tahun sampai 21 tahun. Totalnya sekitar 35 anak di sana. Untuk kunjungan ke panti asuhan ini dapat menghubungi Mikas atau langsung datang ke panti asuhan Hati Bangsa yang terletak di Jalan Jembatan dua raya, Gang Pilin 1, No.5R, RT.2/RW.2, Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta.

Untuk jadwal berkunjung sangatlah fleksibel. Kita dapat berkunjung kapan saja. Jika ingin memberikan donasi berupa apapun kepada anak-anak panti asuhan tersebut, juga diperbolehkan.

Selanjutnya banyaknya murid yang dibimbing dalam program ini ada 26 anak. Tempat yang digunakan untuk melakukan bimbingan tersebut adalah di lobby masuk panti asuhan. Untuk perlengkapan yang mereka gunakan adalah meja lipat untuk dijadikan alas menaruh buku, dan alat tulis. Untuk keadaan ruangannya sangat layak untuk belajar, dan bersih.

Hal tersebut dapat dirasakan oleh anak-anak panti asuhan karena banyaknya donatur yang membantu mendirikan panti asuhan itu untuk mendapatkan perlengkapan belajar ataupun ruangan seperti AC dan papan tulis.

Yang membuat panti ini bersih adalah anak-anak itu sendiri. Mereka diajarkan sejak dini untuk menjaga panti asuhan itu layaknya rumah sendiri. Mereka dididik untuk membersihkan sesuatu setelah mereka menggunakannya. Jadi ketika kami selesai membimbing, mereka akan mulai membersihkan apa yang telah mereka gunakan, dan bahkan mereka bekerjasama untuk menyapu lantai yang kotor.

Kami juga memberikan beberapa pertanyaan kepada anak-anak panti untuk mengetahui kegiatan sehari-hari mereka. Kami sempat menanyakan kegiatan yang mereka lakukan dari pagi hari sampai malam hari.

Yang membuat kami kagum adalah mereka sama sekali tidak bermain gawai seperti anak-anak “zaman now” yang candu gawai. Mereka mulai berkegiatan mulai pukul 5.30 pagi yaitu mandi pagi untuk berangkat ke sekolah masing-masing. Mereka bersekolah di dua tempat yang berbeda, ada beberapa anak yang bersekolah di SD Kristen Yusuf dan Metodist.

Mereka sekolah di sana mendapat biaya dari donatur dan uang diaken atau biasa disebut uang untuk mengayomi atau membantu masyarakat sekitar atau jemaat gereja yang membutuhkan. Nah setelah mereka pulang dari sekolah mereka akan langsung membersihkan panti asuhan mereka, seperti menyapu dan mengepel.

Lalu setelah selesai melakukan hal tersebut mereka akan disuruh untuk makan siang bersama dan langsung tidur siang setelah itu. Setelah tidur siang mereka akan langsung disuruh untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan sehabis tugas sekolah maka akan langsung makan malam dan mereka akan memiliki waktu untuk renungan bersama-sama terlebih dahulu lalu tidur.

Hal yang membuat kami kagum dengan mereka adalah kejujuran. Itu yang kita rasakan dari mereka serta rasa ingin tahu yang luar biasa dari mereka akan pengetahuan, kita selalu ditanyakan tentang dunia perkuliahan dan dunia pekerjaan. Mereka juga selalu mengingat Tuhan dan rajin beribadah.

Selain itu anak-anak di sana juga sangat rendah hati. Mereka menganggap kami semua sebagai saudaranya. Tidak sedikit dari mereka yang berbagi kisah lucu yang mereka alami semasa di panti asuhan. Mereka kerap kali menanyakan kepada kami apakah ada pengalaman yang berkesan selama mengajar mereka. Itu membuat kami kagum pada mereka, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Cara kami mengajar mereka adalah melihat hal yang mereka pelajari di sekolah dan kami mencari soal di internet lalu dibuat menjadi beberapa soal lalu kita print dan menyuruh mereka mengerjakan soal-soal tersebut. Kami mengajarkan matematika, ilmu pengetahuan alam, dan juga bahasa inggris.

Mereka begitu senang mengerjakan soal-soal yang kita berikan dan kita juga mengajarkan mereka dengan sangat antusias karena keinginan mereka yang selalu meminta kita belajar lebih dari apa yang diajarkan disekolah dan rasa ingin tau yang tinggi membuat kami mengajarkan apa yang dapat kami ajarkan kepada mereka.

Untuk kendala dalam mengajar mereka adalah tidak semua dari anak-anak tersebut pandai dalam mata pelajaran tertentu, ada yang pandai terhadap matematika ada yang tidak, ada yang pandai terhadap bahasa inggris dan ada yang tidak.

Kendala kita adalah dimana anak-anak yang pandai terus menerus meminta kami untuk lanjut ke soal yang lebih sulit lagi sedangkan anak-anak yang masih mempelajari soal sebelumnya kerap kali tertinggal. Karena itu, cara kami mengatasi hal tersebut kami membagi beberapa kelompok, kami membuat 4 kelompok dimana yang pertama adalah kelompok dimana berisi anak-anak kelas 4 dan kelas 5. Lalu kelompok kedua diisi dengan anak-anak kelas 1, 2 dan kelas 3.

Lalu kelompok ketiga dan keempat yang akan mengurus anak-anak yang tidak mengerti dengan apa yang diajarkan jadi walaupun ada beberapa anak yang tidak dapat mengikuti pengajaran kita akan dibantu untuk mengulang lebih detail apa yang diajarkan sehingga tidak mengganggu alur pelajaran.

Konsep pengajaran kami selama 6 pertemuan tersebut adalah dimana pertemuan pertama kami melakukan observasi terhadap pelajaran yang mereka sedang pelajar di sekolah untuk dijadikan referensi kami dalam membuat soal pada pertemuan 2 sampai 5.

Pada pertemuan 2-3 memberikan soal-soal matematika dan pada pertemuan ke 4-5 kami memberikan soal bahasa inggris, dan selain itu kami menggunakan teknik pengajaran seperti guru-guru SD pada umumnya, jadi kita tidak mengajarkan mereka cara-cara yang instan untuk berhitung, kita mengajarkan mereka darimana asal muasal cara instan berhitung tersebut dapat terbentuk.

Lalu untuk bahasa Inggris kami mengajarkan mereka menghafalkan kosa-kata yang ada pada lembar soal kami, dan kami membuat suatu ujian untuk melakukan test kepada mereka seperti dalam bahasa inggris kami menguji kosakata apa saja yang mereka sudah pelajari, dan mengajak mereka untuk mengartikan seluruh bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam lembar soal.

Untuk matematika kita melakukan pengujian seperti kami menanyakan perkalian dasar tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu agar dapat membantu mereka berhitung lebih cepat.

Lalu pada pertemuan terakhir kami menanyakan apakah ada yang ingin ditanyakan setelah 4 pertemuan mengerjakan soal-soal, dan pada pertemuan kali ini kami juga memberikan pandangan tentang dunia luar seperti perkuliahan dan dunia pekerjaan dan juga etika serta norma-norma di masyarakat, dengan harapan mereka memiliki bekal saat dewasa nanti.

Harapan kami dalam melakukan bimbingan belajar ini adalah agar anak-anak dapat tertarik dalam semua bidang pelajaran. Karena seperti hasil pengamatan kami terhadap anak-anak panti asuhan di sana, jika ada pelajaran yang tidak paham mereka akan menjauh dari kelompok mereka dan melakukan hal lainnya seperti menggambar dan mulai tidak peduli dengan sekitar.

Karena itu kita membuat beberapa kelompok agar tidak ada yang menyendiri dan pelajaran tetap berlanjut. Kami berharap dengan cara pengajaran kami yang seperti itu mereka dapat lebih tertarik dalam pelajaran yang mereka tidak mengerti bukan malah pergi meninggalkan pelajaran tersebut.

Selain itu kami juga menceritakan dunia luar semenarik mungkin agar mereka tertarik untuk belajar lebih lagi sehingga dapat meraih mimpi-mimpi mereka Kami juga memberikan mereka pengajaran terhadap etika-etika yang harus diterapkan di dunia luar seperti rasa toleransi terhadap perbedaan, dan rasa ingin membantu terhadap satu sama lain.

Dan hal ini sudah kami terapkan dari pertemuan pertama kami, dan pada pertemuan ke-lima sudah terlihat dimana anak-anak kelas atas memiliki keinginan untuk membantu anak-anak dibawahnya. Kami berharap agar hal ini dapat selalu diingat oleh mereka, dan mereka dapat menyebarkan pengajaran tentang etika ini kepada teman-teman yang lainnya. (*)

Artikel ini ditulis oleh tim dari Mahasiswa Ukrida yang terdiri dari Jonathan F, Marco Cung, Natalis Felix dan Albert Leonardo Pratama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *