Utama  

Bedah Buku Tionghoa Medan, Sofyan Tan: Budaya Tidak Mengenal Pagar

Share

MEDAN, ARMADABERITA – Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menilai keberagaman merupakan modal sosial yang harus dijaga dan dikelola bersama. Menurut dia, perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan yang membentuk identitas bangsa.

Hal itu disampaikan Sofyan Tan saat menjadi pembicara dalam bedah buku Tionghoa Medan: Merajut Kebhinnekaan dalam Keharmonisan Berbangsa karya antropolog Mariana Makmur di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Rabu (6/8/2026).

Sofyan mengatakan buku tersebut tidak hanya mengulas perjalanan masyarakat Tionghoa di Kota Medan, tetapi juga menggambarkan bagaimana keberagaman menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia.

“Keberagaman bukan masalah yang harus diselesaikan, tetapi modal sosial yang harus dikelola,” ujar Sofyan.

Menurut dia, Medan merupakan salah satu contoh kota yang mencerminkan kebhinnekaan. Beragam etnis, seperti Melayu, Batak, Jawa, Aceh, India, hingga Tionghoa, hidup berdampingan dan berkontribusi membentuk karakter kota.

Ia juga menilai budaya tidak mengenal batas. Berbagai unsur budaya Tionghoa, kata dia, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari kuliner, bahasa, hingga busana.

“Budaya saling meminjam dan budaya saling memperkaya,” katanya.

Sofyan menilai salah satu kekuatan buku tersebut adalah upayanya meluruskan stereotip terhadap masyarakat Tionghoa. Selama ini, menurut dia, etnis Tionghoa kerap dipandang hanya dari sisi ekonomi, padahal kontribusinya juga terlihat dalam bidang pendidikan, kebudayaan, filantropi, politik, dan seni.

Ia juga mengingatkan bahwa kemiskinan tidak mengenal suku maupun agama sehingga anggapan bahwa seluruh masyarakat Tionghoa hidup berkecukupan merupakan pandangan yang tidak tepat.

Sofyan berharap buku tersebut terus dikembangkan dengan menghadirkan perspektif generasi muda dan kelompok etnis lainnya. Ia juga menilai isu digitalisasi, kecerdasan buatan, globalisasi, UMKM, hingga perubahan pola usaha perlu menjadi bagian dari pembahasan agar kajian kebudayaan tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Indonesia justru lahir karena kita sepakat hidup bersama dalam perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, penulis buku, Mariana Makmur, mengatakan karya tersebut merupakan hasil penelitian disertasinya. Ia mengangkat tema masyarakat Tionghoa Medan karena masih banyak stereotip yang melekat, seperti dianggap eksklusif, tidak membaur, culas, dan kasar.

Menurut Mariana, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Melalui bukunya, ia ingin memperkenalkan kebudayaan Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia sekaligus mengulas prinsip-prinsip ekonomi masyarakat Tionghoa yang dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha.

“Melalui buku ini saya ingin memperkenalkan kebudayaan Tionghoa yang sudah menjadi bagian kekayaan budaya Indonesia yang berbhinneka, serta prinsip-prinsip ekonomi etnis Tionghoa,” kata Mariana.

Kegiatan bedah buku tersebut turut dihadiri Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Muhammad Pujiono, Sekretaris Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan Yu Lei, Ketua Program Studi Bahasa Mandarin FIB USU Vivi Adryani Nasution, serta akademisi dan mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *