Deli Serdang, ARMADABERITA – Perempuan-perempuan Karo berbaris membawa hasil kebun di atas kepala. Ada labu, terong, kacang panjang, pisang, kelapa, salak, hingga durian. Mereka menunggu giliran untuk menyerahkannya kepada anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, yang sedang melakukan kunjungan reses di Desa Tiga Juhar, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang, Rabu, 29 Juli 2026.
Salah seorang warga, Serasi beru Barus, membawa sebuah labu dengan cara nujung, istilah dalam bahasa Karo untuk membawa barang di atas kepala. Menurut dia, labu itu merupakan simbol rasa syukur kepada Sofyan Tan yang telah membantu anaknya bersekolah.
“Ini ungkapan syukur saja, terima kasih ke Pak Sofyan Tan karena sudah bantu anak saya sekolah,” ujar Serasi.
Bagi masyarakat setempat, labu yang dibawa Serasi bukan sekadar hasil kebun. Satu labu menghasilkan banyak biji yang dapat tumbuh menjadi ratusan bahkan ribuan labu. Simbol itu kemudian dimaknai sebagai harapan agar dari satu orang seperti Sofyan Tan lahir banyak orang lain yang membantu masyarakat.
Ribuan warga lain juga mengantre untuk bersalaman dan berfoto bersama Sofyan Tan sembari membawa hasil kebun mereka.
Kunjungan Sofyan Tan ke STM Hulu bukan yang pertama. Ia mengatakan memiliki alasan khusus untuk terus mendatangi kawasan tersebut sejak mengetahui perolehan suaranya pada Pemilu 2014.
Saat itu, Sofyan Tan memperoleh 84 suara di Kecamatan STM Hulu, meski ia belum pernah mengunjungi daerah tersebut. Lokasinya relatif jauh dari pusat Kota Medan, dengan akses jalan yang ketika itu masih rusak. Namanya pun belum banyak dikenal masyarakat.
“Saya heran, siapa 84 orang ini yang memilih saya?” kata Sofyan mengenang.
Rasa penasaran tersebut mendorongnya datang ke STM Hulu. Di sana ia bertemu Megawati Barus, guru SMA Swasta Bina Bangsa Tiga Juhar. Pertemuan itu kemudian menjadi awal dari sejumlah program pendidikan yang dijalankan Sofyan Tan melalui jalur aspirasi.
Dalam salah satu kunjungannya ke sekolah tersebut, sebuah spanduk sederhana menyambut kedatangannya. Spanduk itu bertuliskan “Selamat Datang Pejuang Pendidikan”.
Sejak saat itu, masyarakat STM Hulu menyebutnya sebagai “Pejuang Pendidikan”. Julukan tersebut kemudian melekat hingga sekarang.
Sofyan Tan mengatakan dari pengalaman itu muncul keinginan agar STM Hulu memiliki lebih banyak sarjana. Program tersebut awalnya dimulai dengan membantu dua anak dari STM Hulu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kini, menurut Sofyan, jumlah penerima Beasiswa KIP Kuliah dari kawasan tersebut telah mencapai 205 mahasiswa. Sebagian penerima beasiswa itu telah menyelesaikan pendidikan dan menjadi sarjana.
Bagi Sofyan, membantu seorang anak melanjutkan pendidikan berarti membuka peluang untuk memutus mata rantai kemiskinan dalam keluarganya. Pendidikan, kata dia, merupakan salah satu jalan untuk mengubah kehidupan keluarga.
Dukungan terhadap pendidikan juga diberikan melalui pembangunan dan revitalisasi fasilitas sekolah. Melalui jalur aspirasi, SMP Negeri 1 STM Hulu memperoleh anggaran revitalisasi Rp3,4 miliar. Adapun SMA Swasta Bina Bangsa Tiga Juhar mendapat bantuan revitalisasi lebih dari Rp800 juta.
Sofyan sempat berseloroh bahwa mendapatkan kepercayaan masyarakat STM Hulu membutuhkan waktu bertahun-tahun.
“Ibu-ibu di STM Hulu ini susah juga mendapatkan cintanya. Saya butuh sepuluh tahun sampai akhirnya mereka jatuh cinta kepada saya,” ujarnya, disambut gelak tawa warga.
Perolehan suara Sofyan di STM Hulu memang meningkat dalam tiga pemilu terakhir. Dari 84 suara pada Pemilu 2014, perolehan suaranya naik menjadi sekitar 400 suara pada 2019 dan mencapai 2.045 suara pada Pemilu 2024.
Namun, Sofyan mengatakan jumlah suara bukan tujuan utama. Ia mengaku justru lebih sering mendatangi daerah-daerah yang memberikan sedikit suara kepadanya.
“Saya datang ke tempat yang suara saya rendah. Di Gunung Meriah dulu saya cuma dapat 15 suara. Setelah tiga kali pemilu baru naik jadi sekitar 150 suara. Tapi saya tidak menyerah karena masyarakatnya di sana lebih miskin dan lebih membutuhkan bantuan,” ujar legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara I itu.
Menurut Sofyan, pengabdian tidak semestinya diukur dari jumlah suara yang diperoleh. Ia ingin masyarakat sejahtera, baik mereka yang memilih maupun yang tidak memilihnya.
Di akhir pertemuan, Sofyan menyampaikan dua pesan kepada para orang tua. Ia meminta mereka mendorong anak-anak belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak dapat mengubah kehidupan keluarganya.
Pesan kedua, kata dia, adalah agar orang yang telah berhasil tidak lupa membantu orang lain.
“Bantulah orang miskin tanpa melihat suku, agama, maupun ras. Bantulah mereka karena penderitaannya,” ujar Sofyan.











