Bukan Belas Kasihan, Tapi Kekaguman: Karya Siswa SLB Batu Bara Curi Perhatian Pengunjung PRSU

Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Jalan Gatot Subroto, Medan, menghadirkan berbagai hasil kerajinan tangan siswa SLB yang menarik pemint banyak orang.
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Jalan Gatot Subroto, Medan, menghadirkan pemandangan yang berbeda. Bukan sekadar memamerkan hasil kerajinan, tetapi memperlihatkan bagaimana keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang untuk menghasilkan karya yang bernilai.

Di antara berbagai produk yang dipamerkan, songket khas Batu Bara menjadi magnet utama perhatian pengunjung. Kain tradisional tersebut ditenun langsung oleh empat siswa penyandang tuna rungu dari SLB Negeri Batu Bara dengan ketelitian dan kesabaran tinggi hingga menghasilkan karya berkualitas.

Mewakili Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Edy Junianto, Kamis (16/7/2026), mengatakan songket buatan para siswa itu telah mendapat respons positif dari masyarakat. Selama penyelenggaraan PRSU, empat lembar songket berhasil terjual.

Songket berbahan pakaian dipasarkan sekitar Rp450 ribu, sedangkan paket lengkap dengan selendang dijual Rp550 ribu per lembar. Menurut Edy, harga tersebut tergolong terjangkau jika dibandingkan dengan tingkat kerumitan motif, kualitas bahan, serta lamanya proses pengerjaan.

“Nilai sebuah songket bukan hanya terletak pada kainnya, tetapi juga pada ketekunan, kesabaran, dan keterampilan yang dituangkan selama proses pembuatannya,” ujarnya.

Kepala SLB Negeri Batu Bara, Siti Maryam, menjelaskan seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil pembelajaran keterampilan yang selama ini dikembangkan di sekolah. Tujuannya bukan hanya membekali siswa dengan kemampuan berkarya, tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan peluang ekonomi di masa depan.

Tidak hanya songket, Hall Disdik Sumut juga menampilkan beragam produk kreatif lainnya. Pengunjung dapat menemukan keranjang berbahan daur ulang kertas yang dijual sekitar Rp50 ribu, tandok mulai Rp10 ribu, hingga berbagai produk jahitan hasil karya siswa tuna rungu.

Kemampuan menjahit yang ditampilkan para siswa, di antaranya Farel dan Putri, menjadi bukti bahwa keterampilan mampu menembus berbagai keterbatasan. Setiap jahitan yang dihasilkan menunjukkan ketelitian, disiplin, dan kualitas yang tidak kalah dengan produk sejenis di pasaran.

Sementara itu, siswa tuna grahita juga menghasilkan keset yang dipasarkan seharga Rp17 ribu. Adapun siswa tuna daksa terus mengembangkan keterampilan sesuai potensi masing-masing. Sebagian bahkan aktif mengikuti pembinaan olahraga melalui National Paralympic Committee (NPC).

Saat ini SLB Negeri Batu Bara membina sekitar 200 siswa dengan beragam kebutuhan belajar, mulai dari tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa hingga sekitar delapan siswa autis. Pada tahun ajaran 2026, sekolah tersebut menerima 32 peserta didik baru yang didominasi siswa tuna grahita, tuna rungu, dan autis.

Menurut Siti Maryam, sekolah luar biasa tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh, berinteraksi, membangun komunikasi, serta mengembangkan potensi sesuai kemampuan masing-masing.

Khusus bagi siswa autis, lingkungan sekolah memberikan kesempatan untuk melatih kemandirian, memperkuat kemampuan bersosialisasi, dan membangun rasa percaya diri melalui berbagai aktivitas pendidikan maupun keterampilan.

Melalui Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara yang berada di bawah koordinasi Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Alexander Sinulingga, S.STP., M.Si., masyarakat diajak melihat langsung bahwa karya anak-anak berkebutuhan khusus layak mendapat apresiasi, bukan belas kasihan.

Pameran tersebut menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak mengenal batas fisik maupun intelektual. Yang dibutuhkan bukan sekadar simpati, melainkan kesempatan, dukungan, dan ruang agar setiap potensi dapat berkembang.

Di balik setiap helai songket, setiap jahitan, dan setiap kerajinan yang dipamerkan, tersimpan pesan kuat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru melalui tangan-tangan mereka, publik diajak memahami bahwa kemampuan sering kali lahir dari ketekunan, sementara penghargaan dari masyarakat menjadi energi terbesar agar karya-karya itu terus hidup. (DS/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *