BI Naikkan BI-Rate Demi Jaga Rupiah, Pengamat: Efektif Saat Ini, Tapi Belum Menjamin Tekanan Mereda

Gunawan Benjamin. (Dok.ABC)
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026 langsung mendapat respons positif dari pasar keuangan. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada dalam tekanan tercatat menguat setelah pengumuman kebijakan tersebut.

Dalam konferensi pers hasil RDG, Kamis (18/6/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran.

Namun, pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai efektivitas kebijakan tersebut kemungkinan hanya akan terasa dalam jangka pendek apabila tidak dibarengi dengan perbaikan faktor fundamental ekonomi dan koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas moneter dan fiskal.

“Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate memang berhasil memberikan sentimen positif kepada pasar dan meredam tekanan terhadap rupiah. Akan tetapi, masyarakat juga perlu memahami bahwa sumber tekanan terhadap rupiah saat ini sebagian besar berasal dari faktor eksternal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh Bank Indonesia,” sebut Gunawan kepada wartawan di Medan, Kamis (18/6/2026).

Menurut Gunawan, saat ini hampir seluruh bank sentral dunia sedang berlomba mempertahankan likuiditas dan menarik aliran modal ke negaranya masing-masing melalui kebijakan moneter yang relatif ketat.

Kondisi tersebut membuat persaingan memperoleh aliran dana global semakin ketat. Akibatnya, arus modal asing menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan tingkat imbal hasil instrumen keuangan di berbagai negara.

“Kita sedang berada dalam periode perebutan likuiditas global. Ketika bank sentral negara lain juga menaikkan suku bunga atau mempertahankan kebijakan yang hawkish, maka tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih akan tetap ada,” jelasnya.

Gunawan mencontohkan kebijakan moneter ketat yang masih diterapkan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) serta langkah Bank Sentral Jepang yang mulai menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam puluhan tahun terakhir.

Selain faktor eksternal, Gunawan juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan domestik yang perlu menjadi perhatian. Salah satunya adalah persepsi investor terhadap kondisi fiskal pemerintah dan prospek ekonomi nasional yang turut memengaruhi keputusan investasi jangka panjang.

Menurutnya, penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap kesehatan fiskal dan stabilitas ekonomi Indonesia dapat menjadi faktor penting yang menentukan arah aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

“Apabila terdapat perkembangan yang dinilai kurang positif oleh lembaga pemeringkat maupun investor global, maka tekanan terhadap rupiah bisa kembali meningkat meskipun BI telah menaikkan suku bunga,” katanya.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global juga masih menjadi faktor risiko yang sewaktu-waktu dapat memicu volatilitas pasar keuangan dan mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.

Karena itu, Gunawan menilai penguatan rupiah yang berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan instrumen moneter. Pemerintah juga perlu menjaga kredibilitas kebijakan fiskal agar kepercayaan investor tetap terjaga.

“Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi sangat penting. Jangan sampai seluruh beban menjaga stabilitas ekonomi hanya ditanggung Bank Indonesia. Sebab ruang kebijakan moneter juga memiliki batas,” ujarnya.

Bagi masyarakat, Gunawan menilai keputusan BI menaikkan suku bunga merupakan sinyal bahwa stabilitas ekonomi masih menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun masyarakat dan pelaku usaha juga perlu mencermati perkembangan ekonomi dunia karena tekanan terhadap rupiah masih berpotensi muncul sewaktu-waktu.

“Untuk saat ini rupiah memang merespons positif kebijakan BI. Tetapi ke depan yang akan menentukan adalah bagaimana fundamental ekonomi Indonesia mampu menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika global yang terus berubah,” tutup Gunawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *