NEWS  

Curiga Anaknya Dianiaya, Orang Tua Siswa SMA Negeri 6 Medan Minta Polisi Lakukan Ekshumasi

Suherman Koto dan istri, orang tua almarhum, Muhammad Fadillah (17), pelajar SMA Negeri 6 Medan. (Dok. ABC)
Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Suherman Koto tak mampu membendung tangis saat mengenang kondisi, Muhammad Fadillah (17), anak bungsunya meregang nyawa dengan kondisi penuh luka yang dianggap tak wajar. Sebab, banyak terdapat luka yang menurutnya janggal atau bukan korban kecelakaan tunggal seperti yang dikatahuinya dari pihak Polantas Polsek Medan Sunggal.

“Karenanya saya memohon sekiranya kasus yang menimpa anak saya ini bisa terang benderang. Jika memang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, saya ikhlas. Namun jika karena adanya penganiayaan, dunia akhirat saya tidak ikhlas,” ungkap Suherman Koto dengan emosional saat konferensi pers dengan wartawan di Medan, Selasa (9/9/2025) sore.

Didampingi sang istri dan tim pengacara, Suherman Koto menyampaikan ada beberapa kejanggalan terdapat di tubuh anaknya. Seperti adanya luka menganga di atas mulut (di bawah hidung) almarhum, luka seperti sayatan di kening, luka memar atau beram di pinggang, dan terdapat luka lainnya seperti patah lengan, patah pergelangan tangan, dan patah pada kaki.

“Kami sudah mendatangi lokasi kecelakaan, tapi kondisi jalanan yang katanya berlubang ternyata mulus, sepeda motor hanya rusak di bagian lampu belakang dan sayap. Helmnya pun mulus, tapi lihat lah sendiri luka di wajahnya,” bilang Suherman, dengan wajah pilu.

Anehnya, sudah hampir sebulan kejadian, tepatnya pada Jumat malam (15/08/2025) korban ditemukan tewas di Jalan Ring Road, dekat Simpang Jalan Setia Budi, Kota Medan, namun pihak Polisi Lalulintas (Polantas) Polsek Medan Sunggal, tidak memberikan hasil penyebab kasus tersebut.

Selain itu, orang tua almarhum juga membeberkan mengenai barang korban yang hilang. Seperti, Handphone (HP), serta dompet yang tak kunjung ada kabar dari polisi. “Anak kami pergi dari rumah dengan dijemput teman-teman sekolahnya jam 8 malam dan siang sekitar jam 2 kami mendapat kabar kalau anak saya sudah meninggal dan di Rumah Sakit Bina Kasih. Saat jenazah anak saya tiba di rumah, teman-teman yang 6 orang datang, salah satunya mengakui kalau HP anak saya sudah mereka rusak, dan ada yang bilang dibuang ke Jembatan Kanal. Sebenarnya ada apa?” beber Suherman dengan penuh kecurigaan.

Bapak dua anak yang berprofesi sebagai penjahit pakaian ini pun mengaku sudah memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, namun belum mendapatkan hasil perkembangan mengenai kematian anaknya. Apalagi mendapati kondisi luka parah disekujur tubuh anaknya. “Bahkan sewaktu mengambil jasad anak saya di rumah-sakit pun tidak ada penyerahan dari polisi atau keterangan apapun dari polisi. Sampai sekarang polisi nggak pernah menghubungi saya,” ucap Suherman dengan histeris.

Atas dasar itulah, tim kuasa hukum yang terdiri dari Edwin S. Pohan ST, SH, Zulkifli Lubis SH, Hafiz Zuhdi SH, dan Siti Junaidah SH, MKn melakukan berbagai upaya agar polisi mau membuka tabir kematian almarhum yang sebenarnya. “Kami sudah mempertanyakan kepada penyidik Polsek Sunggal, katanya hasil penyebab kematiannya sudah keluar, tapi kenapa sampai sekarang tidak diberikan kepada kami atau keluarga korban? Ada apa sebenarnya?” sebut, Edwin S. Pohan.

Upaya lainnya juga telah dilakukan tim kuasa hukum beserta keluarga. Seperti kembali menanyakan kasus tersebut dan meminta atensi ke Pokda Sumatera Utara, Polrestabes Medan, hingga Kapolsek Medan Sunggal, maupun Kanit Reskrimnya. “Namun belum ada kepastian. Polrestabes dan Polda Sumut yang kami tanyai katanya menunggu hasil dari penyidik Lalulintas Polsek Medan Sunggal. Makanya kami heran kenapa SP2HP atau hasil penyelidikan dari polsek belum ada kami terima,” ujar Edwin.

Bahkan tim kuasa hukum juga telah menyurati Presiden, Kompolnas, hingga Komisi III DPR RI agar mau membantu menyelesaikan masalah ini.

Melalui konferensi pers yang dilakukan, orang tua bersama keluarga almarhum dan tim kuasa hukumnya berharap kasus ini dapat mencuat dan menjadi perhatian serta atensi bagi pihak kepolisian agar membuka dan mengungkap kematian almarhum. “Karena orang tua almarhum siap untuk dilakukan otopsi dengan membongkar kubur almarhum (Ekshumasi),” tegas Edwin S. Pohan diamini orangtua korban.

Diketahui, Muhammad Fadillah (17) ditemukan tak bernyawa dengan kondisi luka di sekujur tubuhnya pada Jumat malam (15/08/2025) di Jalan Ringroad Medan. Siswa kelas 3 di SMA Negeri 6 Medan ini diinformasikan mengalami kecelakaan tunggal. Korban tergeletak sekitar 1 meter dari sepeda motornya.

Suherman Koto, orang tua almarhum didampingi istri mengatakan kalau anaknya itu pamit dari rumah dengan dijemput teman-teman sekolahnya. “Katanya cuma healing aja sama kawan-kawan. Terus saya kasih uang Rp cuma Rp 20 ribu, supaya mainnya gak jauh-jau,” kenang ibu korban.

Orang tua korban juga cerita biasanya almarhum selalu memfoto keberadaanya jika bepergian. Akan tetapi, menjelang larut malam, HP almarhum sudah tak aktif lagi. “Saya chat, cuma centang 1. Hp nya sudah gak aktif lagi dihubungi. Kami sudah berkeliling mencarinya, bahkan menanyakan ke temannya yang lain, tapi kata temannya yang dihubungi, anak saya sudah nggak bersama mereka sejam jam 10 malam,” terang ibu korban.

Padahal, selama hidup, menurut orang tua, almarhum tak pernah berperilaku aneh. Bisa dikatakan anak penurut dan tidak bermasalah. Maka dari itu pihak keluarga sangat terpukul dan berharap kematian anaknya bisa terang benderang. Mereka juga meminta polisi segera mengusut atas HP korban dengan memeriksa teman-teman almarhum. (Asn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *