EKBIS  

UPER Perkuat Kimia Hijau, Dorong Industri Indonesia Lebih Efisien dan Berkelanjutan

UPER memperkuat riset, pendidikan, dan kolaborasi multipihak untuk mendorong penerapan kimia hijau.
Share

Jakarta, Armada berita.Com — Transformasi menuju industri yang lebih ramah lingkungan tidak hanya membutuhkan teknologi baru, tetapi juga perubahan cara produksi agar lebih efisien dalam menggunakan bahan baku dan energi serta mampu menekan limbah. Salah satu pendekatan yang semakin penting adalah green chemistry atau kimia hijau.

Urgensi tersebut semakin besar mengingat industri pengolahan memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Pada 2025, sektor industri menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sekaligus menjadi salah satu sektor dengan konsumsi energi terbesar.

Melihat tantangan tersebut, Universitas Pertamina (UPER) memperkuat riset, pendidikan, dan kolaborasi multipihak untuk mendorong penerapan kimia hijau yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, akademisi, generasi muda, hingga mitra internasional. Langkah ini melanjutkan peran UPER sebagai koordinator nasional Global Greenchem Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia sejak 2024.

Salah satu program yang digelar adalah Green Chemistry for Industrial Excellence (GCIE) 2026 di Makassar pada Juli 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 50 pelaku industri dari 31 perusahaan dan institusi untuk membahas penerapan kimia hijau sekaligus mencari titik temu antara inovasi akademik dan kebutuhan industri.

Direktur Industri Kimia Hijau Kementerian Perindustrian, Wiwik Pudjiastuti, mengatakan penerapan kimia hijau dapat menjadi bagian penting dari transformasi industri karena tidak hanya berkaitan dengan pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga efisiensi produksi.

“GCIE menjadi ruang untuk membawa green chemistry dari pengetahuan menuju penerapan nyata di industri. Dengan proses yang lebih efisien dan penggunaan sumber daya yang optimal, industri dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing,” ungkap Wiwik dalam pembukaan seminar dan diskusi GCIE 2026.

Dari Kampus ke Kebutuhan Industri

Penguatan ekosistem kimia hijau juga diarahkan untuk mendorong generasi muda memahami persoalan industri sekaligus mampu menawarkan solusi berbasis pengetahuan.

Melalui Greenovate Challenge 2026: Green Chemistry Policy Challenge, peserta ditantang menyusun policy brief mengenai pengembangan industri bioetanol nasional.

Persoalan yang diangkat mencakup ketersediaan bahan baku, pengembangan teknologi, hingga optimalisasi rantai pasok. Dengan format tersebut, peserta tidak hanya dituntut memahami konsep kimia hijau, tetapi juga melihat keterkaitan antara teknologi, industri, ekonomi, dan kebijakan.

Director of Accelerator Program GGINP Indonesia sekaligus Dosen Kimia UPER, Dr. Eng. Paramita Jaya Ratri, M.Si., S.Si., mengatakan keterlibatan generasi muda dibutuhkan untuk menghadirkan perspektif baru terhadap tantangan industri.

Menurutnya, peserta perlu belajar menerjemahkan pengetahuan ilmiah menjadi rekomendasi yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan industri maupun kebijakan.

Guru Jadi Penggerak Literasi Kimia Hijau

Penguatan kimia hijau tidak hanya menyasar industri dan mahasiswa. UPER juga membawa konsep tersebut ke lingkungan sekolah melalui peningkatan kapasitas guru.

Dalam GCIE 2026, sebanyak 38 guru kimia dari 32 SMA dan sederajat di Makassar mendapatkan pembekalan mengenai pendekatan pembelajaran kimia hijau yang kontekstual, aman, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Materi tidak berhenti pada teori. Guru diajak melakukan praktikum menggunakan bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti kol ungu dan bunga telang sebagai indikator pH.

Pendekatan sederhana tersebut menunjukkan bahwa prinsip kimia hijau dapat diperkenalkan melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa dapat memahami bahwa ilmu kimia tidak hanya berkaitan dengan laboratorium dan rumus, tetapi juga memiliki peran dalam menjawab persoalan lingkungan dan keberlanjutan.

Mempertemukan Riset dengan Kawasan Industri

Kolaborasi juga diperluas melalui penandatanganan nota kesepahaman antara UPER, PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA), dan Universitas Hasanuddin.

Kemitraan tersebut diarahkan untuk membuka peluang pengembangan riset dan inovasi kimia hijau yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kawasan industri dinilai penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan dan diuji dalam konteks penggunaan nyata.

Sejak ditunjuk sebagai koordinator nasional GGINP Indonesia pada 2024, UPER telah mengembangkan berbagai inisiatif untuk memperluas penerapan kimia hijau melalui jejaring pemerintah, industri, akademisi, dan mitra global.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan posisi UPER yang dekat dengan ekosistem energi dan industri menjadi modal untuk memperkuat riset terapan.

“UPER memiliki kekuatan pada kedekatan dengan ekosistem industri, khususnya sektor energi dan teknologi. Ke depan, kami ingin memperluas riset bersama industri, mendorong pengembangan dan uji coba inovasi kimia hijau, serta melibatkan mahasiswa dalam mencari solusi atas persoalan nyata di industri,” ujar Prof. Ichsan.

Menurut dia, keberadaan GGINP Indonesia diharapkan dapat memperpendek jarak antara inovasi yang lahir di perguruan tinggi dengan kebutuhan di lapangan.

“Melalui GGINP Indonesia, kami ingin inovasi yang lahir dari kampus semakin dekat dengan penerapan dan memberikan nilai tambah bagi industri,” katanya.

Pengembangan kimia hijau pada akhirnya bukan semata-mata soal mengganti bahan kimia atau mengurangi limbah. Pendekatan ini mendorong perubahan sejak tahap perancangan proses produksi agar penggunaan sumber daya lebih efisien, risiko terhadap manusia dan lingkungan dapat ditekan, serta produk yang dihasilkan tetap memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, sekolah, dan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri berkelanjutan. Dari ruang kelas hingga kawasan industri, kimia hijau dapat menjadi salah satu jalan untuk memastikan pertumbuhan industri berjalan beriringan dengan efisiensi dan tanggung jawab terhadap lingkungan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *