NEWS  

Hati-hati Ada Jambret Berkedok Calo Angkot di Amplas, Ustadz Muda Nyaris Jadi Korbannya

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Warga Medan dan sekitarnya diharap lebih berhati-hati dan waspada bila sedang menunggu angkutan kota (Angkot) atau saat berada di bawah jembatan layang simpang Amplas, Medan.

Pasalnya, pelaku rampok diduga rawan disana. Salah seorang ustadz muda nyaris jadi korbannya, Sabtu (20/6/2020) sekira pukul 17.30 WIB.

Kepada wartawan, Senin (22/6/2020) pagi, Ustadz Raja Tiar Sirait S.HI, warga Perumahan Emplasmen Kebun Rambutan di Jalan Lintas Sumatra, bercerita tentang kisahnya yang nyaris jadi korban.

“Hari Sabtu sore itu, saya mau menghadiri pertemuan di Pesantren Al Kautsar Al Akbar Jalan Pelajar ujung Medan,” katanya.

Dari Perkebunan Rambutan sang Ustad muda yang juga Nazir mesjid Kebun Rambutan, menumpang Bus Rajawali menuju Medan dari Tol. Keluar pintu Tol Amplas, kemudian turun di bawah jembatan layang lalu menyeberang Jalan Patumbak bermaksud menumpang Angkot KPUM 07. Ia pun segera naik.

Pada saat berada di dalam Angkot yang penumpangnya hanya berdua, tiba-tiba masuk seorang laki-laki sambil mengatakan Tembung, Tembong. Karena tidak ada rasa curiga, sang ustad santai saja sambil tersenyum kepada laki laki tersebut.

Rupanya, secara tiba-tiba pria yang menyaru sebaga calo penumpang langsung merampas satu unit Handphone yang sedang dipegang sang ustadz dan langsung berlari ke arah temannya yang sudah stand by di atas sepeda motor.

“Saya kira calo calo biasa aja. Solanya pas waktu aku duduk di dalam Angkot 07 itu, aku lihat laki-laki tersebut cakap-cakap dengan supir Angkot yang kutumpangi, trus dia masuk ke dalam angkot sambil bilang Tembong, Tembong. Lalu tiba-tiba menjambret HP yang ku pegang, terkejut kali aku,” terang ustad Raja Tiar.

Menyadari bahwa ia telah menjadi korban penjambretan, ustadz Raja Tiar alumni Pesantren dan jebolan kampus UIN-SU ini mengejar pelaku hingga ke sepeda motor pelaku yang sudah menunggu.

Berbekal ilmu bela diri yang dipelajari selama di Pesantren, ustadz Raja Tiar menendang sepeda motor itu hingga kedua pelaku terjatuh lalu memegang pelaku penjambret dan berhasil mengambil kembali Handphone miliknya.

Meski berhasil menangkap pelaku, sambung pria 27 tahun yang kesehariannya menjadi imam mesjid ini merasa aneh.

“Saya heran juga sama warga sekitar l, kok gak ada yang mau membantu pada hal pelaku sudah berhasil ku tangkap. Malah ada yang marah sama ku sambil bilang ganti keretanya (sepeda motor pelaku) itu rusak kau buat,” herannya.

Melihat situasi tidak menguntungkan, ustadz Raja Tiar pun meninggalkan TKP dan berhasil mengambil kembali HP milinya dari pelaku jambret.

Meski gagal jadi korban penjambretan, namun ia sangat menyayangkang kenapa di daerah rawan seperti itu tidak ditempatkan personil Polri. Ia pun merasa sedih dan kasihan bila ada korban lainnya yang lemah jadi sasaran pelaku.

Maka dari itu, ia pun berharap agar Kapolda Sumatera Utara dan jajarannya agar benar-benar menepati slogannya yang berbunyi “Tak ada tempat bagi pelaku kejahatan di Sumut” supaya jangan cuma janji dan tidak menjadi dosa.

Bahkan ia mengaku sempat mendatangi Polsek Patumbak guna melaporkan kejadian yang menimpanya.

“Sempat jumpa sama petugas Reskrim marga Manurung, namun dikarenakan HP nya tidak berhasil dibawa pelaku maka tidak dibuatkan LPnya. Petugas hanya ngecek aja mungkin ke lokasi. Saya juga mohon agar ditempat tersebut ada selalu personil Polri,” pungkasnya. (Bes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *