Medan, ArmadaBerita.Com
Berangsur memulihnya Pandemi Covid-19 merupakan salah satu pemicu perbaikan segi ekonomi nasional termaksud di Sumatera Utara. Sebab, mobilitas yang meningkat mendorong konsumsi.
Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Utara (BI KPw Sumut) menerangkan, peningkatan nilai konsumsi terkonfirmasi dari peningkatan indeks eceran. Indikasi perbaikan dunia usaha juga tercermin dari hasil survei kegiatan dunia usaha yang mengalami peningkatan, terutama di sektor perdagangan, industri pengolahan dan konstruksi.
“Di Sumut juga seperti nasional. Dari sisi pertumbuhan ekonomi masih berlanjut di keseluruhan tahun 2022. Meski pelan tapi berlanjut,” kata Kepala BI Sumut, Doddy Zulverdi saat mengadakan Bincang Bareng Media (BBM) yang diselenggarakan secara tatap muka di Gedung BI dan secara online, Selasa (26/4/2022) pagi.
Kenaikan ekonomi Sumut ini menurut Doddy, didukung karena mobilitas masyarakat terus berlanjut, sehingga memicu penjualan eceran meningkat dan permintaan juga meningkat. Dari survei kepada pelaku usaha dan pedagang juga meningkat. Begitu juga kepada konsumen yang terus meningkat membaik.
“Jadi Sumatera Utara dari segi ekonomi kondisinya bagus dan meningkat serta tetap terkendali. Begitu pula hubungan kondisi ekonomi global dan Sumut,” imbuh Dody.
Bahkan, BI Sumut memperkirakan kalau perekonomian Sumatera Utara tahun 2022 ini, tumbuh lebih tinggi dari tahun 2021 dengan kisaran 3,7 — 4,5 persen.
“Pertumbuhan tersebut didorong oleh kian pulihnya mobilitas dan konsumsi masyarakat, tetap tingginya harga komoditas ekspor, serta berlanjutnya program PEN seperti KUR 3%, insentif bantuan tunai, dan insentif PPN-DTP (Ditanggung Pemerintah) di sektor properti, hingga Optimalisasi, dan efektivitas realisasi anggaran Pemerintah Daerah, sehingga dapat mendukung ekonomi daerah,” jelas Doddy.
Peningkatan ekonomi Sumut menurut Doddy berdasarkan sisi pengeluaran (konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, net ekspor) diproyeksikan adalah merata. Namun dari sisi lapangan usaha (pertanian/perkebunan, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan) akan meningkat karena masih meningkat secara global.
“Namun perlu diwaspadai sejumlah faktor yang dapat menahan pertumbuhan ekonomi seperti merebaknya varian baru Covid-19 hingga dampak geopolitik internasional (Ukraina-Rusia) yang berkepanjangan yang dapat mengakibatkan investor bersikap wait and see,” ungkap Doddy Zulverdi. (ASN)











