Utama  

Dari Kuliner Sampai Fesyen, Sofyan Tan Bongkar Jurus Jitu UMKM Taklukkan Pasar Digital!

Share

Medan, Armadaberita.com – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, mendorong para pelaku UMKM agar lebih cerdas membaca peluang pasar digital. Ia menekankan bahwa strategi media sosial yang tepat dapat menjadi kunci untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis BRIN bertema “Pelatihan Strategi Media Sosial untuk UMKM” yang digelar di Four Points by Sheraton Medan, Jalan Gatot Subroto pada Jumat (20/2), bersama BRIN.

Menurutnya, penggunaan media sosial bukan sekadar mengunggah foto atau video, melainkan strategi yang harus disusun layaknya “jurus” agar produk UMKM bisa menembus pasar yang lebih besar.

Ia menyoroti potensi besar Indonesia, mulai dari kekayaan alam, hasil laut, hingga kesuburan tanah. Namun menurut Sofyan Tan, hal yang belum maksimal adalah kesungguhan bekerja dan peningkatan kualitas pendidikan para pelaku usaha.

Dalam paparannya, ia menjelaskan, pasar terbesar UMKM selalu berasal dari kebutuhan paling dasar masyarakat, seperti sektor kuliner. Karena semua orang butuh makan, pelaku usaha makanan memiliki peluang besar jika dikelola dengan tekun dan kreatif.

Selain kuliner, sektor fesyen juga dinilai stabil dan terus tumbuh. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan masyarakat—terutama perempuan—untuk tampil berbeda di setiap momen membuat permintaan pakaian selalu hidup. Apalagi di era media sosial, gaya yang monoton dapat membuat orang cepat bosan.

Tak hanya soal produk, ia menekankan pentingnya storytelling dalam konten digital. Narasi humanis yang dekat dengan keseharian jauh lebih digemari dibandingkan konten bernuansa politik.

Ia juga mengingatkan, setiap platform memiliki karakter pengguna yang berbeda. Facebook banyak digunakan kalangan orang tua, Instagram digandrungi milenial dan Gen Z, sementara TikTok menjadi pusat perhatian generasi muda. Karena itu, gaya konten harus disesuaikan dengan segmentasinya.

Dari pihak BRIN, hadir narasumber Farly Shabahul Khairi yang menegaskan komitmen BRIN membantu UMKM naik kelas. Ia menyebut 60 persen UMKM masih menjalankan usaha secara tradisional, termasuk teknik pengemasan yang belum layak jual.

Ia mencontohkan produk keripik yang masih dibungkus plastik tipis dan dipanaskan dengan lilin, sehingga kualitas dan daya tahannya rendah. BRIN, katanya, mendorong perubahan dengan inovasi teknologi agar produk UMKM mampu bersaing bahkan sampai ke pasar negara tetangga.

Digitalisasi, inovasi produk, dan variasi rasa/kemasan disebutnya sebagai elemen penting agar UMKM tidak tertinggal di tengah persaingan yang makin ketat.

Melalui pelatihan ini, diharapkan pelaku UMKM di Medan dan sekitarnya dapat memahami pentingnya analisis pasar, pengemasan modern, serta pemilihan platform media sosial yang tepat. Dengan itu, potensi besar Indonesia dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *