Deli Serdang, ArmadaBerita.Com – Di sebuah rumah sederhana di Gang Bersama, Dusun VI, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, hidup seorang perempuan renta bernama Asnah. Usianya sekitar 80 tahun. Tubuhnya tak lagi mampu berdiri tegak sejak beberapa tahun terakhir. Untuk sekadar makan pun, ia kerap kesulitan.
Kisahnya viral di media sosial. Wajahnya yang layu dan sorot mata yang redup mengetuk nurani banyak orang. Dalam sebuah bisikan lirih yang terekam, ia menyampaikan harapan sederhana: didengar dan diperhatikan.
“Nenek minta Pak Bupati Asri Ludin mendengar suara saya. Tolong bantu nenek, buat makan saja kesulitan,” ucapnya pelan.
Sejak saat itu, perhatian mulai berdatangan. Salah satunya dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pasukan 08 Sumatera Utara.
Kunjungan Penuh Haru di Bulan Ramadhan
Jumat (27/2/2026) siang itu terasa berbeda di rumah kecil Nek Asnah. Rombongan DPD Pasukan 08 Sumut yang dipimpin Ketua Junstar Ritonga, SH, datang langsung menembus gang sempit menuju kediamannya.
Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana haru. Nek Asnah yang tinggal bersama putrinya, Umi, menyambut kedatangan mereka dengan mata berkaca-kaca. Dalam kesempatan itu, Junstar Ritonga menyerahkan bantuan berupa kebutuhan pokok berupa: beras, gula pasir, minyak goreng, bubuk teh, mie instan berbagai merek, sirup, susu kaleng, minuman cokelat, serta sembako lainnya.
“Ini adalah wujud kepedulian Pasukan 08 Sumut terhadap sesama. Kami tidak ingin hanya melihat dari media sosial, tetapi turun langsung memastikan kondisi Nek Asnah dan memberikan bantuan yang bisa kami lakukan,” jelas Junstar.
Menurutnya, aksi sosial tersebut menjadi lebih bermakna karena dilakukan di bulan Ramadan, bertepatan pula dengan hari Jumat. “Apalagi ini bulan Ramadan dan di hari Jumat pula. Sedikit kami berbagi di Jumat Barokah,” katanya.
Ia menyebutkan, kunjungan itu juga merupakan arahan dari Dewan Pembina DPD Pasukan 08 Sumut, H. Herry Lotung Siregar, tokoh nasional yang dikenal sebagai paman Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution.
Viral yang Menggerakkan Hati
Viralnya kisah Nek Asnah di media sosial, menurut Junstar, seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap kondisi warga kurang mampu di lingkungan masing-masing. “Kisah seperti ini tidak boleh hanya menjadi konsumsi media sosial. Harus ada tindakan nyata,” ujarnya.
Ia juga menyinggung peristiwa memilukan di Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika seorang siswa sekolah dasar dikabarkan bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan alat tulis. Kasus tersebut sempat menjadi perhatian nasional dan mendapat respons dari pemerintah pusat.
“Jangan sampai ada lagi kejadian seperti itu. Kita semua punya tanggung jawab moral untuk saling peduli,” harapnya.
Kisah Nek Asnah, lanjutnya, menjadi gambaran bahwa masih ada warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian serius, baik dari pemerintah daerah maupun dari masyarakat sekitar. Terutama mereka yang sudah tidak memiliki kemampuan bekerja dan bergantung sepenuhnya pada orang lain untuk bertahan hidup.
Harapan Sederhana: Kursi Roda
Di tengah kunjungan tersebut, Umi, putri Nek Asnah, tak kuasa menahan haru. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan.
“Terima kasih, Pak, atas kepedulian dan perhatiannya terhadap orang tua saya. Kami tak bisa membalasnya. Doa kami semoga Allah SWT membalas kebaikan bapak dan pengurus lainnya dengan berlipat-lipat ganda,” ujarnya.
Namun di balik rasa syukur itu, ada satu harapan yang masih tersisa: kursi roda.
Umi berharap ibunya bisa mendapatkan kursi roda agar setidaknya dapat bergerak lebih leluasa di dalam rumah.
“Kalau ada kursi roda, ibu bisa lebih mudah bergerak,” katanya pelan.
Kisah Nek Asnah bukan sekadar cerita tentang kemiskinan atau penderitaan seorang lansia. Ia adalah cermin tentang bagaimana empati sosial diuji di era digital, di mana ketika sebuah video singkat bisa menyentuh ribuan orang, namun yang dibutuhkan adalah langkah nyata di dunia nyata.
Di ujung gang kecil itu, air mata Nek Asnah siang itu bukan hanya tentang kesedihan. Ada rasa didengar. Ada secercah harapan.
Dan mungkin, dari rumah sederhana di Desa Bandar Setia itu, kita diingatkan kembali bahwa kepedulian tidak selalu harus besar. Kadang, ia cukup dimulai dengan datang, melihat, dan mengulurkan tangan. (*)











