Logistik Sumut Mulai Pulih, Arus Peti Kemas Tumbuh 5% di Awal 2026

Arus Throughput PMT. (Ist)
Share

Belawan, ArmadaBerita.Com – Aktivitas logistik di Sumatera Utara mulai menunjukkan tren pemulihan pada awal 2026. Di tengah tekanan rantai pasok global dan ketidakpastian perdagangan internasional, arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung justru mencatatkan pertumbuhan positif.

Direktur Utama PT Prima Multi Terminal (PMT), Rudi Susanto, menyampaikan pada Maret 2026 bahwa perbaikan arus barang menjadi sinyal awal membaiknya aktivitas ekonomi daerah.

“Kami melihat adanya perbaikan arus barang, khususnya untuk komoditas ekspor dan distribusi antardaerah. Ini menunjukkan aktivitas industri mulai kembali bergerak, walau pelaku usaha tetap berhati-hati menghadapi dinamika global,” terangnya Rudi dalam siaran persnya kepada wartwan, Kamis (30/4/2026).

Berdasarkan data PMT hingga Maret 2026, volume peti kemas tercatat mencapai 168.478 TEUs atau tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini mencerminkan mulai pulihnya distribusi barang, terutama untuk kebutuhan domestik dan ekspor dari wilayah barat Indonesia.

Kontribusi terbesar datang dari Terminal 1 Belawan yang masih menjadi tulang punggung arus logistik domestik. Volume peti kemas domestik tercatat sebesar 152.452 TEUs, meningkat 5 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh stabilnya distribusi barang konsumsi dan bahan baku industri, seiring daya beli masyarakat yang relatif terjaga.

Sementara itu, pertumbuhan signifikan terjadi di Terminal 2 Kuala Tanjung, khususnya pada segmen internasional. Hingga Maret 2026, arus peti kemas internasional mencapai 5.579 TEUs, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh bertambahnya layanan pelayaran serta meningkatnya aktivitas ekspor dari kawasan industri di Sumatera.

Di sisi operasional, PMT juga mencatat peningkatan efisiensi layanan. Rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 85,95 persen. Sementara di Kuala Tanjung, rasio ET/BT internasional tercatat sebesar 75,57 persen dan domestik 66,74 persen, yang seluruhnya menunjukkan tren perbaikan.

Perusahaan melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan kinerja, mulai dari penataan area penumpukan, optimalisasi peralatan bongkar muat, hingga penguatan koordinasi operasional. Efisiensi ini dinilai krusial dalam menjaga daya saing pelabuhan di tengah kompetisi regional yang semakin ketat.

Selain faktor internal, dukungan kebijakan pemerintah dalam menekan biaya logistik nasional serta mendorong ekspor berbasis hilirisasi turut berkontribusi terhadap pertumbuhan tersebut. Meski demikian, pelaku industri masih dihadapkan pada tantangan berupa fluktuasi permintaan global dan ketidakpastian ekonomi di sejumlah negara mitra dagang.

Dari sisi keselamatan, PMT juga memperkuat implementasi program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Upaya ini dilakukan melalui standardisasi peralatan, inspeksi berkala, serta pelatihan tenaga kerja dengan target nihil kecelakaan.

Rudi menegaskan, peran pelabuhan semakin strategis dalam menjaga kelancaran distribusi dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

“Keandalan layanan pelabuhan akan berpengaruh langsung terhadap efisiensi logistik dan daya saing industri. Karena itu, peningkatan kinerja harus dilakukan secara konsisten,” kata dia.

Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional, Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung diproyeksikan terus berkembang sebagai simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok nasional di tengah dinamika global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *